sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Spirit doll: Dari santet hingga pernikahan boneka arwah

Dalam sejarahnya, sebelum spirit doll viral, di Indonesia dikenal boneka sebagai media ritual, upacara, dan permainan mistis.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Rabu, 12 Jan 2022 06:06 WIB
<i>Spirit doll</i>: Dari santet hingga pernikahan boneka arwah

Baru-baru ini, desainer dan pembawa acara Ivan Gunawan menyatakan, ia telah menghibahkan spirit doll atau boneka arwah miliknya, setelah sempat viral dan menjadi polemik. Ivan merasa terganggu dengan pro-kontra yang terjadi.

Beberapa waktu lalu, tren merawat spirit doll memang mengemuka lantaran sejumlah selebritas membuat konten di media sosial, terutama YouTube, yang memperlihatkan mereka “memelihara” boneka layaknya seorang anak. Selain Ivan, nama Celine Evangelista, Furi Harun, dan Sarwendah—istri Ruben Onsu—disebut memiliki boneka arwah.

Menurut peneliti Jenny Fisher dalam “The Art of Creating a Spiit Doll” di situs web Collage of Complementary Medicine, kebudayaan di seluruh dunia punya tradisi membuat boneka, yang direpresentasikan sebagai manusia dan menjadi mainan anak-anak.

“Kemungkinan boneka adalah mainan tertua di dunia karena ada buktinya dalam artefak budaya kuno,” tulisnya.

Sementara banyak yang menganggap boneka hanya mainan, ada pula yang menggunakannya sebagai media penyembuhan, upacara, voodoo, atau ritual pagan. Sepanjang sejarah, ujar Fisher, boneka sudah dimanfaatkan untuk tujuan positif atau mencerahkan dan tujuan negatif atau gelap.

Ritual dan penolak bala

Seturut dengan voodoo, masyarakat Nusantara mengenal ilmu sihir dengan media boneka—walau tak jarang menggunakan rambut, telur, kuku, atau foto—itu dengan istilah teluh atau santet.

Aminuddin Kasdi dalam tulisannya “Kasus Dukun Santet di Jawa Timur” di buku Bunga Rampai Sejarah Lokal: Kerawanan Sosial dalam Perspektif Sejarah (2006) menyebut, secara arkeologis dugaan perilaku mendekati santet terlacak dari masa mesoltikum, dengan bukti gambar lukisan babi dipanah di Gua Leang-leang, Sulawesi Selatan dan lukisan telapak tangan di Gua Abba, Papua.

“Gambar-gambar itu adalah lambang perilaku magisympathetic, yakni perilaku khusus yang ditargetkan pada sasaran,” tulis Aminuddin.

Sponsored

Ilustrasi boneka voodoo. Foto Pixabay.com.

“Ritual yang semula bersifat produktif, tetapi besarnya kepentingan dan langkanya persediaan sumber daya, kemudian disalahgunakan untuk mencelakakan saingan.”

Kisah santet pun muncul dalam sumber sejarah tradisional, seperti Babad Tanah Jawi. Aminuddin menjelaskan, di lingkungan penduduk asli Banyuwangi, yakni orang Osing, santet sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari dari suku campuran Jawa kuna dan Bali.

Boneka dalam tradisi di Indonesia juga dikenal sebagai media ritual dan penolak bala. Contohnya ondel-ondel—yang dahulu disebut barongan—sebelum menjadi boneka raksasa meramaikan pesta rakyat dan ngamen, dijadikan penolak bala. Pembuatannya pun tak sembarangan.

“Ondel-ondel membutuhkan sesajen berisi bubur merah-putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga tujuh macam, serta asap kemenyan,” tulis Dudi Duta Akbar dalam buku Perkampungan Budaya Betawi dalam Hitam Putih (2019),

“Ketika selesai dibuat, ondel-ondel akan tetap diberikan sesajen dan dibasuh dengan asap kemenyan, disertai mantra-mantra.”

Di Toraja Timur, upacara kematian pun memakai boneka sebagai media pengantar arwah ke tempat tertinggi (wawomaborosi). Harun Hadiwijono dalam buku Religi Suku Murba di Indonesia (2006) menulis, tulang-tulang orang yang sudah meninggal dibungkus dalam perwujudan banyak boneka, yang dikenakan pakaian indah dan topeng kayu.

Selama tiga malam berturut-turut, boneka berisi tulang itu ditempatkan di rumah orang yang meninggal tersebut. Lalu, semalam suntuk para imam memanggil arwah keluar dari torate (tempat peristirahatan sementara di bawah bumi) untuk hadir ke pesta kematian. Kemudian pukul 10.00, para imam bersama-sama dengan para budak membawa boneka-boneka mengelilingi tempat pesta dengan mengucapkan mantra.

Yang cukup terkenal adalah permainan boneka jelangkung. Ferren Bianca dalam Ensiklopedia Hantu dan Makhluk Gaib Nusantara (2013) menulis, jelangkung adalah arwah penasaran yang merasuk boneka kayu, dengan mengundangnya menggunakan ritual.

