sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Aristides dan jurnalisme yang ia tinggalkan   

Para kerabat mengenang sosok Aristides sebagai sosok yang kritis.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Senin, 30 Sep 2019 07:00 WIB
Aristides dan jurnalisme yang ia tinggalkan   

Wartawan senior Aristides Katoppo tutup usia. Aristides menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat,  pada Minggu (29/9) pukul 12.05 WIB. Pendiri surat kabar Sinar Harapan ini dilarikan ke rumah sakit setelah pada malam sebelumnya mengalami gangguan pernapasan dan luka di kaki.

Adik Aristides Katoppo, Josi Katoppo, mengatakan, kabar duka itu diterimanya lewat putra tertua Aristides, Jura Katoppo. Ia terakhir kali bertemu Aristides sewaktu melayat di hari pemakaman BJ Habibie, Kamis (11/9) lalu. 

"Waktu itu Tides (panggilan Aristides) kelihatan segar dan sehat. Begitu juga sewaktu kembali dari Semeru, hanya saja pakai tongkat karena sudah berusia 81 tahun,” ucap Josi ketika dihubungi Alinea.id, Minggu (29/9) sore. 

Aristides baru saja usai melakukan perjalanan ke kaki gunung Semeru, pekan lalu. Perjalanan itu ditempuhnya bersama Herman Lantang dan Don Hasman untuk memperingati 50 tahun Soe Hok-Gie. Mereka adalah kawan sesama mahasiswa almamater Universitas Indonesia. 

Menurut Josi, Aristides tampak sangat gembira menikmati kebersamaan terakhir dalam perjalanan mengendarai mobil ke kaki Gunung Semeru saat itu.

Bea Wiharta, fotografer yang mengabadikan perjalanan ke kaki Semeru bersama Aristides, mengamini hal itu. Menurut dia, Aristides tampak sangat menikmati perjalanan itu. 

“Dia sangat mencintai pohon-pohon dan tumbuhan. Dia bilang, ‘Saya tolong difoto di sebelah pohon pinus itu’,” kata Bea kepada Alinea.id.

Bea menceritakan, dia pertama kali berkenalan dengan Aristides dalam pendakian dari Semeru ke Bromo pada 1982. Setelah beberapa pertemuan berikutnya, Bea menjalani pendakian bersama Aristides sekaligus memotret pengalaman pendakian Aristides.

Sponsored

“Sepanjang perjalanan itu saya belajar tentang tumbuhan-tumbuhan dari Om Tides. Dia senang di kaldera Bromo dengan daun tumbuhan pepermint, sambil menikmati rebusan daun teh,” katanya.

Bea dan Aristides cepat akrab karena Aristides juga tertarik dengan fotografi. Perjalanan Bea bersama Aristides, Don Hasman, dan Herman Lantang pekan lalu itu menjadi pertemuan terakhirnya.

“Om Tides sempat terharu saat bercerita tentang pengalaman dengan Soe Hok-Gie, kisah yang sangat personal,” kata Bea. 
 
Jurnalisme kritis dan komprehensif

Aristides Katoppo dilahirkan di Tomohon, Sulawesi Utara, 14 Maret 1938. Ia merupakan putra dari pasangan Elvianus Katoppo dan P.A.S Rumokoy. Ayah Aristides adalah seorang pejuang di era penjajahan Belanda. 

Selain sebagai pendiri Sinar Harapan, Aristides juga tercatat sebagai salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Saat aktif menjadi wartawan, Aristides dikenal punya perhatian khusus terhadap dunia seni budaya. 

Setidaknya itu yang direkam oleh jurnalis Sinar Harapan, Sihar Ramses Simatupang. Menurut Sihar, sebelum Sinar Harapan gulung tikar pada 1 Januari 2016 dan beralih ke ranah daring, harian itu memiliki misi untuk membangun ruang kebudayaan. 

“Kami di Sinar Harapan didorong untuk tak hanya sebagai penulis atau pencatat seni-budaya, tapi juga membangun wadahnya. Misalnya seperti Tempo dengan Komunitas Salihara, atau Kompas lewat Bentara Budaya. Namun rencana itu kandas seiring tutupnya Sinar Harapan,” kata Sihar.

Di samping itu, bagi Sihar, Aristides menjadi salah satu pelopor semangat kerja kewartawanan sebagai proses intelektual yang punya sumbangsi bagi perkembangan kebudayaan. Hal itu, menurut dia, karena Aristides kerap berinteraksi dengan pelbagai lembaga sosial.

“Jadi bukan hanya fokus mengejar isu-isu, tetapi melalui kerja kontemplatif dan bertujuan kemanusiaan,” ucap Sihar.

Bagi mantan wartawan senior Kompas Albert Kuhon, Aristides adalah mentor bagi jurnalis dalam merancang peliputan. Aristides, kata dia, pandai mengajari wartawan meliput secara komprehensif dan kritis.

“Saya kenal Tides sejak dekade 1980-an, sewaktu saya masih jadi wartawan Kompas. Kalau di Kompas, kita kenal Polycarpus Swantoro, mentor para wartawan senior. Fungsi yang sama di Sinar Harapan diemban oleh Aristides Katoppo,” ujar Albert.

Albert yang bekerja di Kompas 1981–1989 ini juga mengenang Aristides sebagai redaktur yang keras.

Albert menceritakan, Aristides pernah membentak seorang reporter yang belum mampu menulis berita dengan informasi lengkap. Saat ditanyai di kantor, si reporter diminta untuk kembali ke lokasi kejadian. “Kau balik lagi ke lapangan, cari lagi informasi,” kata Albert menirukan ucapan Aristides. 

Aristides juga selalu menekankan agar wartawan selalu bersikap kritis terhadap semua narasumber. Selain Albert, beberapa wartawan senior yang digembleng oleh Aristides ialah Rudy Badil, James Luhulima, Purnama Kusumaningrat, dan Norman Edwin.