logo alinea.id logo alinea.id

Garuda Woyla, peristiwa pembajakan pesawat di Indonesia

Sebelum dibajak, pesawat itu seharusnya terbang dari bandara Talang Betutu, Palembang, menuju bandara Polonia, Medan.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Jumat, 02 Nov 2018 18:40 WIB
Garuda Woyla, peristiwa pembajakan pesawat di Indonesia

Tragedi kecelakaan pesawat Lion Air JT610 masih menyisakan duka bagi kita semua. Insiden kecelakaan itu masih dalam proses penyelidikan. Kecelakaan pesawat memang beberapa kali terjadi di Indonesia. Selain kecelakaan, dunia dirgantara kita pernah dihebohkan aksi pembajakan pada 1981.

Kronologis pembajakan

Tak ada firasat apapun dalam benak pilot Herman Rante kala dia menerbangkan pesawat Garuda Woyla DC-9 dengan nomor penerbangan GA 206 dari bandar udara Kemayoran, Jakarta, ke bandar udara Talang Betutu, Palembang, pada 28 Maret 1981. Semua berjalan baik. Herman saat itu mengangkasa bersama kopilot Eddy Luwantoro dan tiga pramugari, Lidia, Wiyana, serta Dwiyanti.

Pesawat tersebut kemudian terbang kembali dari Talang Betutu, Palembang, menuju bandara Polonia, Medan pukul 09.50 WIB. Dari bandara Kemayoran, pesawat ini mengangkut 34 penumpang.

Sinar Harapan edisi 4 April 1981 mencatat, ada enam orang warga negara asing dalam penerbangan ini, antara lain Karl Schneider dam Ralph Hunt (Amerika Serikat), Raymond Heischman dan Robert Wainright (Inggris), Hengky Siesem (Belanda), dan Hiromi Higa (Jepang).

Sebanyak 14 penumpang naik di Talang Betutu, Palembang. Menurut Berita Buana edisi 30 Maret 1981, tiba-tiba saja lima orang bersenjatakan pistol, granat tangan, dan senjata tajam mengancam para penumpang dan awaknya. Mereka lolos dari pemeriksaan, lantaran sistem keamanan yang longgar di bandara Talang Betutu.

Robert Wainright warga negara Inggris yang berhasil meloloskan diri dari pembajak di pesawat Garuda Woyla, ditolong pasukan Thailand. (Sinar Harapan, 4 April 1981). 

Sponsored

“Sistem pemeriksaan dengan detekor tidak terdapat di bandara itu,” kata Sekretaris Ditjen Perhubungan Udara Warsito kepada Berita Buana, 30 Maret 1981.

Berita Buana merupakan salah satu media cetak yang kala itu mengisahkan secara lengkap kronologis pembajakan. Para pembajak, tulis Berita Buana edisi 30 Maret 1981, menodongkan senjata mereka ke awak setelah berada dalam posisi 100 mil jarak terbang dari Palembang, pukul 10.10 WIB.

Kejadian itu berada persis di atas langit Jambi, ketinggian 28.000 kaki. Pembajak lalu memaksa pilot terbang ke bandara Penang, Malaysia.

Kemudian, pesawat tiba di bandara Penang, Malaysia, pada 11.20 WIB. Di sana, para pembajak meminta mengisi bahan bakar dan sempat meminta makanan kepada pihak bandara.

“Perempuan tua berusia 76 tahun B. Panjaitan diturunkan pembajak di Penang, karena kesehatannya terganggu,” tulis Berita Buana, 30 Maret 1981.

Sabtu sore, pukul 16.07 WIB, pesawat itu kemudian terbang ke bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand. Dari sana, tujuan para pembajak adalah Kolombo, Sri Lanka. Namun, menurut Berita Buana edisi 31 Maret 1981, pemerintah di Sri Lanka sendiri tak memberikan izin pendaratan.

Penyerbuan

Majalah Tempo edisi 4 April 1981 menulis, kejadian pembajakan pesawat tersebut kali pertama diketahui pilot A. Sapari di udara. Herman dan Sapari bersahabat baik. Kebetulan, di angkasa pesawat mereka berpapasan. Lantas, Sapari yang tengah mengemudikan F-28 milik Garuda Indonesia menegur Herman melalui radio komunikasi penerbangan.

Being hijacked! Being hijacked!” kata Herman, ketika dihubungi Sapari, dikutip dari Tempo, 4 April 1981.

Sapari pun langsung menghubungi menara pengawas bandara Kemayoran, Jakarta. Seharusnya, pesawat nahas itu tiba di bandara Polonia, Medan pada 28 Maret 1981 pukul 10.55 WIB.

Di bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, pesawat ini tertahan selama tiga hari. Sampai-sampai menjadi perhatian pemerintah Thailand saat itu.

