sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Berita tanpa bias: Mengapa keragaman penting bagi jurnalisme

Buku ini membantu orang mengenali titik buta mereka sendiri: cerita apa yang mereka tekankan dan yang mungkin mereka abaikan.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Senin, 05 Jul 2021 14:02 WIB
Berita tanpa bias: Mengapa keragaman penting bagi jurnalisme

Anuradha Sharma merasa kehilangan karier yang seharusnya dia miliki andaikan dia seorang lelaki. Gerakan #MeeToo seperti cermin di depan wajahnya, dan sejak itu dia melihat dirinya sebagai korban.

Sharma mulai karier jurnalisnya pada 2002 di satu kota dagang wilayah sub-Himalaya timur laut India. Dia muak mengalami pelecehan patriarki hingga perundungan seksual sebelum memutuskan berhenti.

Dari Afrika Selatan, Tanya Pampalone menggugat dominasi bahasa Inggris yang mungkin bisa membuat melenceng liputan dari para jurnalis asal negara dengan bahasa-ibu bukan Inggris. Itu dia sadari tepat ketika Black Panther tentang negeri Wakanda diumumkan memenangkan film terbaik Piala Oscar pada 2019.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi berbagai tantangan seputar dominasi bahasa Inggris? Kata Tanya, yang terpenting, perhatikan bahasa-ibu kita dengan cara yang sama seperti saat kita baru mulai memeriksa hak istimewa kita.

Obsesi terhadap nama besar baik oleh praktisi atau organisasi media menghambat praktik kewartawanan lokal, terutama di masyarakat yang baru mengalami demokratisasi di mana perkembangan media masih lemah. Begitulah pengamatan jurnalis Nigeria, Kolawole Talabi.

Dia tahu diri sebagai seorang jurnalis lepas yang tidak terkenal, kemungkinan ceritanya diterbitkan media besar seperti Nigerian Tribune hampir nihil. Dia cukup putus asa untuk berharap ceritanya dimuat media arus utama.

Sampai pada 2016, Talabi memperoleh sekadar hibah buat liputan mengenai hilangnya keanekaragaman hayati untuk Earth Journalism Network, sebuah proyek dari Internews, satu organ nirlaba internasional. "Dari situ, saya tidak lagi tertarik dengan nama besar asing dan visibilitas global yang mungkin ditawarkan media mereka untuk cerita saya," tulis Talabi.

Tulisan ketiga jurnalis itu tersaji di antara 31 artikel pendek-pendek dalam buku Unbias The News: Why Diversity Matters for Journalism (Berita tanpa Bias: Mengapa Keragaman Penting bagi Jurnalisme).

Sponsored

Sebuah antologi oleh Hostwriter dan CORRECTIV. Pemimpin Redaksi buku ini, Tina Lee, dan volumenya menampilkan kata pengantar oleh Tabea Grzeszyk. Mengusung slogan: "Keragaman bukan tentang kebenaran politik. Ini tentang jurnalisme yang berkualitas."

Di konten buku, 31 reporter dari seluruh dunia, dari Brasil hingga Tajikistan, diminta menulis tentang hambatan terhadap keragaman dan inklusi yang lebih besar di ruang redaksi. Hasilnya berupa kumpulan pandangan yang membuka mata, pribadi, dan menyegarkan tentang bagaimana jurnalisme perlu berubah buat mencerminkan masyarakat.
 
Bagi awak media yang tertarik untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik dan menceritakan kisah yang lebih baik dan lebih akurat kepada audiens mereka, melihat kembali keragaman sangat penting. Buku ini membantu orang mengenali titik buta mereka sendiri: cerita apa yang mereka tekankan dan yang mungkin mereka abaikan untuk diceritakan sama sekali.
 
Buku ini menampilkan ilustrasi asli karya seniman Moshtari Hilal, yang ditugaskan melukis sketsa hitam-putih berdasarkan artikel dalam buku tersebut.
 
Hostwriter merupakan jejaring pemenang penghargaan yang membantu jurnalis berkolaborasi lintas batas dengan mudah. CORRECTIV adalah pusat penelitian nirlaba pertama di dunia berbahasa Jerman. Kedua lembaga ini juga menerbitkan buku-buku tentang topik yang berkaitan dengan jurnalisme dan komunitas.

Berita Lainnya