sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BPIP kritik MUI: Indonesia bukan negara agama

Tidak ada yang salah dengan kebiasaan para pejabat membuka acara menggunakan salam semua agama. 

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Senin, 11 Nov 2019 21:30 WIB
BPIP kritik MUI: Indonesia bukan negara agama

Pelaksana tugas (Plt) Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Haryono mengkritik imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur yang isinya melarang penggunaan salam berbagai agama dalam sambutan pejabat negara. Menurut dia, tidak ada yang salah dengan kebiasaan para pejabat membuka acara menggunakan salam lintas agama. 

"Pejabat negara sebenarnya mengucapkan salam (lintas agama) itu tidak masalah karena itu bagian dari membangun toleransi keberagaman yang ada di Indonesia," tutur Haryono kepada wartawan di Jakarta, Senin (11/11). 

Sebelumnya, Ketua MUI Jatim Abdusshomad Buchori menyebut kebiasaan para pejabat membuka acara resmi dengan salam lintas agama keliru. Menurut dia, hal itu sama saja artinya dengan mencampuradukan semua agama. Karena itu, ia mengimbau kebiasaan tersebut dihentikan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Pusat Anwar Abbas mengatakan MUI pusat mendukung imbauan tersebut. Menurut Anwar, imbauan ini telah sesuai dengan ketentuan yang ada di Alquran dan hadis.

"Ini juga tidak berarti MUI Jatim intoleransi karena memang setiap agama memiliki ajaran dan sistem kepercayaan masing-masing. Kalau pemimpinnya Islam, memang tidak boleh," kata Anwar.

Anwar mengatakan, sebaiknya pejabat publik menggunakan salam yang telah lazim digunakan dalam agamanya masing-masing. "Imbauan ini kan juga upaya agar umat Islam bisa beribadah lebih teratur dan tertuntun," ujar dia.

Haryono mengatakan, tidak seharusnya ayat-ayat Alquran diartikan secara harfiah. Apalagi, Indonesia bukan negara agama, tapi negara beragama yang berbasis ideologi Pancasila.

Dalam konsep negara beragama, menurut Haryono, sejatinya toleransi harus dikedepankan. "Sehingga ucapan salam yang diberikan oleh para nabi, siapa pun nabinya dan agamanya, itu harus dipahami bahwa nabi itu diturunkan untuk membangun peradaban," urai Haryono.

Sponsored

Haryono juga menyinggung konsep rahmatan lil alamin dalam agama Islam. Mengacu pada konsep itu, seharusnya umat Islam juga patut menjaga hubungan antarsesama.

"Untuk itulah kenapa di Indonesia para pendiri bangsa kita dulu lebih memilih kita bukan negara agama, tapi lebih kepada negara beragama. Itu agar kita bisa saling menghargai dan menghormati orang yang berbeda agama dengan kita," ungkapnya.

Salah satu pintu untuk menghargai perbedaan, menurut Haryono, ialah lewat salam. Asalkan bukan dalam forum keagamaan, lanjut dia, seharusnya kebiasaan mengucap salam berbagai agama tidak perlu dipersoalkan. "Bagaimana bangsa ini bisa maju jika urusan salam saja masih dipermasalahkan," kata dia.