Kepentingan politik pemilik media jangan masuk ke news room

Dewan Pers mengharapkan semua pekerja media untuk melapor ke Dewan Pers apabila mendapat tekanan dari pimpinan media

Kepentingan politik pemilik media jangan masuk ke news room Diskusi publik di DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (8/11)./Kudus Purnomo Wahidin

Beberapa pihak mengkhawatirkan independensi media dalam menyajikan berita ke masyarakat. Mengingat banyak perusahan media yang dipimpin oleh elite politik dan memiliki kepentingan politik.

Menyikapi gejala tersebut, Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo, mengatakan, gejala tersebut memang kerap muncul disaat hajatan politik, sebab terkadang memiliki kepentingan serupa dengan elite politik.

Yoseph mengakui tidak ada larangan bagi pimpinan media untuk berpolitik. Kendati begitu,  kepentingan politik tersebut ada baiknya tidak masuk ke dalam news room dimana berita kerap diproses.

"Tidak apa yang mempunyai media itu berpolitik. Tetapi news room harus tetap dijaga oleh orang yang independen pula," paparnya dalam diskusi publik di DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (8/11).

Lebih jauh, Yosep menyarankan kepada semua pekerja media untuk melapor ke Dewan Pers apabila mendapat tekanan dari pimpinan media. Khususnya apabila dipaksa untuk memproduksi berita yang tendensius tanpa menimbang kode etik jurnalistik.

"Kenapa mereka tidak pada melapor?Ini berkaitan keuangan dan karir, jadi mereka tidak berani. Padahal kami sudah membuka pintu selebar-lebarnya apabila ada yang ingin melaporkan," pungkasnya.

Di sisi lain, Politisi PDI-Perjuangan Effendi Simbolon mengatakan, ada baiknya publik bermawas diri di tengah situasi politik yang memanas dalam memilah berita di media cetak televisi maupun online. Suasana politik kerap kali sentimen terselip di dalam berita yang diproduksi.

"Orang ikut ribut karena isinya hanya komentar yang terkadang tak penting, seperti gaya bicara orang lah, gaya berpakaian lah," paparnya.

Pengamat Politik Universitas Indonesia Bonny Hargens menilai, para elite politik berlomba-lomba, memiliki dan mempengaruhi media untuk memudahkan kepentingannya, sehingga bermuara kepada framing berita yang tak sehat.

"Tanpa verifikasi, semua berlomba-lomba kesana, sekarang semua media bermain dalam lingkaran ini. Itu semua terlihat dari politik framing yang dilakukan di setiap media," paparnya.

Bonny menyarankan, agar kedepan para elite politik, menahan ego untuk mengendalikan media, sebab hal tersebut dapat merusak idealisme pekerja media.


Berita Terkait