Pemainan mistis ini lazimnya dilakukan tiga hingga empat orang, yang memegang boneka jelangkung dengan membaca mantra dan mempersiapkan alat tulis berupa pena dan kertas.

Jelangkung biasanya dilakukan di tempat angker pada malam hari.

Meski permainan supranatural ini telah dikenal lama di Nusantara, nyatanya jelangkung tak berasal dari negeri kita. Jelangkung adalah hasil adopsi dari cai lan gong—sebuah ritual dari China.

Hirwan Kuardhani dalam Mengenal Teater Boneka Potehi dan Budaya Tionghoa Peranakan di Indonesia (2021) menulis, cai lan gong merupakan ritual memanggil arwah yang dimasukkan ke boneka terbuat dari keranjang sayur.

Permainan tersebut dilakukan usai sembahyang cioko atau sembahyang rebutan. Upacara itu dilaksanakan di bulan tujuh tanggal 15 tahum Imlek—yang dipercaya orang Tionghoa saat itu arwah terlantar diberi kebebasan selama sebulan.

Boneka kawin dan tren yang bikin masalah

Neneng bersama boneka Atjeng dan Mayangsari. Foto Selecta, 27 Juni 1966.

Pada 1960-an, boneka arwah yang mirip fenomena ramai belakangan ini pernah dimiliki seorang dukun bernama Giok Hwa alias Neneng di Bandung. Boneka yang dinamakan Atjeng itu konon berisi arwah anaknya yang tak jadi lahir.

Kisahnya dilaporkan dalam artikel panjang berjudul “Perkawinan Boneka Dirajakan 4 Hari 4 Malam” di majalah Selecta edisi 27 Juni 1966. Neneng yang lahir dan besar di Bogor, saat usia 23 tahun menjadi janda karena suaminya meninggal dunia. Keanehan terjadi ketika ia pindah ke Batu, Malang, Jawa Timur. Tanpa suami, ia mengaku tiba-tiba mengandung.

Akan tetapi, perut yang gendut mirip orang hamil tujuh bulan itu lantas mengempes. Neneng mengatakan, suatu hari di malam Jumat kliwon, terdengar suara dari dalam perutnya.

“Mih, saya enggak mau keluar ke dunia, sebab saya tidak punya kaki dan tangan,” ujar Neneng, menirukan suara dari dalam perutnya kepada Selecta.

Suara itu mengaku putra wali dari gua di Kediri. “Saya sekarang mau keluar ke dunia lain, tapi saya mau datang kalau mamih panggil. Saya akan membantu manusia yang sakit. Nama saya Atjeng.”

Singkat cerita, Neneng kemudian menikah dengan Tjio Tjiang Siat. Mereka lalu pindah ke Surabaya, dan lantas menetap di Bandung. Saat itu, Neneng mulai membuka praktik pengobatan, yang konon menerima bisikan dari Atjeng. Atjeng sendiri baru sebatas suara, tanpa wujud.

Ketika usia arwah Atjeng sudah dewasa, ia meminta dinikahkan kepada ayahnya dengan Mayangsari. Dari pengakuan Tjio, Atjeng katanya pernah berjalan-jalan ke daerah Kebayoran Baru, Jakarta. Di sana ia bertemu “gadis” yang dibuang ke got—berupa embrio yang belum jadi bayi karena keguguran. Gadis itu diberinama Mayangsari oleh Atjeng dan dipungutnya.

Tjio diperintahkan Atjeng melamar ke orang tua Mayangsari itu. Menjelang pernikahan 9 Mei 1965, Atjeng dan Mayangsari yang tak berwujud itu masuk ke dalam dua pasang boneka. Pesta pernikahan pun terselenggara, dihelat empat hari empat malam dengan dimeriahkan band Trondolo, wayang golek, dan pencak silat.

Hadiah dari tamu yang hadir banyak berupa boneka. Setelah dua boneka itu menikah, disediakan kamar khusus tiga kali dua meter di rumah Neneng dan suaminya. Kamarnya mirip tempat yang disucikan.

“Ada dua tempat tidur, di bagian bawah ada altar berisi hio, lilin, dan kemenyan,” tulis Selecta.

Sejak itu, Neneng merawat Atjeng dan “menantunya” seperti seorang anak. Pasien pun diobati dari media boneka Atjeng.

Kisah itu terlihat tak masuk akal. Bisa jadi, cerita Neneng cuma pepesan kosong. Di awal tulisan, Selecta memberikan peringatan.

”Tuan, termasuk nyonya dan nona, para pembaca Selecta umumnya, boleh percaya dan boleh juga tidak. Justru apa yang bakal diceritakan tentang asal-usul Si Atjeng termasuk mamih dan papihnya ini adalah merupakan sebuah catatan yang cuma didengar Selecta, tanpa pernah menyaksikan sebelumnya,” tulis Selecta.

