sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dari Mega ke Oesman Sapta

Sejak Agustus 2019, lima petahana calon ketua umum partai politik terpilih secara aklamasi.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Rabu, 15 Jan 2020 02:25 WIB
Dari Mega ke Oesman Sapta
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 72347
Dirawat 35349
Meninggal 3469
Sembuh 33529

Sejak Agustus 2019, lima petahana calon ketua umum partai politik terpilih secara aklamasi. Mereka yang melanjutkan kembali tampuk kepemimpinannya, yakni Megawati Soekarnoputri di PDI-P, Muhaimin Iskandar di PKB, Airlangga Hartarto di Golkar, Surya Paloh di Nasdem, dan Oesman Sapta Odang di Hanura.

Meski masing-masing parpol memiliki cerita berbeda dalam pemilihan ketum, menurut Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor, aklamasi mengindikasikan praktik-praktik demokratis yang tersumbat di internal parpol. 

Menyinggung kajian LIPI tentang perilaku parpol pada 2018, Firman mengatakan, model pemilihan ketum secara aklamasi menunjukkan kuatnya cengkeraman oligarki dan pemodal di parpol. 

"Faktor keuangan pun masih menjadi penentu. Pasalnya, elite partai ini biasanya adalah elite yang mampu memanfaatkan keuangannya atau pun jaringannya untuk menghasilkan uang untuk tetap berkuasa di partai itu," ujarnya kepada Alinea.id, Jumat (10/1).

Sponsored

Selain duit, faktor ketokohan turut menjadi penyebab aklamasi mewabah di parpol. "Mungkin karena faktor historis sehingga mereka (para calon petahana) punya tempat yang belum bisa tergantikan," kata dia. 

Infografik Alinea.id/Dwi Setiawan

Berita Lainnya