logo alinea.id logo alinea.id

Metode cuci otak dr Terawan diminati 1.000 warga Vietnam 

Rencananya, akan ada 1000 warga Vietnam yang bakal menjalani metode DSA ini.

Rakhmad Hidayatulloh Permana
Rakhmad Hidayatulloh Permana Senin, 12 Nov 2018 13:52 WIB
Metode cuci otak dr Terawan diminati 1.000 warga Vietnam 

Metode cuci otak (brainwash) atau Digital Substraction (DSA) yang diperkenalkan oleh dr Terawan Agus Putranto SpRad (K) ternyata diminati warga Vietnam. Hal ini buktikan dengan ditandatanganinya MoU kerjasama antara Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto dengan Duta Besar Vietnam untuk Indonesia, Pham Vinh Quan. 

Rencananya, akan ada 1.000 warga Vietnam yang bakal menjalani metode DSA ini. Dari mulai proses cek up hingga proses tindakan DSA itu sendiri. 

Padahal sebelumnya, metode cuci otak dr Terawan ini sempat menjadi kontroversi. Menurut Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) metode yang dikembangkan oleh dr Terawan belum lulus uji klinis. Selain itu, metode DSA ini dinilai oleh MKEK bukan sebagai metode pengobatan, melainkan metode diagnosis saja. Menanggapi hal ini, dr Terawan mengaku belum mendapatkan keputusan pasti terkait hal tersebut. 

"Sampai sekarang belum ada keputusan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) langsung, keputusan itu tidak ada. Memang tidak ada masalah sampai detik ini. Biar saja itu menjadi sebuah proses," kata dr Terawan, Senin (12/11).

Selain itu, dr Terawan juga mengaku bahwa sudah banyak negara-negara yang mengakui metodenya ini. Mulai dari Amerika, Eropa hingga Korea. Itulah sebabnya metode DSA ini seharusnya tidak perlu dipermasalahkan lagi, "Terus yang dipermasalahkan apanya? Wong seluruh dunia ikut ke sini," kata dia. 

Saat ditanya tentang risiko dari metode ini, dr Terawan tak menampik mengenai risiko yang mungkin terjadi. Tapi, ia berkomitmen untuk terus mengembangkan dan meminimalisir risikonya. Sedangkan untuk biayanya sendiri, metode pengobatan DSA ini dikenai tarif Rp23 juta, di luar biaya tenaga dokter dan lain-lain. 

Tanggapan senada juga disampaikan oleh Sekretaris Umum IDI Jakarta, dr Dollar. Menurutnya metode DSA dari dr Terawan ini tak perlu dipermasalahkan lagi, karena negara lain sudah mengakuinya, "Sekarang kita lihat kan kalau negara lain aja mengakui. Sampai 1.000 orang. Hasilnya juga bagus kenapa kita tidak? Jadi nggak masalah," kata dia.

Proses uji klinis untuk metode DSA ini juga masih dalam proses "Ini kan sambil berjalan, uji klinis tadi sudah disampaikan dr Terawan obat-obatnya semua sudah uji klinis," pungkas dia. 

Sponsored