logo alinea.id logo alinea.id

Tren barbershop dan gaya rambut masa kini

Sejak tiga tahun belakangan, tren barbershop telah menggeser posisi salon dan tukang cukur tradisional.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Jumat, 08 Feb 2019 12:24 WIB
Tren barbershop dan gaya rambut masa kini

Sore itu, hanya ada empat pemangkas rambut yang tengah menunggu pelanggan, saat saya tiba di Big Boys Barbershop—salah satu salon di bilangan Tebet, Jakata Selatan. Ruangan di dalam barbershop itu tak terlalu luas, hanya sekitar 3x8, dengan dekorasi cat berwarna hitam.

Ada tiga bangku busa lebar berlapis kulit imitasi menghadap cermin besar, dan sebuah meja panjang tempat segala alat cukur. AC yang ada di ruangan itu, membuat suasana terasa sejuk.

“Mau model rambut kayak gimana?” tanya Ari, salah seorang pemangkas yang bekerja di sana.

Ari sudah menjadi tukang pangkas rambut sejak 2000-an. “Dulu kalau kerja sebagai tukang pangkas gini, suram,” katanya.

Sekarang, dia bersyukur. Tren barbershop alias tempat cukur cowok menjamur di berbagai kota besar. Hal itu ikut menaikan pamor para pemangkas rambut seperti Ari.

Tren barbershop

Pemangkas rambut di barbershop biasanya memiliki keahlian dari pelatihan. (Alinea.id/Nanda Aria Putra).

Pada 1990-an, masih sering dijumpai tukang cukur yang keliling membawa kursi lipat dan tas berisi peralatan pemangkas rambut. Tukang cukur yang mangkal di sudut-sudut jalan pun, atau yang diistilahkan tukang cukur DPR alias “di bawah pohon rindang” masih bisa ditemui.

Saat ini, tukang cukur seperti itu sudah tak ditemui lagi di kota besar seperti Jakarta. Kalau pun ada, hanya satu-dua saja di pinggiran kota. Sementara, salon pria yang dikenal dengan istilah barbershop makin jaya.

Menurut penata rambut profesional sekaligus pemilik jaringan bisnis salon rambut dan kecantikan, Rudy Hadisuwarno, naiknya tren barbershop di Indonesia tumbuh seiring perkembangan barbershop di negara-negara Eropa.

“Sejak tiga tahun belakangan, tren barbershop telah menggeser posisi salon dan tukang cukur tradisional,” kata Rudy saat dihubungi, Kamis (7/2).

Dia mengatakan, bercukur di barbershop bagi kaum pria sudah menjadi bagian dari gaya hidup. “Lagian kan salon bukan tempat cukur khusus pria ya, dan kalau tukang cukur tradisional mereka tidak melayani creambath dan keramas,” kata Rudy.

Tukang cukur tradisional pun dinilai kurang profesional. Mereka rata-rata mendapatkan keahlian mencukur secara otodidak. Berbeda dengan pemangkas di barbershop, yang mendapat keahlian dari pelatihan atau kursus.

“Selain itu, potongan di barbershop hasilnya lebih tegas jika dilihat dari garis-garis potongannya, dibandingkan dengan salon dan tukang cukur tradisional,” ujar Rudy.

Barbershop, terang Rudy, lebih mencerminkan anak muda, karena pemangkasnya bukan lagi bapak-bapak, seperti di tukang cukur tradisional. Pemangkasnya kebanyakan digawangi anak-anak muda.

Selain itu, menurut Rudy, dekorasi dan suasana yang ditampilkan dalam desain barbershop lebih kekinian, sesuai dengan jiwa anak muda masa kini.