sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Jokowi anugerahkan gelar pahlawan bagi jurnalis perempuan dan rektor

Selain rektor dan jurnalis, tiga anggota BPUPKI juga dianugerahi gelar pahlawan.

Christian D Simbolon
Christian D Simbolon Jumat, 08 Nov 2019 15:07 WIB
Jokowi anugerahkan gelar pahlawan bagi jurnalis perempuan dan rektor

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam orang tokoh. Keenam tokoh tersebut ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK/2019 tertanggal 7 November 2019.

"Presiden Republik Indonesia menganugrahkan gelar pahlawan nasional sebagai penghargaan dan penghormatan tinggi atas jasa-jasa yang luar biasa," ujar Sekretaris Militer Presiden, Mayjen TNI Suharyanto saat membacakan petikan Keppres tersebut di Istana Negara, Jakarta, Jumat (8/11).

Jokowi lalu memberikan langsung tanda kehormatan tersebut kepada ahli waris para pahlawan. Penganugerahan tanda kehormatan disaksikan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjanjanto, Kapolri Jenderal Pol Idham Azis dan para menteri Kabinet Indonesia Maju.

Keenam tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan, yakni Ruhana Kudus, Sultan Himayatuddin Oputa Yii Ko, Abdoel Kahar Moezakir, Prof M Sardjito, Alexander Andries (AA) Maramis, dan KH Masykur.

Ruhana Kudus adalah jurnalis perempuan asal Sumatera Barat. Ruhana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia. Ketika diberedel pemerintah kolonial Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar Sunting Melayu. Surat kabar itu tercatat sebagai surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Sultan Himayatuddin dari Buton, Sulawesi Tenggara. La Karambau atau Sultan Himayatuddin diketahui konsisten berjuang dari dalam hutan dalam mengusir VOC Belanda dari tanah Buton melalui perang gerilya sejak 1755-1776.

Sardjito adalah rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) 1950-1961 dan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) 1964-1970. Ia juga berjasa karena 'penemuan' biskuit Sardjito, yakni makanan khusus yang diramu Sardjito untuk bakal tentara Indonesia yang berada di medan perang. 

Tiga tokoh lainya, yakni Abdoel Kahar, AA Maramis dan KH Masykur adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ((BPUPKI/PPKI).

Sponsored

Sama seperti Sardjito, Abdoel Kahar juga pernah menjabat sebagai rektor Universitas Islam Indonesia, yakni pada periode 1945-1948 dan 1948-1960. 

Adapun AA Maramis pernah menjadi Menteri Keuangan periode 1945-1945 dan 1948-1949. Maramis adalah orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama dengan denominasi 1, 5, dan 10 sen. 

Selain sebagai anggota BPUPKI, KH Masykur tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (Peta). Sebagai Ketua Nahdlatul Ulama cabang Malang, Masykur mengomandoi Laskar Sabilillah untuk menggerakkan semangat perjuangan pesantren dan para kiai dalam pertempuran Arek Suroboyo pada November 1945. (Ant)