logo alinea.id logo alinea.id
Awalil Rizky

Defisit neraca perdagangan dan struktur ekspor

Awalil Rizky Senin, 27 Mei 2019 11:39 WIB

Jokowi dalam debat capres meyakinkan bahwa dia telah menekan defisit secara signifikan secara serius. "Tahun 2018 neraca perdagangan kita memang defisit kurang lebih US$8 miliar, tetapi dalam kuartal I-2019, defisit kita turun US$0,67 miliar. Artinya, usaha kita untuk menekan defisit neraca perdagangan bukan main-main," 

Sebelumnya, selama setahun terakhir ini Jokowi sebagai Presiden berulangkali bicara tentang defisit neraca perdagangan. Antara lain: Jokowi Perintahkan ke Menteri, Defisit Neraca Perdagangan Setahun Harus Tuntas (05/09/2018); Neraca Dagang Defisit Lagi, Jokowi Panggil Menteri Ekonomi (17/09/2018); Neraca Dagang RI Masih Tekor, Jokowi: Bodoh Banget Kita (12/3/2019); Kita sudah 20 tahun tidak bisa mengatasi defisit neraca perdagangan dan defisit neraca pembayaran karena ekspor dan investasi. (9/5/2019).

Namun, sebulan setelah debat capres, BPS mengumumkan bahwa defisit neraca perdagangan bulan April 2019 mencapai US$2,50 miliar. Suatu rekor defisit bulanan, dan rekor secara kumulatif bulan Januari hingga April. Ada kemungkinan, pada 2019 akan menciptakan rekor defisit baru lagi. 

Ketika defisit 2018, penjelasan pemerintah umumnya “menyalahkan” peningkatan defisit neraca migas.

Sempat ada wacana untuk sama sekali tidak memberikan subsidi BBM lagi sebagai bagian dari upaya perbaikannya. Cukup beralasan jika melihat defisit neraca perdagangan migas yang terus terjadi sejak 2012.

Defisit bisa ditekan pada 2015 hingga 2017, setelah subsidi BBM dikurangi secara drastis. Akan tetapi, kembali meningkat pesat pada 2018, yang mendorong lebih dalamnya defisit neraca perdagangan secara keseluruhan. 

Ada yang perlu diperhatikan, defisit neraca perdagangan migas januari hingga April 2109 sebesar US$2,77 miliar justru lebih rendah dibandingkan 2017 (US$3,19 miliar) dan 2018 (US$3,89 miliar). Dengan kata lain, tekanan defisit akibat migas justru relatif lebih kecil.

Dalam jangka pendek, memang pengelolaan ekspor-impor migas masih menjadi kunci pengendalian defisit. Wajar pula jika pemerintah di bawah koordinasi Menko Perekonomian langsung rapat tentang Neraca Perdagangan Migas pada 22 Mei lalu.

Pihak Kementerian Perdagangan sendiri mengakui penyebab defisit saat ini adalah melemahnya ekspor akibat penurunan permintaan global. Secara lebih khusus lagi karena kondisi pelemahan permintaan pasar negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia. Pandangan serupa telah disampaikan oleh BPS. 

Semua penjelasan ada benarnya, tetapi kita perlu mencari penyebab yang lebih mendasar, yakni struktur ekspor yang belum kuat. Dilihat dari aspek komoditas maupun negara tujuan, kelompok barang yang berasal dari ekstraksi hasil alam dan yang hanya sedikit diolah masih memiliki porsi cukup besar.

Selain bernilai tambah tidak maksimal, harga komoditas amat fluktuatif, dan Indonesia bukan penentu harga. Barang ekspor yang berasal dari industri pengolahan juga masih memiliki konten impor dalam porsi besar. Secara keseluruhan, ragam barang ekspor masih kurang bervariasi, dan komoditas unggulan bersifat kurang menentukan dalam pasar internasional. 

Nilai ekspor Indonesia pada 2018 mencapai US$180,06 miliar, dan nilai ekspor nonmigas saja sebesar US$162,65 miliar. Nilai total ekspor tersebut lebih rendah dibandingkan 2011 yang mencapai US$203,50 miliar. Sedangkan nilai ekspor nonmigas nyaris setara, sebesar US$162,02 miliar.

Kecenderungan stagnasi pada ekspor nonmigas telah berlangsung hampir satu dekade. Ekspor nonmigas Indonesia lebih didominasi oleh produk primer tanpa olahan atau hanya sedikit olahan menurut penggolongan Bank Indonesia (BI).

BI mengelompokkan ekspor nonmigas ke dalam tiga kategori: produk primer, produk manufaktur, dan produk lainnya. Produk primer terdiri dari produk pertanian serta bahan bakar dan pertambangan. Sedangkan produk pertanian terdiri dari makanan dan bahan baku. 

Komposisi ekspornya pada 2018 berdasar nilai pasar, produk primer sebesar 50,4%, produk manufaktur sebesar 47,9%, dan produk lainnya 1,7%. Komposisi ini hanya sedikit membaik dibandingkan 2012, yang terdiri dari: 54,3% produk primer, 43,8% produk manufaktur, dan 1,9% produk lainnya. Dan jika dilihat dari harga riil, komposisinya nyaris tak berubah. Perubahan komposisi lebih dikarenakan perubahan harga komoditas.

Dalam hal tujuan negara ekspor, sebaran negara masih kurang luas, dan porsi beberapa negara tampak terlampau besar. Kondisi semacam ini membuat dampaknya besar dan seketika jika negara-negara itu dalam kondisi memburuk, atau mereka mengambil kebijakan yang kurang menguntungkan. 

Negara tujuan ekspor nonmigas didominasi oleh 10 negara utama yang porsinya pada 2018 mencapai 69,4%. Selama sedekade terakhir, porsinya selalu di kisaran 70%. Bahkan 5 negara utama mencapai separuh (49,8%) dari total nilai ekspor nonmigas 2018, yaitu: China, Amerika Serikat, Jepang, India dan Singapura.

Dengan demikian, tidak memadai jika pemerintah terus saja “menyalahkan” neraca migas dan kadang dinamika global, kemudian melakukan kebijakan yang bersifat jangka pendek. Termasuk kebijakan jangka pendek jika hanya “mengutak-atik” tentang larangan atau pembatasan impor.

Masalah mendasar yang hanya dapat diperbaiki dengan kebijakan berperspektif jangka panjang adalah membenahi struktur ekspor. Masalah struktur ekspor sebenarnya bersumber pada fundamental ekonomi yang juga belum kuat, terutama dalam aspek produksi.

Usai pilpres seharusnya membuat pemerintah dan otoritas ekonomi lebih leluasa berpikir jangka menengah dan panjang, serta mulai membuat kebijakan yang berorientasi membangun fundamental ekonomi, yang salah satunya adalah struktur ekspor.