sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Setengah hati gaya hidup berbasis energi listrik

Kebijakan gaya hidup berbasis energi listrik disebut-sebut tak menyentuh masyarakat bawah.

Fery Darmawan
Fery Darmawan Jumat, 08 Mar 2024 15:17 WIB
Setengah hati gaya hidup berbasis energi listrik

Beberapa tahun belakangan, PT. PLN mengkampanyekan penerapan gaya hidup baru serba listrik atau electrifying lifestyle. Alasannya, pemanfaatan energi listrik dianggap jauh lebih ramah lingkungan jika dibandingkan penggunaan bahan bakar fosil.

Electrifying lifestyle merupakan gaya hidup baru dengan menggunakan peralatan serba elektrik yang bebas emisi, seperti sepeda motor listrik, mobil listrik, kompor induksi, dan lain-lain. Gaya hidup serba listrik ini erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Sejumlah warga sudah beralih ke energi listrik.

Nicko Kacitha, 26 tahun, misalnya. Ia beralih menggunakan mobil listrik karena alasan lebih ramah lingkungan dan hemat.

“Kalau saya beli bensin tiap hari bisa habis Rp200.000 atau Rp300.000, sedangkan menggunakan mobil listrik cost-nya enggak sampai Rp100.000,” kata Nicko yang bekerja sebagai pengusaha itu kepada Alinea.id, Kamis (7/3).

Nicko bukan cuma menggunakan mobil listrik. Ia pun beralih dari kompor gas ke kompor listrik. Andri Fadhil Petrucci Maulana, 24 tahun, juga beralih ke energi listrik. Ia merasa terbantu dengan adanya subsidi pembelian kendaraan listrik dari pemerintah.

“Mobil listrik yang saya gunakan mengurangi polusi udara. Penggunaan bahan bakar listrik pun meminimalisir pengeluaran saya,” ujar warga Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang yang bekerja sebagai trader saham itu, Kamis (7/3).

Namun, Andri mengeluh infrastruktur pengisian daya listrik untuk mobilnya masih sulit ditemukan di kota-kota kecil. “Saya tinggal di BSD Tangerang sendiri masih kurang (infrastruktur) untuk pengisian bahan bakar listrik,” tutur Andri.

Menanggapi gaya hidup berbasis energi listrik, pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah Prawiraharja mengatakan, hal itu banyak pengaruh positif bagi masyarakat. Electrifying lifestyle, kata dia, dapat membantu pekerjaan masyarakat dan mengurangi polusi. Akan tetapi, menurutnya, pemerintah masih setengah hati dalam menerapkan kebijakan peralihan ke energi listrik.

Sponsored

“Seperti gimmick saja. Padahal, kita tahu sekarang listrik itu mahal,” kata Ketua Umum Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia tersebut, Kamis (7/3).

Demi mewujudkan gaya hidup baru serba listrik itu, Trubus menuturkan, perlu dukungan pemerintah berupa subsidi. Termasuk subsidi benda-benda berbahan bakar listrik.

“Contohnya kayak mobil listrik dan kompor listrik,” ujar Trubus.

“Tantangan pemerintah saat ini, bagaimana cara mengubah pola masyarakat awam yang tidak mengenal energi listrik.”

Meski begitu, Trubus menjelaskan, masyarakat menengah ke bawah sangat sulit melakukan perpindahan atau migrasi dari peralatan serba gas menuju energi listrik. Sebab, biayanya mahal.

“Contohnya tukang ojek dan tukang bakso, uang dari mana mereka? Bagaimana mereka membeli (peralatan berbasis listrik)? Tentunya mereka enggak kuat (membiayai),” ujar Trubus.

Penduduk di perdesaan, ujar Trubus, juga biasanya hanya menggunakan daya listrik kurang lebih 700 watt. Sedangkan kompor listrik dayanya bisa mencapai 1.000 watt. “Itu baru kompor listrik, belum yang lain,” kata dia.

“Jadi, orang bakal mikir-mikir dulu untuk melakukan perpindahan dari hal yang biasa menuju electric lifestyle.”

Lebih lanjut, karena alasan-alasan tadi, Trubus menegaskan, electrifying lifestyle justru malah membebankan warga yang tak mempunyai uang. “Nyatanya, mau dia menggunakan listrik atau tidak, ekonomi masyarakat Indonesia masih begitu-begitu saja,” ucap Trubus.

Untuk mewujudkan electrifying lifestyle, menurut Trubus, perlu didukung dengan infrastruktur yang memadai. Misalnya, tempat mengisi daya listrik bagi pengguna kendaraan listrik. “Di Jakarta saja masih sedikit kok pemberhentian untuk mengisi (daya) mobil listrik,” tutur Trubus.

“Pemerintah masih harus mengembangkan fasilitas-fasilitas umum dulu.”

Selain itu, Trubus mengatakan, perlu pula dukungan kebijakan pemerintah, seperti memberikan diskon atau subsidi yang bisa dipenuhi semua kalangan. “Tak hanya kalangan menengah ke atas saja. Lihat juga kalangan bawahnya,” ujar dia.

“Karena enggak semua orang Indonesia mampu untuk membeli barang (berbasis energi listrik) tersebut.”

Berita Lainnya
×
tekid