sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BNPT sebut Ba'asyir tolak program deradikalisasi

Abu Bakar Ba'asyir menolak program deradikalisasi oleh tim  assessment  selama berada di penjara

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Kamis, 24 Jan 2019 16:14 WIB
BNPT sebut Ba'asyir tolak program deradikalisasi

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius mengungkapkan Abu Bakar Ba'asyir menolak program deradikalisasi oleh tim  assessment selama berada di penjara. 

Hal itu dikerenakan, Abu Bakar Ba'asyir merupakan napiter yang masuk dalam kategori ideologi, sehingga sulit untuk direduksi sudut pandangnya mengenai terorisme.

"Mereka tidak mau ikut deradikalisasi, karena kan bertentangan," paparnya di DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis(24/1).

BNPT telah berupaya melibatkan sejumlah ulama untuk berdiskusi dengan ustaz Ba'asyir, agar mereduksi pandangannya. Namun belum membuahkan hasil.  

Meskipun demikian Suhardi mengatakan, pendekatan kemanusiaan tetap dilakukan kepada pengasuh Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Surakarta tersebut, mengingat kondisinya yang telah sepuh. 

"Pendekatan kemanusiaan tetap dilakukan. Kami beri keutamaan untuk itu, kan kondisinya sudah sepuh, kami tetap lakukan," paparnya.

Jika nanti Abu Bakar Ba'asyir dibebaskan, maka pihaknya akan tetap melakukan pendekatan terhadap Abu Bakar Ba'asyir, guna meredam paham radikalisme.

Sebelumnya Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly memastikan terpidana terorisme Abu Bakar Ba'asyir batal bebas bersyarat.

Sponsored

Politisi PDI Perjuangan itu menegaskan pembatalan kebebasan Abu Bakar Ba'asyir lantaran menolak menandatangi kesetiaannya terhadap NKRI.

"Ada beberapa sarat yang harus dipenuhi. Salah satu sarat yang penting adalah kesetiaan pada NKRI dan negara," katanya di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu (23/1). 

Untuk syarat lain, menurut Yassona, Ba'asyir sudah menjalani 2/3 dari masa tahanan yang dijatuhkan kepadanya. Padahal, pemerintah sudah berusaha agar Ba'asyir memenuhi segala persyaratan, demi bisa kembali ke keluarga.

Sebelumnya pemerintah juga pernah menawarkan agar Ba'asyir dipindahkan ke Solo, Jawa Tengah. Hanya saja, keluarga Ba'asyir keberatan. 

"Keluarga mengatakan kalau memang tidak diberi tahanan rumah, lebih baik di Lapas Gunung Sindur saja. Karena, dekat dengan Jakarta, seandainya terjadi sesuatu karena alasan kesehatan," katanya.

Selama ini, menurut Yassona, Ba'asyir selalu didampingi oleh seorang pembantu namanya Tamping. (ant)