sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Sejarawan: Orba gunakan narasi PKI untuk kepentingan politis

Peristiwa 1965 bukan sekadar peralihan kekuasaan di tingkat pemerintah pusat, tetapi juga perebutan kekuasaan di berbagai lapisan masyarakat

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Selasa, 29 Sep 2020 11:33 WIB
Sejarawan: Orba gunakan narasi PKI untuk kepentingan politis
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Peneliti Sejarah 1965 Grace Leksana mengungkapkan, narasi rezim orde baru terkait kekerasan 1965 perlu diawetkan sebagai memori kolektif masyarakat, karena serangkaian peristiwa setelahnya. Selain itu, ketika mengulik sejarah suatu daerah tertentu terkait peristiwa 1965, terkadang juga merujuk pada masa lalunya.

Dalam disertasinya yang berjudul Embedded Remembering; Memory Culture of 1965 Violence in East Java’s Agrarian Society, pada saat itu masyarakat pedesaan di Kabupaten Malang Selatan, Jawa Timur, melestarikan narasi PKI rezim orde baru karena kepentingan politis.

Akibatnya, peristiwa 1965 bukan sekadar peralihan kekuasaan di tingkat pemerintah pusat, tetapi juga perebutan kekuasaan di berbagai lapisan masyarakat. “Ingatan (terkait peristiwa 1965) yang muncul sangat terkait dengan apa yang terjadi di desa itu. Bagaimana orang yang bisa dikatakan pelaku, orang-orang yang turut berperan membantu dalam operasi pembersihan PKI. Entah itu sebagai tim skrining atau membantu menggeruduk rumah-rumah penduduk desa. Itulah sebabnya penting sekali bagi mereka untuk mempertahankan narasi orde baru, karena berkaitan dengan posisi (jabatan) mereka dapatkan setelah kekerasan itu terjadi,” ujar Grace dalam diskusi virtual, Selasa (29/9).

Doktor Sejarah Alumnus Universiteit Leiden Belanda ini, mengungkapkan, para pelaku yang berperan dalam operasi pembersihan PKI banyak yang mendapatkan jabatan baru. Misalnya, sebagai sekretaris desa atau pamong desa-yang sebelumnya dijabat orang-orang yang dituding PKI. Sehingga, mereka memiliki kepentingan mempertahankan narasi PKI yang juga dilakukan rezim orde baru.

Sponsored

Sedangkan orang-orang kehilangan tanah hingga terstigma PKI setelah peristiwa 1965 menganggapnya sebagai ingatan yang tidak benar. “Narasi-narasi itu tidak benar dan (mereka) tidak setuju dengan narasi yang dikatakan negara,” tutur Grace.

Di sisi lain, pada saat itu ada juga cerita terkait merawat memori kolektif 1965 dengan membangun sebuah monumen untuk memperingati empat polisi yang gugur akibat peristiwa pemberontakan PKI di Madiun 1948. Namun, peristiwa kematian empat polisi karena pemberontakan PKI tersebut sulit sekali diverifikasi kebenarannya.

“Saya tidak menemukan catatan tentang peristiwa ini. Untuk apa dibangun monumen yang sebenarnya kejadiannya juga tidak jelas itu,” ujar Grace.

Berita Lainnya