sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kisah mereka yang hidup "sengsara" bersama long Covid

Gejala-gejala kronis Covid-19 bertahan di sebagian kecil pasien yang telah dinyatakan bebas dari SARS-Cov-2.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Jumat, 23 Jul 2021 11:33 WIB
Kisah mereka yang hidup

Dinyatakan negatif sejak Februari 2021, Puteri Dewin tak kunjung terbebas dari gejala Covid-19. Meski tak lagi demam dan flu, kondisi tubuh Puteri tak kunjung membaik. Nyeri otot, kelelahan ekstrem, dan gejala-gejala klasik Covid-19 lainnya kerap membekap tubuh perempuan berusia 27 tahun itu. 

"Awal-awal sembuh dari Covid-19, saya ngos-ngosan dan tangan tremor. Kemudian suka cemas, lalu otot jadi kaku. Otot-otot saya terasa kaku dari pundak sampai ke belakang leher. Bahkan, pernah tengkuk saya tidak bisa digerakkan untuk nengok," kata Puteri kepada Alinea.id, Selasa (20/7). 

Puteri dinyatakan positif Covid-19 pada 28 Desember 2020. Sebelum dicatat bebas dari SARS-Cov-2, ia sempat menjalani isolasi di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta Pusat dan isolasi mandiri di rumahnya di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. 

Meski telah negatif, Puteri merasa tubuhnya tak pernah kembali pulih seperti sedia kala. Selain fisiknya yang kepayahan saat menjalani aktivitas sehari-hari yang tergolong ringan, ia juga sering dilanda perasaan cemas yang datang dengan tiba-tiba.

Merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya, Puteri pun berkonsultasi dengan psikiater dan dokter syaraf. Keduanya mengeluarkan diagnosa serupa: Puteri kemungkinan mengidap long term Covid atau long Covid. Itu kondisi ketika gejala-gejala Covid-19 bisa bertahan hingga lebih dari 12 pekan pada tubuh seorang pasien. 

"Dia (psikiater) bilang cemas saya itu kemungkinan besar long Covid. Sementara dokter syaraf, waktu masuk IGD karena badan saya ototnya kaku semua sampai tidak bisa nengok lehernya, terus di-magnetic resonance angiography (MRA), bilang ini bisa juga long Covid," ujar Puteri.

Belakangan, Puteri juga mengalami penurunan kemampuan berkonsenstrasi (brain fog) yang lazim jadi gejala long Covid-19. "Saya merasa otak saya sampai lemot mencerna sesuatu. Misalnya, atasan aku ngasih arahan, aku itu nyernanya jadi agak lebih lama. Jadi, cepat lupa," ujar pegawai Bank Syariah Indonesia itu. 

Hasil studi terbaru yang dilakoni University College London (UCL) menemukan setidaknya ada 200 gejala long Covid-19 yang menyerang 10 sistem organ pada tubuh orang-orang yang pernah terinfeksi SARS-Cov-2. Selain brain fog, gejala umum long Covid semisal sesak nafas, kelelahan, berkurangnya kemampuan lidah dan penciuman, pusing, dan insomnia.

Sponsored

Supaya sembuh, beragam upaya dijalani Puteri, mulai dari minum obat dan vitamin, rajin berolahraga, mengurangi beban kerja, hingga menjalani fisioterapi. Sesekali, Puteri juga berangkat travelling untuk menghilangkan stres.

Namun, upaya-upaya itu belum membuahkan hasil. Lima bulan setelah dinyatakan negatif, Puteri masih rutin mengalami hernia nucleus pulposus (HNP) atau saraf terjepit saat bangun tidur, nyeri otot, kelelahan ekstrem, dan gangguan psikologis. 

"Leher masih sakit, jadi aku sekarang pakai penyangga leher. Saya justru merasa makin buruk. Belum ada perubahan yang signifikan sehingga saya nambah satu treatment terapi baru lagi. Padahal, harusnya sesi saya sudah selesai dua minggu lalu," kata Puteri. 

