sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Akademisi: Angka kematian nakes tinggi karena tes Covid-19 buruk

IDI mencatat, 100 dokter meninggal dunia hingga akhir Agustus 2020 saat menangani Covid-19.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Jumat, 04 Sep 2020 06:31 WIB
Akademisi: Angka kematian nakes tinggi karena tes Covid-19 buruk
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 291182
Dirawat 61839
Meninggal 10856
Sembuh 218487

Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), Andani Eka Putra, menilai, tingginya angka kematian tenaga kesehatan (nakes) imbas buruknya pengujian (testing) coronavirus baru (Covid-19). Karenanya, langkah itu berperan penting dalam penanganan pandemi.

Dirinya juga menyebut, tingginya kasus Covid-19 pada suatu negara dalam tempo singkat tidak berarti buruk. Justru membuat penanganan lebih cepat dan efisien lantaran memudahkan mendeteksi orang-orang yang berpotensi terpapar.

"Karena mereka cepat melakukan testing, mereka juga cepat dalam bertindak," ujarnya dalam webinar, Kamis (3/9) malam.

Kasus positif Covid-19 di Indonesia yang dikonfirmasi pemerintah menembus 100.000 pada 27 Juli 2020 atau 147 hari sejak kali pertama diumumkan, 2 Maret. Sedangkan sampai 3 September, pukul 12.00 WIB, jumlah pasien terkonfirmasi mencapai 184.268 jiwa–sebesar 7.750 pasien di antaranya meninggal dunia.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, 1.353.291 orang telah mengikuti tes usap (swab test) secara polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM) per 3 September, pukul 12.00 WIB. Sebanyak 31.782 jiwa di antaranya peserta TCM. Sehingga, tingkat kasus positif (positivity rate) nasional sebesar 13,6%.

Sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rasio tes di suatu negara semestinya 1 per 1.000 orang setiap pekan. Hingga kini, rasio pengujian Indonesia baru 0,44 per 1.000 orang dalam seminggu terakhir. 

Di sisi lain, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat, sebanyak 100 sejawatnya berpulang saat menangani Covid-19 hingga akhir Agustus 2020. Bagi Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), ini capaian terburuk karena tergolong tertinggi di Asia Tenggara dan dunia.

Andani lantas memperkenalkan konsep pengendalian 5P untuk memutus rantai penularan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. "Adalah pendidikan, pelacakan, pemeriksaan, pengasingan, dan perawatan."

Sponsored

Pendidikan dan pelacakan dilakukan untuk mencegah orang tidak sakit tertular dengan mencuci tangan, menjaga jarak, menggunakan masker, dan mandi saat tiba di rumah usai bepergian dari tempat-tempat berisiko. Adapun  pemeriksaan, pengasingan, dan perawatan guna mencegah orang sakit menularkan kepada orang sehat.

Pada kesempatan sama, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unand, Defriman Djafri, membagi masyarakat menjadi empat kelompok dalam merespons pandemi.

"Kelompok yang aman, yang panik, yang menganggap enteng dan kadang-kadang sok tahu, serta kelompok yang tidak terjangkau," paparnya. 

Menurutnya, banyak masyarakat yang meremehkan Covid-19. Kelompok ini tergolong malas memakai masker dan sesumbar kebal terhadap infeksi.

Sementara itu, Direktur Pengelolaan Logistik dan Peralatan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Rustian, menyatakan, perlu solidaritas bersama dalam menghadapi pagebluk. Pangkalnya, beberapa faktor memengaruhi penyebaran Covid-19, seperti fasilitas kesehatan, aktivitas, dan jumlah penduduk.

Dia menambahkan, pengembangan vaksin Covid-19 di Indonesia dilakukan melalui kolaborasi internasional dengan Sinovac, perusahaan farmasi asal China. Ada pula sinergi dalam negeri dan masih berjalan sampai kini.

"Vaksin Merah Putih diharapkan bisa dilakukan uji klinis pada 2021 nanti," tandasnya.

Berita Lainnya

, : WIB

, : WIB

, : WIB