sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Epidemiolog sebut jumlah Covid-19 di RI 10 kali data resmi pemerintah

Dia meyakini jumlah penduduk Indonesia yang terpapar Covid-19 sebenarnya 10 kali lipat dari data pemerintah yang ada saat ini.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Kamis, 29 Jul 2021 17:57 WIB
Epidemiolog sebut jumlah Covid-19 di RI 10 kali data resmi pemerintah

Epidemiolog Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono mengingatkan pemerintah soal potensi ledakan Covid-19 di Tanah Air. Menurutnya, kondisi Covid-19 di Tanah Air hingga Juli 2021 sedang tidak baik-baik saja. Pun jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 bukanlah tiga juta lebih sebagaimana data Satgas Penanganan Covid-19 saat ini.

"Sebenarnya kasus Covid-19 di Indonesia bukan dua atau tiga juta. Tolong dicatat, itu bukan dua atau tiga juta. Itu 10 kali lipat lebih dari yang saya temukan di surveillance. Jadi saya survei, 10 kali lipat lebih. Seharusnya kita kedua (kasus positif terbanyak) di dunia," kata Tri dalam webinar Badan Keahlian Sekretariat Jenderal DPR RI, Kamis (29/7).

Tri mengatakan, sejak Maret 2020 hingga Januari 2021, data Covid-19 di Tanah Air seolah-olah flat atau dalam kondisi bagus. Namun, jumlah penduduk Indonesia yang terpapar Covid-19 sebenarnya 10 kali lipat dari data pemerintah yang ada saat ini.

Tri menyebut, jumlah itu meningkat tajam setelah munculnya varian baru Covid-19, yakni alpha dan delta. Setidaknya tergambar dari tiga survei yang berbeda. Pertama, sero survei di Provinsi Bali pada November-Desember 2020. Survei menemukan bahwa prevalensi orang yang terinfeksi Covid-19 itu 54 kali dari yang dilaporkan.

Sponsored

Kedua, survei yang dilakukan Tri dengan mengambil sampel di 17 provinsi dan 69 kabupaten. "Saya masih off the record datanya. Tetapi saya menyebutkan bahwa data survei orang yang terinfeksi Covid-19 itu lebih dari atau 10 kali dari yang dilaporkan," jelas Tri.

Ketiga, sero survei di DKI Jakarta pada Januari-Maret 2021, dimana prevalensi sudah hampir maksimal yakni 45%.

"Bayangkan, dari data sebelumnya kemudian naik meningkat tajam. Tetapi tidak benar-benar real. Tidak benar-benar menggambarkan data Covid di Indonesia. Saya benar-benar mengoreksinya mulai dari Maret 2021. Saya mengatakan (kepada pemerintah) bahwa data surveillance jelek. Saya gak bisa mengoreksi sampai Juni 2021. Baru terkoreksi saat terjadi tsunami karena ada varian baru yaitu alpha dan delta," pungkasnya.

Berita Lainnya