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Dian Islamiati Fatwa merayakan Lebaran di rumah sakit karena Covid-19. /Foto Twitter @DianFatwa

Hanya bisa rebahan

Pengalaman serupa diutarakan Dian Islamiati Fatwa, putri mendiang anggota DPD RI A.M. Fatwa. Hingga kini, Dian mengaku harus menjalani aktivitas sehari-hari tak jauh dari tempat tidurnya lantaran masih mengidap gejala-gejala Covid-19. 

"Awal-awal saya tidak kuat jalan. Mengangkat gelas juga tidak mampu. Duduk harus bersandar dan tidak bisa lama. Lebih dari setengah jam, saya harus rebahan. Batuk dan sesak masih terasa hingga empat minggu keluar dari rumah sakit. Rasa lelah saya seperti habis lari maraton," kata Dian kepada Alinea.id, Senin (19/7). 

Dian terkonfirmasi positif Covid-19 bergejala berat pada 30 April 2021 dan langsung dirujuk ke salah satu rumah sakit khusus Covid-19. Selama 12 hari, Dian sempat mendekam di HCU (high care unit). Ketika itu, dokter mendiagnosa 70% paru-parunya tertutup bercak putih. "Saturasi sempat melorot 82%," kata Dian. 

Setelah beberapa pekan dirawat di rumah sakit, Dian dinyatakan bersih dari Sars-Cov-2 pada 17 Mei 2021. Lima hari berselang, Dian pulang ke rumah. Tak berhasil dienyahkan di rumah sakit, gejala-gejala Covid-19 ikut "pulang" bersama Dian. 

Salah satu gejala yang paling rutin dirasakan ialah sesak nafas dan kelelahan ekstrem. Dian kerap merasakan ngilu pada paru-paru saat menarik nafas. "Ngilu dari paru-paru ini sangat mengganggu, sering saya tidak bisa tidur," kata Dian. 

Lantaran gejala-gejala Covid-19 tak juga mengendur, Dian pun berkonsultasi ke dokter penyakit dalam. Setelah pemeriksaan, sang dokter mendiagnosa Dian mengidap long Covid dan menyarankan Dian beristirahat total. 

"Praktis, hanya rebahan saja. Praktis, kegiatan saya hanya dari tempat tidur ke toilet. Duduk sebentar, lelah. Jadi, harus senderan. Jalan mundur belum bisa, masih oleng. Sepertinya virus menyerang organ balance sehingga harus latihan dulu sampai saya tidak merasa oleng," kata Dian.

Setelah divonis mengidap long Covid, beragam upaya dijalankan Dian untuk bisa pulih. Supaya otot tidak kaku, Dian berupaya menjalankan aktivitas-aktivitas ringan supaya terus berkeringat, seperti membersihkan kamar, menyapu, dan mengepel. Dian juga rutin menari Bali lagi. 

"Tarian Bali lumayan menguras energi. Saya menari agar bisa melangkah ke kanan dan ke kiri dengan halus, juga posisi berdiri setengah jongkok. Tapi, tariannya yang mudah, bukan yang tingkat advance. Itu pun saya gempor dan langsung tidur dua jam habis nari. Padahal, narinya cuma 10 menit," kelakar Dian. 

Dian mengaku banyak mengonsumsi vitamin dan minuman herbal untuk memulihkan performa tubuhnya. Sesekali, eks wartawan ABC Australia yang kini terjun ke dunia politik itu juga menjalani meditasi untuk melatih pernafasan. 

"Bawang putih, rebusan air sirsak untuk menurunkan gula darah dan tensi. Juga meditasi untuk olah nafas. Ini sangat membantu recovery paru-paru yang sempat soak. Teknik olah nafas dalam meditasi melatih paru-paru kembali normal," kata Dian.

Ikhtiar-ikhtiar yang dijalankan Dian mulai membuahkan hasil. Menurut Dian, dokter menyatakan kondisi fisiknya terus membaik. "Setidaknya batuk dan sesak sudah tidak ada. Saturasi (oksigen dalam darah) kembali normal, tapi energy level masih rendah," ucap Dian.

Meskipun kemampuan fisiknya masih terbatas, Dian juga mulai kembali bekerja. Dari tempat tidurnya, ia rutin mengikuti diskusi-diskusi virtual dan melayani permintaan wawancara. Beragam trik ia lakukan supaya terlihat bugar di depan layar. 

"Background saya bikin blur. Jadi, orang tidak tahu kalau saya sedang di tempat tidur. Terus saya pakai lipstik merah jreng biar kelihatan seger. Padahal, remuk sekali badan ini. Kamera juga sering saya matikan kalau tidak sedang bicara karena saya harus rebahan," kata Dian.

Ilustrasi pasien Covid-19 dari kalangan lanjut usia. /Foto Unsplash

Bisa sembuh total? 

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Andika Chandra menyebut ada sejumlah faktor yang dapat menyebabkan seseorang terkena long Covid. Pertama, faktor usia. Kedua, tingkat keparahan penyakit Covid-19 yang diderita pasien. 

"Itu sangat mempengaruhi risiko long Covid semakin besar. Ada juga faktor psikis atau mental yang mempengaruhi seseorang sehingga bisa menjadi long Covid lagi," kata Andika saat berbincang dengan Alinea.id, Rabu (21/7).

Menurut Andika, sebanyak 15% di pasien yang dirawat RSUP Persahabatan mengalami long Covid usai dinyatakan negatif. Gejalanya bermacam-macam, mulai dari cepat lelah, sesak nafas, batuk, dan mengalami beragam gangguan psikologis. 

"Dia (Covid-19) bisa mengenai organ lain. Bisa membuat kekentalan darah, bisa menyebabkan juga peradangan di jantung, bisa juga mengakibatkan gangguan jantung yang dipengaruhi kondisi long Covid," kata Andika.

Sebagaimana gejalanya yang beragam, Andika mengatakan, penanganan dan dokter yang menanganinya pun disesuaikan. Pasien long Covid yang mengalami gangguan psikologis, misalnya, lebih tepat ditangani oleh psikolog atau psikiater. 

"Umumnya saya hanya memberikan multivitamin saja. Kebanyakan saya menganjurkan pasien untuk mulai berolahraga teratur karena olahraga bisa membuat orang lebih rileks dan membantu memperbaiki pernafasan," kata Andika.

Infografik Alinea.id/Oky Diaz

Hingga kini, long Covid masih misteri. Para ilmuwan dan peneliti masih mencari tahu kenapa long Covid muncul pada sebagian pasien dan tak muncul pada yang lainnya. Cara dan pengobatan untuk mengenyahkannya pun belum ditemukan. 

Menurut Andika, rata-rata pasien sembuh total setelah dirawat sebulan atau dua bulan. Hanya pada kasus-kasus tertentu, gejala Covid-19 bisa bertahan di tubuh pasien hingga lebih dari enam bulan. "Tergantung beratnya (penyakit), kemudian usianya, atau bahkan nutrisinya," ujar Andika.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengaku belum mengkompilasi data jumlah pengidap long Covid di Indonesia. Namun, data itu terekam di pusat-pusat layanan kesehatan yang menangani long Covid. 

"Itu (data) ada di layanan. Pengobatan long Covid sudah merupakan ranah pengobatan spesialistik sehingga tata laksananya dilakukan oleh dokter spesialis," jelas Nadia kepada Alinea.id, Selasa (20/7).

Nadia mengatakan pemerintah saat ini masih fokus menangani pasien Covid-19. Untuk yang mengidap long Covid, ia menyebut, Kemenkes hanya menjamin biaya pengobatan. Asal sesuai ketentuan, klaim bisa diajukan ke rumah sakit-sakit yang bekerja sama dengan Kemenkes. 

"Untuk status (long) Covid pembiayaan masih ditanggung melalui proses klaim sama seperti klaim yang saat ini dilakukan oleh RS untuk penanganan Covid-19. Jadi, bisa diklaim dengan beberapa ketentuan," kata jubir vaksinasi Kemenkes itu. 

Berita Lainnya