sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jurnalisme hati nurani dalam notulen Kang Maman

"Betul, oplah naik. Tetapi di situlah saya menemukan pukulan yang luar biasa dan saya merasa berdosa sampai hari ini."

Arpan Rachman
Arpan Rachman Senin, 28 Feb 2022 20:26 WIB
Jurnalisme hati nurani dalam notulen Kang Maman

"Tidak bhinneka, bukan Indonesia. Keberagaman bukan untuk diseragamkan."
- Maman Suherman

Mengawali kariernya sebagai reporter pada 1998 hingga menjabat pemimpin redaksi di Kelompok Kompas Gramedia, Maman Suherman berhenti pada 2003. Sekarang, dia menjadi penulis terkenal dengan banyak judul buku telah dibesut tangan dinginnya.

Figurnya termasyhur di publik sebagai sosok berkepala plontos, berkaca bulat, dan murah senyum. Maman bernostalgia kala dirinya dulu sibuk berkiprah sebagai wartawan. Nostalgia itu ditayangkan dalam podcast Notulen Kang Maman, Kamis (24/2/2022).

"Puluhan tahun saya jadi wartawan, saya selalu diingatkan bahwa produk jurnalistik itu kata kuncinya dua: verifikasi dan konfirmasi. Tanpa itu, bukan produk jurnalistik. Tetapi pengalaman membuktikan, (walaupun) sudah punya dua patokan tersebut, saya masih menganggap belum cukup. Apa buktinya, misalnya?" dia beretorika membuka pertunjukan.

Retorika itu diiringi persuasi. Pemirsa podcast diajaknya untuk membayangkan. Dia pernah didatangi oleh seorang anggota tim yang dibawahinya. Anggota tim berkata, "Ada satu artis kita yang berjuang di luar negeri, terkena AIDS." Saat itu di tahun 90-an, ledakan berita tersebut akan luar biasa, pasti bisa menaikkan oplah.

"Saya dengan naluri 'kebinatangan' untuk mengejar oplah, langsung mengatakan: 'Kejar, tapi tetap jaga prinsip jurnalistik: verifikasi-konfirmasi.' (Anggotanya bertanya:) 'Maksudnya apa, Kang Maman?' (Maman menjawab:) 'Wawancara dong, orang tersebut, minimal orang tuanya atau keluarganya'," ujar Maman.

Karena merasa sangat dekat dan mengenal dengan baik keluarga itu, Maman tidak mau ikut-ikutan. Dia khawatir nanti akan ada unsur subjektivitas dan hal-hal yang sifatnya malah justru tidak mendukung pemberitaan tersebut.

Sehingga anggota tim itu mengatakan, "Oke, saya wawancara." Dia wawancarailah ibunya. Karena merasa sudah verifikasi dan konfirmasi, Maman dan timnya merasa sudah sah, muncullah artis itu sebagai cerita utama. Dikasih tanda tanya pula: 'Si A Artis Kita Menderita AIDS?'

Sponsored

Maman mengingat apa yang kemudian terjadi. "Betul, oplah naik. Tetapi di situlah saya menemukan pukulan yang luar biasa dan saya merasa berdosa sampai hari ini, dan masih tidak mungkin terhapus. Hubungan saya retak dengan keluarga tersebut, dengan figur publik itu, dan saya merasa dia berhak untuk marah kepada saya," sesalnya.

Apa sebabnya? Tanpa setahu si artis, ternyata anggota tim yang mengusulkan ide tersebut punya skenario lain. Mungkin dia berkolaborasi kongkalikong dengan orang-orang yang berkepentingan dengan artis tersebut untuk dijual di Indonesia. Artis itu pun tidak tahu cerita itu.

"Baru saya tahu belakangan hari ketika kemudian artis itu datang, lalu ada konferensi pers, dengan tema utama bukan soal dia akan mengadakan pertunjukan. Dengan tema utama, justru pertanyaan: apakah betul Anda menderita AIDS? Hari itu, artis tersebut langsung dengan tegas mengatakan: 'Ini fitnah yang luar biasa buat saya!' (Reaksi) saya kemudian kaget," ucap Maman.

Rasa syok masih terbayang akibat insiden tersebut, Maman tidak berkelit menutupinya. Siapa moderator acara tersebut? Orang yang memberi informasi kepada Maman bahwa artis itu mengidap penyakit AIDS.

Coba bayangkan, pemirsa!

Anggota timnya sendiri ternyata punya kepentingan untuk mencari berita yang bisa meningkatkan viral, dan akhirnya ada press conference, kemudian dia yang ditunjuk menjadi moderator. Dia mendapat rezeki dari hal tersebut. Dia berkongkalikong dengan orang yang memang punya kepentingan untuk meledakkan peristiwa. Bahasa sekarang 'memviralkan' hal tersebut.

"Ini yang kemudian mengingatkan saya bahwa verifikasi dan konfirmasi kadang-kadang tidak cukup. Hati nurani menjadi penting. Jurnalisme hati nurani menjadi sangat penting," pesannya.

Maman selalu tertawa dan marah pada jurnalis yang kalau bertemu dengan artis tidak punya persiapan apa-apa. Cuma satu persiapan: memancing artis dengan pertanyaan yang membuat si artis marah, tersinggung, sakit hati. Misalnya, wartawan memunculkan saja sesuatu: "Eh, benar ya kamu seperti ini?"

Kalau artisnya tidak siap, pasti dia bertanya: "Kata siapa?" Wartawannya membalas: "Kami dengar kok!" Si artis balik tanya lagi, "Ceritakan dulu dong, kata siapa?" Lalu wartawan itu, dengan tenang, mengatakan, "Kami melindungi narasumber kami. Tapi kami dapat isu seperti itu."

"Ayo, jujurlah," kata Maman. "Ada tidak jurnalis seperti itu? Saya beberapa kali menemukan hal tersebut selama perjalanan karier saya."

Jadi cuma menciptakan supaya ada berita, wartawan melemparkan isu yang bukan dia dengar sendiri dari pengakuan atau kesaksian orang lain. Maman selalu mengejek itu, "Jurnalisme menurut narasumber yang kami lindungi dan tidak ingin disebut namanya."

Ini, menurut Maman, sebuah kejahatan yang tidak boleh selalu dilakukan, dan tidak bisa diulangi, karena akan merugikan banyak pihak, termasuk juga merugikan pembaca, penonton, dan pendengar berita tersebut.

"Satu hal: verifikasi penting, konfirmasi sangat penting. Jangan tinggalkan hati nurani," nasihat Maman Suherman menutup podcast yang bernas di episode 013.

Berita Lainnya