sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jalan berliku menuju kursi DKI-2

Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kembali ke tangan politikus Gerindra.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Sabtu, 11 Apr 2020 10:26 WIB
Jalan berliku menuju kursi DKI-2
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Setelah hampir dua tahun kosong, kursi Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta akhirnya terisi. Dalam pemilihan wagub di ruang rapat paripurna DKI Jakarta, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Ahmad Riza Patria dipastikan menduduki kursi itu setelah meraup 81 suara sah. 

Pesaing Riza, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nurmansyah Lubis alias Anca hanya mampu mengantongi 17 suara dari total 100 suara yang masuk. 

Itu artinya kursi wagub kembali jatuh ke tangan politikus Gerindra. Padahal, sepeninggal Sandiaga Uno, kursi DKI-2 sempat dijanjikan untuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang pada Pilgub 2017 turut mengusung pasangan Anies-Sandi.  

Kabar mengenai kesepakatan itu sempat mencuat setelah PKS diisukan setuju berkoalisi dengan Gerindra dan memilih Sandiaga pendamping Prabowo di Pilpres 2019 asalkan kursi wagub jatuh ke tangan mereka. 

Kesepakatan itu bahkan sempat dibubuhkan dalam secarik kertas yang ditandatangani Wakil Ketua DPRD Jakarta Muhammad Taufik dan Wakil Sekjen PKS Abdul Hakim di ruangan VIP Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Agustus 2018. 

Belakangan, Taufik menyebut dokumen itu sebagai kesepakatan di 'warung kopi; alias tidak sah. Pasalnya, keputusan itu tidak diambil dalam rapat resmi dan tidak ada tanda-tangan Sekretaris DPD Gerindra Jakarta dalam dokumen tersebut. 

Tak hanya itu, kontroversi pemilihan wagub pun ditandai ditundanya beberapa kali rapat pimpinan gabungan (rapimgab) untuk menentukan cawagub. Sepanjang 2019, perebutan kursi wagub juga diwarnai perdebatan soal uji kepatutan dan kelayakan, pergantian nama calon dari PKS, serta munculnya kandidat dari Partai Gerindra. 

Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai ada dua faktor yang menyebabkan PKS gagal menguasai kursi DKI-2. Pertama, lemahnya lobi-lobi. Kedua, bergabungnya Gerindra ke dalam koalisi parpol pendukung  pemerintahan Jokowi-Mar'uf. 

Sponsored

"Jumlah suara PKS berapa sih? Tentu saja secara matematis sudah bisa diprediksi bahwa PKS tidak akan menang melawan Gerindra. Kemudian dalam konfigurasi politik pasca-Pilpres 2019, kan menonjol PKS itu partai oposisi. Itu membuat partai-partai yang tergabung dalam koalisi Jokowi-Ma'ruf bersatu untuk memenangkan Riza," jelas dia. 

Di DPRD DKI, PKS hanya punya 16 kursi. Adapun PDI-P dan Gerindra masing-masing memiliki 25 dan 19 kursi. Terkecuali Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang hanya punya 1 kursi, sisa kursi lainnya terbagi ke parpol-parpol lainnya secara relatif merata. 
 

Infografik Alinea.id/Hadi Tama

Berita Lainnya