sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Aye Chan Naing, menantang maut menjadi mata dunia di Myanmar

Saya tidak seharusnya menjadi jurnalis. Sebenarnya saya mestinya menjadi seorang dokter gigi, kata Aye Chan.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Selasa, 06 Jul 2021 15:00 WIB
Aye Chan Naing,  menantang maut menjadi mata dunia di Myanmar

Jurnalis Myanmar, Aye Chan Naing, dipersembahkan Penghargaan Kebebasan Pers Internasional 2021 oleh Komite Perlindungan Wartawan (Committee to Protect Journalists, CPJ), dua pekan lalu.

CPJ merupakan organisasi non-pemerintah non-profit independen Amerika, yang berbasis di New York City, menjalin kerja sama dengan koresponden di seluruh dunia. CPJ mempromosikan kebebasan pers dan membela hak-hak jurnalis.

Aye Chan Naing menjadi salah satu pendiri, pemimpin redaksi, dan direktur eksekutif dari Democratic Voice of Burma (DVB), sebuah grup media penyiaran independen di Myanmar.

Dialah kunci pendirian DVB di Oslo, Norwegia, pada tahun 1992 sebagai radio gelombang pendek untuk menyiarkan berita independen, mempelopori gerakan media pengasingan Myanmar di mana reporter bawah tanah dalam negeri menghasilkan dan menyebarkan berita yang tidak mungkin dipublikasikan dari dalam negara dengan pemerintahan militer saat itu.

Aye Chan Naing memimpin transisi grup media dari operasi berbasis di pengasingan ke dalam negeri pada 2012, ketika jaringan jurnalis bawah tanah DVB muncul ke permukaan untuk mendirikan media penyiaran independen pertama di negara itu dalam beberapa dekade.

CPJ telah meliput pelecehan pemerintah terhadap DVB selama lebih dari satu dekade, termasuk selama era militer sebelumnya ketika beberapa jurnalis yang menyamar ditahan dan dijatuhi hukuman penjara lebih dari satu dekade atas tuduhan palsu.

Media independen Myanmar, termasuk DVB, mendapat ancaman baru pada Februari 2021, ketika militer merebut kekuasaan dari pemerintah terpilih negara itu, memberlakukan aturan darurat dan menindak pers. Militer sejak itu memblokir stasiun TV, mengganggu layanan internet, melarang organisasi berita, dan menangkap puluhan jurnalis, termasuk tiga dari DVB.

Banyak yang bersembunyi atau melarikan diri dari negara itu sama sekali karena takut akan pembalasan negara atas liputan berita kritis mereka. Meskipun tayangan DVB langsung terhenti setelah kudeta dan secara resmi dilarang pada 8 Maret, DVB terus disiarkan secara daring dan melalui platform lain, memberikan laporan harian terperinci tentang tindakan keras mematikan rezim terhadap pengunjuk rasa anti-kudeta.

Sponsored

"Menganugerahkan penghargaan tahun ini kepada Aye Chan Naing tidak hanya mengakui sejarah jurnalisme yang gigih dan berani selama puluhan tahun, tetapi juga komitmennya dan DVB untuk membuat dunia mendapat informasi tentang kejadian di Myanmar pada saat yang mungkin tidak pernah lebih berbahaya untuk menjadi jurnalis di tanah airnya," demikian pernyataan CPJ.

Kutipan wawancara Open Society Foundations, bertajuk "Aye Chan Naing: Bagaimana Saya Menjadi Jurnalis Bawah Tanah di Burma", berikut:

"Saya tidak seharusnya menjadi jurnalis. Sebenarnya saya mestinya menjadi seorang dokter gigi, karena saya sedang belajar kedokteran gigi. Ketika saya berada di Rangoon, pada tahun 1988, saya ikut serta dalam demonstrasi anti-pemerintah. Dan setelah kudeta militer dan setelah mereka membunuh sekitar 3.000 mahasiswa dan warga sipil, bahkan beberapa dari mereka adalah rekan saya, saya memutuskan untuk meninggalkan Burma dan bergabung dengan kelompok gerilya," kata Aye.

"Jadi, setelah itu saya seharusnya menjadi tentara gerilya. Tapi kemudian ketika saya masuk ke Thailand, saya bergabung dengan departemen informasi dan mulai menerbitkan buletin yang menginformasikan audiens asing tentang apa yang terjadi di Burma," imbuhnya.

"Begitu saya keluar dari Burma, saya menyadari bahwa hanya ada sedikit pengetahuan tentang apa yang terjadi di dalam Burma. Jadi saya mulai menulis artikel, menulis fitur, cerita, untuk menginformasikan pemirsa asing tentang apa yang terjadi di dalam Burma. Dan begitulah cara saya terjun ke dunia jurnalistik," pungkasnya.

Sumber:
Aye Chan Naing, Myanmar
International Press Freedom Awards

Aye Chan Naing: How I Became an Underground Journalist in Burma

Berita Lainnya