sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Dua bocah jadi tersangka pengeroyokan suporter Persija Haringga Sirila

Dua bocah berusia di bawah 17 tahun menjadi tersangka pengeroyokan suporter Persija Haringga Sirila bersama enam orang lainnya.

Sukirno
Sukirno Selasa, 25 Sep 2018 06:26 WIB
Dua bocah jadi tersangka pengeroyokan suporter Persija Haringga Sirila

Dua bocah berusia di bawah 17 tahun menjadi tersangka pengeroyokan suporter Persija Haringga Sirila bersama enam orang lainnya.

Kedua bocah itu adalah Satria Muhammad Renaldi (17) dan Dani Fahmi Alamsyah (16). Keduanya menjadi tersangka pengeroyokan berujung maut terhadap Haringga.

Polrestabes Bandung telah mengamankan 16 orang terkait kejadian pengeroyokan berujung maut terhadap Haringga Sirila (23), seorang suporter Persija atau anggota The Jakmania, yang terjadi menjelang laga Persib vs Persija di Stadion GBLA, Minggu (23/9).

"Sampai sekarang Satreskrim Bandung telah mengamankan sekitar 16 orang. Dari 16 orang, sebanyak delapan orang sudah ditetapkan menjadi tersangka," kata Kasatreskrim Polretabes Bandung, AKPB M Yoris Marzuki, saat menggelar jumpa pers di Mapolrestabes Bandung, Senin (24/9).

Kedelapan tersangka pengeroyokan berujung maut terhadap Haringga adalah delapan orang tersangka kasus ini adalah sebagai berikut: Goni Abdulrahman (20), Aditya Anggara (19), Dadang Supriatna (19), Satria Muhammad Renaldi (17), Dani Fahmi Alamsyah (16), Budiman (41), Cepi (20) dan Joko Susilo (32).

Menurut Yoris, ke delapan orang tersangka itu dijerat dengan pasal 170 tentang penganiayaan secara berkala dan mendapat ancaman selama 7 tahun atau lebih.

"Sampai saat ini Polisi masih melakukan upaya penyidikan terhadap pelaku di Satreskrim Polretabes Bandung," kata dia.

Ia mengatakan kejadian pengereyokan berlangsung sebelum laga Persib melawan Persija dimulai.

Sponsored

Kejadian bermula ketika seorang pengendara motor melintasi area parkiran Stadion GBLA saat sedang dilakukannya sweeping oleh Bobotoh pukul 13.00 WIB.

"Mereka mendapatkan satu orang diduga Jakmania yang memiliki KTP dari Jakarta. Setelah itu, oknum bobotoh langsung melakukan penganiayaan berkali-kali," unkapnya.

Korban yang dikeroyok sempat meminta tolong kepada warga sekitar. Namun, oknum bobotoh lain kembali melakukan pengeroyokan menggunakan balok kayu, pecahan piring dan botol dan benda benda keras lainnya.

Korban langsung tewas di tempat kejadian dengan keadaan yang mengenaskan, di mana korban datang ke Bandung seorang diri.

Saat kejadian pengeroyokan berlangsung ada salah satu oknum supoter yang sengaja merekam aksi pengeroyokan dan menyebarkan di media sosial.

Yoris mengimbau kepada para oknum pengeroyokan untuk segera menyerahkan diri ke kantor Polrestabes Bandung maupun kantor polisi terdekat. "Pelaku dipastikan akan terus bertambah," ucap dia.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak memposting kembali video pengeroyokan di akun sosial media mereka.

Gubernur Sumatra Utara sekaligus Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi. (Antara Foto).
 
Ultimatum PSSI

Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memberikan ultimatum kepada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pasca insiden meninggalnya seorang pendukung sepakbola dalam laga Persib melawan Persija di Stadion GBLA.

"Ini warning keras bagi PSSI dan operator. Lakukan sesuatu, agar tidak terulang kembali, jangan ditukar nyawa dengan bola," kata Imam.

Nahrawi mengaku kaget atas insiden pengeroyokan berujung maut terhadap Haringgal Sirila (23), seorang supporter The Jak sebelum laga klasik Persija vs Persib, Minggu sore kemarin (23/9).

"Saya menangis, kecewa, marah, mengutuk keras peristiwa ini. Tentu ini tidak boleh diulangi lagi, kita berduka cita sangat mendalam," ujarnya.

Dia menegaskan bahwa insiden pendukung sepakbola yang berujung maut kerap kali terjadi di Indonesia. Untuk itu, dengan nada agak meninggi, Nahrawi meminta agar insiden serupa tidak lagi terjadi.

Dia meminta agar PSSI dan operator Liga I segera mengambil langkah penting, termasuk mempertemukan dan mendamaikan kedua kelompok supporter klub bertetangga tersebut.

"Ini warning terakhir dari pemerintah. Lakukan sesuatu. Selain usut tuntas, PSSI harus lakukan upaya yang konkrit. Pertemukan kedua belah pihak. Jangan jadikan ini sebagai perpecahan," tegasnya.

Lebih jauh, Imam menjelaskan saat ini pemerintah tengah melakukan evaluasi pasca insiden tersebut. Seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pertandingan itu dipanggil. Pihaknya juga meminta agar insiden tersebut diusut tuntas.

"Sekarang sedang dilakukan evaluasi di Jakarta. Semua sedang kami panggil. Kita akan lihat nanti, bagaimana pembiaran yang terjadi. Kalau memang ada pembiaran tentu kita akan evaluasi," tuturnya. (Ant).