close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo. /Antara Foto
icon caption
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo. /Antara Foto
Nasional
Rabu, 02 Oktober 2019 20:48

Dosen IPB donatur rencana serangan di Mujahid 212

AB bahkan sengaja merekrut seorang nelayan yang jago membuat bom ikan asal Ambon. 
swipe

Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) berinisial AB merupakan donatur para perusuh yang berencana menggelar serangan teror di aksi Mujahid 212 di Jakarta, Sabtu (28/9) lalu. 

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, AB bahkan sengaja merekrut seorang nelayan yang jago membuat bom ikan asal Ambon. 

"Insinyur AB ini donatur. Dia mendanai eksekutor yang direkrut oleh S alias L dan OS. S alias L juga diberangkatkan dari Ambon dengan uang pribadinya sendiri," tuturnya di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (2/10). 

Sebelumnya, beredar kabar AB menyimpan 28 bom molotov di kediamannya di Bogor. Namun, hal itu dibantah Dedi. Hasil uji forensik menunjukkan bom yang disimpan AB ialah bom ikan.

"Bahan yang digunakan lebih banyak lagi dibandingkan molotov. Itu bom ikan,” kata Dedi. 

Dedi mengatakan, saat ini polisi tengah mendalami kemungkina ada mahasiswa yang turut direkrut oleh AB untuk melancarkan aksinya. Selain itu, polisi juga masih mendalami motif AB.

"Masih terus kita dalami. Sementara hasil pemeriksaan hanya untuk membuat rusuh sampai menggagalkan pelantikan DPR dan turunannya sampai penggagalan pelantikan Presiden," ucapnya.

Selain AB, polisi juga menangkap delapan calon perusuh lain di berbagai lokasi. Mereka ialah OS, JAF, AL, NAD, SAM, YF, ALI, dan FEB.

Salah satu tersangka yang ikut ditangkap ialah pensiunan TNI Laksamana Muda (Purn) Sony Santoso. Ia diduga ikut berencana membuat kerusuhan pada aksi Mujahid 212 di Patung Kuda, Jakarta Pusat.

Terkait penangkapan Sony, Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu ikut berkomentar. Menurut dia, jika terbukti bersalah, Sony melanggar sumpah prajurit dan berkhianat terhadap negara.

"Setiap prajurit sudah pasti membawa sumpah Sapta Marga dan itu melekat sampai mati. Kalau melanggar sumpah, sama dengan melanggar janjinya terhadap Tuhan (dan) juga berarti mengkhianati negara," ujar Ryamizard di Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Rabu (2/10).

Lebih jauh, Ryamizard berharap tidak ada lagi purnawirawan TNI yang ditangkap karena terlibat radikalisme. "Tanpa adanya persatuan, maka akan sulit bagi kita untuk terus memperjuangkan kepentingnan rakyat, bangsa, dan negara," katanya.

img
Ayu mumpuni
Reporter
img
Soraya Novika
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan