sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mbah Moen dan hari kematian yang telah diramalkan

Selasa punya makna yang spesial bagi kiai karismatik Maimun Zubair atau Mbah Moen.

Cantika Adinda Putri Noveria Christian D Simbolon
Cantika Adinda Putri Noveria | Christian D Simbolon Selasa, 06 Agst 2019 16:32 WIB
Mbah Moen dan hari kematian yang telah diramalkan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Hari Selasa punya makna yang spesial bagi kiai karismatik Muhaimin Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen. Saking spesialnya, saban Selasa, Mbah Moen selalu meliburkan pondok pesantren Al Anwar di Sarang, Rembang, Jawa Timur, yang ia pimpin. 

"Allah menciptakan segala ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini pada hari Selasa," kata Mbah Moen dalam salah satu video yang diunggah di akun Instagram @nibrosuzzaman, Selasa (6/8).   

Ketua Umum Pagar Nusa M Nabil Haroen mengamini hal itu. Menurut dia, Mbah Moen memang kerap berceramah mengenai sakralnya hari Selasa. Apalagi, orang-orang terdekat Mbah Moen menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Selasa. 

"Wafatnya bapakku (KH Zubair Dahlan) Seloso, mbahku dhino Seloso, buyutku dhino Seloso. (Wafatnya bapakku hari Selasa, kakekku hari Selasa, kakek buyutku hari Selasa). Maka dari itu kenapa orang-orang dahulu ngaji prei (libur) hari Selasa. Itu karena wafatnya orang alim biasanya hari Selasa," kata Nabil menirukan ucapan Mbah Moen. 

Seperti meramalkan hari kematiannya sendiri, Mbah Moen menghembuskan nafas terakhirnya terakhir di RS An-Noor, Makkah, Arab Saudi sekira pukul 04.17 tadi waktu setempat. Mbah Moen genap berusia 90 tahun. "Ramadan terakhir, beliau membahas kitab Tanbuhul Mughtarin," ujar Nabil. 

 

Sponsored

Mbah Moen berada di Makkah untuk ibadah haji. Menurut Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani, Makkah kota yang spesial buat Mbah Moen. Di kota tersuci bagi umat Islam itu, Mbah Moen pernah menimba ilmu sebelum mendirikan pesantren. 

"Karena Mbah Moen itu mondoknya di Makkah sana. Ini merupakan penghormatan pemerintah Makkah ke Mbah Moen, tapi beliau tidak pernah menyampaikan keinginannya kalau (ingin) dimakamkan di sana. Itu karena pemerintah (Makkah) meminta demikian dan keluarga memutuskan (menyetujuinya)," kata Arsul. 

Di mata Arsul, Mbah Moen merupakan sosok yang kuat. Hingga menghembuskan nafas terakhirnya, menurut Arsul, Mbah Moen tidak pernah mengeluh sakit kepada orang-orang terdekatnya. 

"Makanya kami kaget. Ini kehilangan yang luar biasa bagi tidak hanya kami di PPP, tapi umat Islam di Indonesia. Karena beliau ulama sekaligus nasionalis, pencinta tanah air yang luar biasa," kata dia. 

Sebelum menggeluti dunia pesantren secara serius, Mbah Moen tercatat pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Pada era Orde Baru, ia juga sempat diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode.

Meskipun dikenal sebagai orang yang lempeng, Mbah Moen merupakan kiai yang aktif berpolitik. Hampir tiap hajatan pemilu, pondok pesantren dan kediamannya di Rembang ramai dikunjungi para pemburu kekuasaan. Apalagi, hingga tutup usia, Mbah Moen menjabat sebagai Ketua Dewan Syariah PPP. 

Di perhelatan Pilpres 2019, calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) juga sempat mengunjungi kediaman Mbah Moen di Rembang untuk meminta restu. Meskipun mendukung salah satu kandidat, menurut Arsul, Mbah Moen selalu berpesan agar kontestasi politik berjalan dengan damai. 

"Beliau tegur kami kalau ada dari PPP yang serang Prabowo atau istilahnya agak masuk ke ranah pribadi. Tidak segan beliau tegur. (Mbah Moen) mengingatkan melalui saya atau pengurus DPP lainnya," kata Arsul. (Ant)

 

Berita Lainnya