Bisa jadi pula, motif Neneng adalah ekonomi. Sebab, orang yang datang berobat kepadanya bukan hanya rakyat jelata, tetapi juga pejabat penting.

Di Thailand, tren merawat boneka arwah pernah pula mengemuka pada 2016. Fenomena itu disebut luk thep.

Editor foto hiburan dan budaya rekanan TIME, Kenneth Bachor menulis dalam artikel “Thailand’s Intriguing Luk Thep Doll Culture” di TIME edisi 3 Juni 2016, luk thep mulai populer ketika maskapai Thai Smile Airways mengizinkan penumpangnya memesan kursi dan makanan khusus untuk bonekanya.

Luk thep secara harfiah berarti “malaikat anak”. “(Pemiliknya) percaya, jika mereka merawat boneka luk thep, keberuntungan akan datang kepada mereka,” ujar jurnalis foto yang berbasis di Bangkok, Thailand, Amanda Mustard, ketika diwawancara Bachor.

Pemiliknya ada yang hanya menyimpan boneka itu di tempat bisnisnya, ada pula yang memberi makan, menyewa pengasuh bayi, hingga mengatur kawan bermain si boneka.

BBC edisi 28 Januari 2016 dalam tulisan “The Privileged World of Thailand’s Supernatural Dolls” menyebut setelah membeli boneka, pemilik luk thep membawanya ke seorang biksu untuk dirapalkan doa dan upacara yang dikenal dengan plook sek. Ritual ini dianggap sebagai cara menghidupkan boneka, dengan mengundang arwah penasaran menghuni tubuh boneka.

Ilustrasi boneka arwah. Foto Pixabay.com

Iona Proebst dalam tulisannya “Luk Thep: Thailand’s Baby Doll Tradition” di The Culture Trip, 11 Desember 2017 menulis, selain tingkat kesuburan yang rendah di Thailand dan situasi ekonomi yang memburuk pada 2016, luk thep dipercaya sebagai versi anyar kuman thong.

Kuman thong adalah janin yang sudah mati sebelum dilahirkan, lalu disimpan dan diyakini membawa arwah anak yang sudah tiada,” tulis Proebst.

Kuman thong yang artinya “anak emas” berwujud patung. Serupa luk thep, kuman thong dipercaya membawa keberuntungan bagi pemiliknya.

Menurut Terry Fredrickson dalam “Baby Amulets: Kuman Thong” di Bangkok Post edisi 24 November 2014, sejarah kuman thong bisa dilacak dari periode Ayutthaya, tersebut dalam cerita rakyat Khun Chang Khun Phaen, berlatar akhir 1500-an.

“Dalam cerita tersebut, Khun Phaen membuat jimat dari janin anaknya dengan melakukan ritual ilmu hitam. Anak yang belum lahir kemudian menjadi hantu yang disebut kuman thong,” tulis Fredrickson.

“Cerita rakyat mengatakan, Khun Phaen menggunakan kuman thong untuk perlindungannya di medan perang.”

Jika di Indonesia fenomena spirit doll bertabrakan dengan ajaran agama, terutama Islam, serta dikaitkan dengan perilaku psikologis yang janggal, di Thailand luk thep dan kuman thong menimbulkan gejala sosial yang “sakit”.

Kepercayaan terhadap kuman thong membuat meningkatnya penjualan janin di pasar gelap. Misalnya, menurut Kevin Lo dalam tulisan “Black Magic Baby: The Macabre History of Kuman Thong di Atlas Obscura, 21 Februari 2014, polisi Thailand menangkap seorang pria yang membawa enam janin di tasnya pada Mei 2012.

Pelaku yang bernama Chow Hok Kuen membeli janin itu seharga US$6.000, dan berniat menjualnya ke Taiwan untuk dijadikan kuman thong.

“Pada Juni 2010, 14 bayi mati ditemukan di sebuah rumah di Provinsi Ubon Ratchathani, dan seorang mantan perawat didakwa menjual mayat bayi itu secara ilegal seharga US$30,” tulis Lo.

“Tahun itu pada November 348 janin yang diaborsi ditemukan terbungkus dalam kantong plastik di sebuah biara Buddha Wat Phai Ngoen, jantung Kota Bangkok. Janin itu dibeli dari lima klinik aborsi ilegal.”

Sedangkan pemilik luk thep mendapat reaksi negatif dari sejumlah orang Thailand, disebut mengalami gangguan jiwa. BBC edisi 28 Januari 2016, dalam artikel “The Privileged World of Thailand’s Supernatural Dolls” menulis, polisi Thailand pun khawatir boneka luk thep digunakan sebagai media untuk menyelundupkan narkoba. Membeli luk thep juga dianggap menghambur-hamburkan uang.

“Harga boneka berkisar dari 1.500 baht (US$42) hingga puluhan ribu baht,” tulis BBC.

Berita Lainnya