logo alinea.id logo alinea.id

38% warga Kota Serang masih BAB di kebun

Dari enam kecamatan di Kota Serang, wilayah Kasemen menjadi kecamatan paling banyak warganya yang buang air sembarangan

Khaerul Anwar
| Khaerul Anwar Rabu, 20 Mar 2019 12:37 WIB
38% warga Kota Serang masih BAB di kebun

Dinas Kesehatan Kota Serang mencatat sebesar 38% warga Ibu Kota Provinsi Banten masih buang air besar di kebun alias dolbon. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Walikota Serang Subadri Ushuludin saat membuka acara advokasi sanitasi total berbasis masyarakat Kota Serang, di salah satu hotel di Kota Serang, Rabu (20/3).

Dari enam kecamatan di Kota Serang, wilayah Kasemen menjadi kecamatan paling banyak warganya yang buang air sembarangan. Selain sanitasi buruk, Kecamatan Kasemen juga menjadi kecamatan penyumbang angka gizi buruk dan stunting tertinggi.

Dari 62 balita yang mengalami gizi buruk di Kota Serang, 25 di antaranya ada di Kecamatan Kasemen. Kemudian sebanyak 2.543 anak mengalami stunting di Ibu Kota Provinsi Banten tersebut. 

"Warga yang sudah memiliki jamban sekitar 72%, sedangkan yang masih dolbon sekitar 38%. Tertinggi masih di Kecamatan Kasemen," kata Subadri.

Selain faktor ekonomi, tingginya angka dolbon di Kota Serang juga dikarenakan minimnya pemahaman masyarakat tentang pola hidup sehat. "Kendala masih pada kesadaran masyarakat, betapa banyak penyakitnya jika buang air sembarangan. Lingkungannya belum sadar," katanya.

Untuk mengatasi tingginya angka dolbon tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Serang akan menggulirkan tiga program untuk mengatasi masalah tersebut. Pertama, program Gardu Jaga (dua ribu rupiah untuk jamban keluarga) upaya gotong royong masyarakat. Kedua, program MCK komunal Pemkot Serang pada 2019 akan dialihkan ke keluarga. Ketiga, dana bantuan umum kelurahan, akan diarahkan untuk memprioritaskan masalah keberadaan masyarakat yang tidak mampu atau belum memiliki jamban. 

"Nah, dengan tiga terobosan ini mudah-mudahan dalam dua tahun sudah bebas dari dolbon," katanya.

Sementara Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, mengatakan, program penyediaan air bersih dan sanitasi itu sangat penting karena program perbaikan sanitasi, akan berkontribusi pada pencegahan wabah penyakit menular yang terjadi karena buang air besar sembarangan, kontaminasi air tanah dan sumber air oleh kotoran manusia atau limbah domestik.

Sponsored

Menurutnya salah satu penyakit yang umum terjadi karena lingkungan hidup yang tidak bersih adalah penyakit diare pada anak dan kasus stunting banyak terjadi di daerah yang sanitasinya kurang layak.

"Ada dua faktor yang menyebabkan masyarakat buang air besar sembarangan yakni, karena faktor kebiasaan sehingga perlu dikampanyekan perilaku hidup bersih dan sehat, kemudian karena mungkin fasilitas sanitasinya kurang baik di masing-masing rumah maupun komunal, sehingga memang perlu disediakan sarana sanitasi yang layak bagi masyarakat," katanya. (Ant)