sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Fiksionalisasi krisis iklim dalam sensasi media

Malah di Indonesia juga sering terjadi (manuver) membingkai krisis iklim ketika mengucur program dari perusahaan tambang

Arpan Rachman
Arpan Rachman Minggu, 10 Apr 2022 20:19 WIB
Fiksionalisasi krisis iklim dalam sensasi media

Bagaimana cara misinformasi bisa bekerja? Karena media massa kerap memotret perubahan iklim (climate change) sebagai isu elit dan berbentuk abstrak. Itu justru menjauhkan krisis iklim sebagai isu yang relevan dan berdampak pada kehidupan sehari-hari.

"Misalnya di sini dikutip berita bahwa bahasa-bahasa yang digunakan kalau memberitakan bencana itu (maka) frame-nya sensasi. Tapi kalau memberitakan kaitannya dengan perubahan iklim itu frame-nya sesuatu yang njlimet (sukar dimengerti). Jadi, tidak ada koneksi antara keduanya," kata Aulia Dwi Nastiti.

Menurut peneliti di Remotivi, padahal media bisa menjadi pintu masuk krisis iklim, interdisipliner, luas sekali. Dari sesuatu yang sangat relevan dengan kita, tapi seringkali perubahan iklim itu dibicarakan dengan komunikasi yang sangat abstrak. Terus ini urusannya para menteri, para elite, pajak karbonlah, program-program pemerintah yang ditonjolkan itu seperti itu.

"Kalaupun media arus utama memproduksi berita-berita dengan tema perubahan iklim atau kata kunci perubahan iklim, narasi yang diangkat itu umumnya berfokus pada dampak krisis iklim di skala global. Jadi, menjauhkan kita dari konteks lokal atau menjauhkan dari permasalahan yang memang dekat dengan kita," serunya dalam diskusi daring, Selasa (5/3).

Nastiti menekankan, malah di Indonesia juga sering terjadi (manuver) membingkai krisis iklim ketika mengucur program dari perusahaan tambang. Misalnya, perusahaan tambang membuat sebuah kampanye menulis artikel tentang pertambangan berkelanjutan. Itu 'kan jadi membawa perubahan iklim tapi disusupi oleh agenda-agenda pihak yang sebenarnya memperparah krisis iklim itu sendiri?

Gagal menerjemahkan temuan ilmiah dalam kacamata fiksionalisasi. "Sejujurnya ini penyakit juga di media kita," sela Nastiti. Yang belum lama ini paling heboh, katanya, muncul temuan ilmiah dari saintis tentang potensi bahwa Bumi akan menjadi the Mini-Ice Age. (Zaman Es Mini secara garis besar membentang pada era dari tahun 1200 hingga 1850, ketika negara-negara di belahan bumi utara mengalami musim dingin yang sangat dingin.)

"Alih-alih memberi konteks, memberi edukasi tentang temuan ilmiah itu, yang dilakukan media membuat temuan ilmiah ini seolah-olah fiksi. Sensasi seperti mendekati kiamat atau seperti memakai foto (berita) saja diambil dari film. Ini 'kan bingkai-bingkai yang membuat kita merasa sedang menuju zaman es. Tapi jadinya publik memahami ini kisah-kisah yang fiksi saja," ucapnya.

"Bukan sesuatu yang membuat kita tergerak untuk merasa penting dan hal mendesak, begitu. Ini membuat apatisme tumbuh di sisi publik, kalau melihat berita seperti itu, bukannya tergerak untuk belajar soal isu perubahan iklim atau melihat temuan studinya yang asli. Justru merasa 'Apa sih ini?' seperti itu saja," kata Nastiti.

Sponsored

Dijabarkannya, apatis tadi berkonsekuensi nyata, bukan hanya publik tidak sadar, kemudian selesai. Tapi iliterate (tunailmiah) publik dalam memahami krisis iklim atau bencana memiliki konsekuensi yang nyata.

Salah satunya ialah berujung pada konflik. Misalnya, ini dikutipnya sebagai kejadian sungguhan, ketika orang tidak memahami penyebab banjir itu apa, terus tiba-tiba mereka menyegel toko miras. Atau pihak tertentu berupaya mengkampanyekan, memobilisasi hate discourse atau wacana kebencian terhadap satu kelompok tertentu. Lantaran tuduhan sebagai penyebab bencana alam.

"Kita itu jadi bertanya, kenapa sebenarnya krisis iklim itu diberitakan seperti itu oleh media? Kenapa narasi-narasi yang edukatif, komprehensif, yang mencerahkan, dan terutama adalah kenapa narasi yang berusaha menyambungkan antara publik dan ilmuwan itu malah sepi sekali di media?" tanya Nastiti.

Itu adalah salah satu pertanyaan yang juga jadi fokus program di mana Remotivi berupaya bertanya dan mengobrol dengan awak media sendiri. Apa saja tantangan yang mereka rasakan, demikian Nastiti memungkasi.      

Berita Lainnya