Pemerintah Indonesia menunjuk Kepala Badan Intelejen Negara (BAKIN) Jenderal Yoga Sugama dan Duta Besar Indonesia untuk Thailand Hasnan Habib, sebagai tim perunding dengan pembajak.

“Perundingan antara tim perunding Indonesia dengan para pembajak DC-9 Garuda sampai Senin petang (30/3/1981) masih berlangsung. Para pembajak mengajukan dua macam tuntutan, yakni pembebasan 84 tahanan politik dan diminta dikirim ke Bangkok. Mereka juga minta uang sebesar US$ 1,5 juta,” tulis Berita Buana, 31 Maret 1981.

Pintu kokpit pesawat Garuda Woyla DC-9 yang ditembus peluru saat penyerbuan oleh pasukan komando. (Sinar Harapan, 4 April 1981).

Pada Senin malam, Asisten Intelejen Pertahanan dan Keamanan Letjen Benny Moerdani masuk ke dalam pesawat. Masih menurut Berita Buana edisi 31 Maret 1981, Benny menanyakan langsung kepada para pembajak. Setelah perundingan itu, para pembajak malah meminta tuntutan tambahan, yakni mengusir orang-orang Yahudi dari Indonesia.

Salah seorang penumpang warga negara Inggris, Robert Wainright, berhasil meloloskan diri melalui pintu darurat bagian depan pesawat. Namun, dia tertembak dua kali di bagian punggung, meski dinyatakan selamat.

Selasa, 31 Maret 1981 dinihari, akhirnya seluruh sandera berhasil dibebaskan. Puluhan pasukan Komando Anti Teroris Indonesia melakukan serbuan kilat.

Menurut Sinar Harapan edisi 2 April 1981, pasukan komando itu menerobos masuk lewat pintu belakang, pintu darurat, dan pintu servis bagian kanan depan. Pimpinan pembajak bernama Mahrizal terkejut saat pasukan itu masuk pesawat. Dia lalu menembak kepala pilot Herman Rante. Seorang pasukan komando pun tertembak.

Seluruh pembajak tewas diberondong senjata otomatis pasukan komando. Operasi yang dinamakan Operasi Don Mueang itu berlangsung singkat, hanya tiga menit. Namun, menghilangkan dua nyawa, yakni pilot Herman Rante dan anggota pasukan komando Achmad Kirang.

Profil pembajak

Mahrizal, Zulfikar, Wendy, Abdullah, dan Sofian merupakan lima pembajak pesawat Garuda Woyla DC-9. Di dalam pesawat, dikutip dari Sinar Harapan edisi 2 April 1981, Mahrizal sempat berkata kepada salah seorang sandera, kalau cita-cita mereka ingin memurnikan Islam.

Mahrizal dan Zulfikar pun sempat membentak-bentak penumpang yang beragama Islam, menyebut mereka Islam munafik, karena tak mau ikut berjuang seperti mereka. Diketahui kemudian, mereka adalah kelompok yang menamakan diri sebagai Komando Jihad.

Posisi teroris dan pintu masuk penyerbuan pasukan komando ke dalam pesawat yang dibajak. (Sinar Harapan, 4 April 1981).

Komando Jihad adalah gerakan yang menganggap diri aliran Islam murni. Tiga orang pembajak berasal dari Medan, yakni Zulfikar, Sofian, dan Wendy. Mahrizal berasal dari Palembang, sedangkan Abdullah kelahiran Yogyakarta. Mahrizal pernah mendapatkan pendidikan di Arab Saudi.

Salah satu tuntutan pembajak adalah membebaskan 80 orang tahanan politik. Menurut Hendro Subroto dalam buku Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit para Komando, tahanan politik yang dimaksud para pembajak adalah mereka yang terlibat dalam penyerangan Kosekta 8606 Pasir Kaliki, Bandung pada 11 Maret 1981; tahanan dalam teror Komando Jihad pada 1977/1978; dan tahanan dalam teror Warman di Raja Paloh pada 22 Agustus 1980.

Robert Cribb dan Audrey Kahin dalam Historical Dictionary of Indonesia menyebut, Komando Jihad dibentuk pada pertengahan 1970-an. Mereka mengklaim berjuang untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia.

Majalah Tempo edisi 27 September 1986 menyebut, otak dari pembajakan ini adalah Imran bin Muhammad Zein. Dia merupakan pimpinan jamaah, yang membajak pesawat Garuda Woyla dan penyerangan di Pasir Kaliki, Bandung. Imran dieksekusi mati pada akhir Maret 1983. Sel-sel jaringan ini dibasmi melalui operasi intelejen pada pertengahan 1980-an.

Inilah peristiwa pembajakan pesawat komersil pertama dan satu-satunya hingga sekarang. Pembajakan yang dilakukan teroris berkedok agama.