sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kemkominfo catat peningkatan jumlah hoaks coronavirus

Menurut Menkominfo, peningkatan jumlah hoaks itu terjadi secara lambat.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Kamis, 06 Feb 2020 15:36 WIB
Kemkominfo catat peningkatan jumlah hoaks coronavirus

Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat adanya peningkatan jumlah berita bohong atau hoaks, dan disinformasi seputar coronavirus. Meskipun menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, peningkatan tersebut terjadi dalam intensitas yang melambat.

Menurutnya, ada tambahan sembilan hoaks coronavirus hari ini. Dengan demikian, ada sebanyak 63 hoaks dan disinformasi seputar virus baru yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China, yang dicatat Kemkominfo.

"Dari hasil monitoring, ini bertambah, walaupun penambahannya semakin lambat. Sampai pagi ini sudah ada 63 yang muncul, hoaks dan disinformasinya," kata Plate di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (6/2).

Menurutnya, sejumlah berita bohong itu disebar melalui BOT atau Build Operate and Transfer, yang dapat diartikan penyebarannya dilakukan secara otomatis. Namun, ada pula yang disebar dari orang ke orang.

Plate mengatakan, beberapa penyebar hoaks ada yang meminta maaf karena tidak mengetahui berita yang disebarkan adalah hoaks. 

Kemkominfo berencana melakukan komunikasi dengan provider telekomunikasi dan platform media sosial untuk menangkal penyebaran hoaks ini. Hal ini agar mereka juga melakukan upaya pencegahan agar hoaks coronavirus tidak terus diproduksi dan disebar di dunia maya.

"Kami akan berkomunikasi dengan platform-platform untuk mengingatkan. Kalau perlu platform-platform itu melakukan suspensi terhadap akun-akun BOT yang dengan sengaja menyebarkan berita-berita tidak benar," ucapnya.

Sebelumnya pada, Senin (3/2), Plate mengatakan ada 54 hoaks yang terdeteksi cyber drone Kementerian Komunikasi dan Informatika. Berita bohong itu berkaitan dengan coronavirus.

Sponsored

Satu informasi keliru terjadi pada Mei 2019, mengenai kurma yang harus dicuci bersih karena mengandung coronavirus yang berasal dari kelelawar. Informasi itu, kata Plate, dipastikan tidak benar. Sementara 53 lainnya menyebar masif sejak 23 Januari 2020 hingga Senin (3/2) hari ini.

"Di antaranya tidak benar disinformasi bahwa di China dilaporkan diam-diam melakukan kremasi korban coronavirus. Itu disinformasi. Kemudian wudhu bisa hancurkan coronavirus, ini juga disinformasi," kata dia dalam jumpa pers di Kemenkominfo, Jakarta Pusat, kemarin.

Berita Lainnya