sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kecewa, anak-anak di Nduga berpotensi gabung separatis

Ada ribuan anak-anak di Nduga yang saat ini tak bisa sekolah karena konflik berkepanjangan.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Rabu, 14 Agst 2019 16:46 WIB
Kecewa, anak-anak di Nduga berpotensi gabung separatis

Direktur Yayasan Teratai Hati Papua, Pater Jhon Jongga, mengatakan anak-anak di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua, yang menjadi korban konflik berpotensi bergabung dengan Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB). Penyebabnya, ada rasa kecewa karena pemerintah atau negara tak memperhatikan mereka.

Pater menuturkan, kondisi anak-anak di Kabupaten Nduga, Papua, saat ini sangat memprihatinkan. Ada ribuan anak-anak Nduga yang saat ini tidak sekolah. Sementara yang sekolah dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) hanya berjumlah 840 orang. Itu setelah mereka dikumpulkan di Wamena. 

“Anak anak Nduga yang kami kumpulkan di Wamena, itu yang sekolah dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) itu 840-an. Sementara kalau anak-anak yang tidak sekolah itu ada ribuan,” kata Pater dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (14/8).

Ia khawatir, kondisi anak-anak Nduga yang seperti itu membuat mereka bergabung dalam kelompok yang dianggap separatis. Pada akhirnya, hal ini akan membahayakan negara dan masyarakat Papua lainnya.

“Kelompok-kelompok ini akan berani mati untuk mempejuangkan (Papua) karena ada kekecewaan, ada macam-macam, (misalnya) melihat orang tua mereka yang disiksa,” ucapnya.

Selain berpotensi bergabung dengan KKSB, kata Pater, anak-anak di Nduga bisa kehilangan potensi. Karena itu, Pater menuntut pemerintah mendirikan sekolah darurat di sana dengan fasilitas yang memadai. 

“Sekolah darurat yang ada saat ini sudah tidak memadai kondisinya. Bangunannya rusak karena atapnya pakai seng dan dindingnya semua pakai terpal,” ucap Pater.

Tak hanya itu, lanjut dia, pemerintah juga perlu menurunkan psikolog ke lokasi untuk mendampingi anak-anak yang berada di sana. “Mereka perlu pendampingan khusus karena ini generasi masa depan. Jangan sampai tidak ada penanganan," katanya.

Sponsored

Sementara terkait kondisi keamanan di Nduga, Pater menjelaskan, dirinya tak menampik bahwa wacana Papua Merdeka masih menggema. Sejak dulu masyarakat Papua memang ingin melepaskan diri dari Indonesia.

Hal tersebut, kata dia, berdasarkan temuan, ungkapan, perasaan, pikiran, serta cita-cita rakyat Papua yang ingin merdeka, bukan hanya masalah yang sedang terjadi di Nduga.

"Yang pertama menyangkut temuan dan apa yang diinginkan oleh masyarakat Nduga, secara umum, kita lihat bahwa sejarah Papua itu, mereka sudah lama merindukan dan berjuang melepas diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," ujarnya.