sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Waspadalah, 50,1% penyandang diabetes tidak terdiagnosis

Hingga 14 Mei 2020, International Diabetes Fedration (IDF) melaporkan 463 juta orang dewasa di dunia menyandang diabetes.

Ghalda Anisah
Ghalda Anisah Kamis, 05 Nov 2020 07:44 WIB
Waspadalah, 50,1% penyandang diabetes tidak terdiagnosis
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 557.877
Dirawat 77.969
Meninggal 17.355
Sembuh 462.553

Hari Diabetes Sedunia atau World Diabetes Day (WDD) yang diperingati setiap 14 November, menjadi tanda dan sebuah peringatan bahwa dunia belum terbebas dari ancaman dan bahaya diabetes.

Hingga 14 Mei 2020, International Diabetes Fedration (IDF) melaporkan 463 juta orang dewasa di dunia menyandang diabetes dengan prevalensi global mencapai 9,3%. Namun, kondisi yang membahayakan adalah 50,1% penyandang diabetes (diabetesi) tidak terdiagnosis. Ini menjadikan status diabetes sebagai silent killer masih menghantui dunia. Jumlah diabetesi ini diperkirakan meningkat 45% atau setara dengan 629 juta pasien per 2045. Bahkan, sebanyak 75% pasien diabetes pada 2020 berusia 20-64 tahun. 

Director of Special Needs & Healthy Lifestyle Nutrition Kalbe Nutritionals Tunghadi Indra menegaskan komitmen Kalbe melakukan edukasi diabetes berkelanjutan tidak hanya di Indonesia, bahkan juga di beberapa negara di Asia, di mana Diabetasol juga hadir seperti di Filipina, Malaysia, Sri Lanka, dan Myanmar. Terutama kondisi diabetesi saat ini yang sangat berisiko tinggi di saat pandemi Covid-19. Dengan menjaga gula darah, dapat membantu menurunkan risiko diabetesi terkena komplikasi Covid-19.

Tidak hanya itu angka prevalensi diabetes di dunia dan Indonesia yang meningkat, ditambah risiko yang bisa terjadi kepada para diabetesi saat pandemi ini, menunjukkan kalau diabetes perlu perhatian khusus dari semua kalangan. 

"Diabetes memang tidak bisa disembuhkan, tetapi manajemennya sangat perlu diperhatikan. Selain itu dukungan dari support system di sekitar diabetesi juga sangat dibutuhkan,” ungkap Tunghadi. 

Pada kesempatan yang sama, Executive Committee Member IDF Western Pacific Region (2009-2011 & 2012-2015) Sidartawan Soegondo menjelaskan, berdasarkan data IDF sebanyak 90% diabetesi adalah pasien diabetes tipe 2 atau diabetes melitus. Kenaikan jumlah diabetesi tipe 2 ini didorong oleh kondisi saling memengaruhi yang kompleks, antara pertumbuhan sosio-ekonomi, demografis, lingkungan, dan faktor genetis. Kontributor utama lainnya termasuk arus urbanisasi, populasi penduduk yang menua, berkurangnya aktivitas fisik di tengah masyarakat urban, dan meningkatnya obesitas serta kelebihan berat badan. 

Menurut Sidartawan, tingginya jumlah diabetesi membuat pengendalian diabetes membutuhkan perhatian semua orang dan juga kebijakan nasional dengan pendekatan terintegrasi. Kehadiran komunitas masyarakat sadar diabetes dan keluarga peduli diabetes dibutuhkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan masyarakat dalam mengendalikan diabetes. 

“Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk melaksanakan upaya kesehatan. Upaya yang dapat dilakukan keluarga diabetesi antara lain melakukan perencanaan makan, perencanaan olahraga, pengaturan obat, dan edukasi. Hal yang masih perlu ditingkatkan adalah upaya keluarga dalam mengatur pola makan sehat dan gizi seimbang, serta ajakan berolahraga. Hasil penelitian terkait dukungan keluarga yang positif, mengarah pada kontrol gula darah yang lebih baik (42,2% memiliki gula darah yang lebih terkontrol),” paparnya. 

Sponsored

Lebih jauh terkait diabetes khususnya di Indonesia, Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Ketut Suastika juga memperingatkan, menurut data IDF, Indonesia berstatus waspada diabetes karena menempati urutan ke-7 dari sepuluh negara dengan jumlah pasien diabetes tertinggi, yakni 10.681.400 orang per 2020 dengan prevalensi 6,2%. Angka ini diperkirakan meningkat jadi 16,7 juta pasien pada 2045. 

Dengan data tahun ini, 1 dari 25 penduduk Indonesia atau 10% dari penduduk Indonesia mengalami diabetes. Paling banyak di Indonesia adalah kasus diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat. Dan melihat angka yang sangat besar, artinya setiap orang memiliki kerabat, teman, atau bahkan keluarga yang mengalami penyakit diabetes. 

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, papar Suastika, angka prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10,9% yang diprediksi juga akan terus meningkat. Kondisi ini pastinya dapat mempersulit proses pengendalian dan pengelolaan diabetes.

“Siapa pun harus aware. Harus ingat bahwa gejala klasik diabetes yang bisa didiagnosa dari awal adalah banyak minum, banyak kencing, juga berat badan yang turun drastis. Bagi diabetesi, penting untuk mengecek kadar gula darah secara rutin dan melakukan pencegahan, terlebih saat pandemi Covid-19 sekarang ini. Diabetes adalah salah satu komorbid atau penyakit penyerta yang banyak ditemukan pada pasien virus Covid-19 tepatnya di peringkat kedua, yaitu sebanyak 34,4% kasus di Indonesia,” jelasnya.

Berita Lainnya