sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mempersoalkan bongkar pasang jalan di Jakarta

Pemprov DKI melakukan bongkar pasang jalan setiap tahun, bahkan di ruas jalan yang masih dalam kondisi mulus.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Rabu, 21 Agst 2019 18:35 WIB
Mempersoalkan bongkar pasang jalan di Jakarta
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 80094
Dirawat 37247
Meninggal 3797
Sembuh 39050

Doni memelankan laju sepeda motornya saat memasuki Jalan Cikini Raya pekan lalu. Ia tengah terburu-buru mengejar janji temu di daerah Manggarai, namun jalanan yang bergelombang membuatnya harus lebih berhati-hati. Di jalan itu, Pemprov DKI tengah melakukan perawatan jalan dengan pengerukan dan pengaspalan ulang.

Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga DKI Jakarta,Rakim Sastranegara mengatakan, pihaknya tengah melakukan pemeliharaan jalan di Cikini Raya, Jakarta Pusat. Selain Cikini, proyek yang sama dilakukan di Jalan Salemba dan Jalan Matraman. Juga Jalan Kapten Tendean dan Jalan Kemang di Jakarta Selatan.

Pemeliharaan jalan yang dimaksud adalah peningkatan jalan, yang dilakukan dengan mengeruk dan mengaspal ulang jalan yang dikerjakan.

"Kami targetkan semuanya selesai 15 Desember 2019 atau paling lambat akhir tahun ini," kata Rakim di kantornya, Kamis (15/8) lalu.

Menurutnya, pemeliharaan jalan tidak dilakukan saat jalanan benar-benar rusak. Pengerjaannya justru dilakukan guna menghindari jalanan rusak.

Karena itu, kata Rakim, Bina Marga melakukan perencanaan agar program pemeliharaan jalan yang dilakukan berjalan lancar. Salah satunya, pengerjaan dilakukan di musim kemarau.

"Aspal kan musuhnya air, kalau hujan repot. Makanya pas lagi musim kemarau gini pas untuk perbaikan jalan," ucap dia.

Kasubag Perencanaan Anggaran Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Muhammad Soleh, mengatakan target perbaikan jalan di Ibu Kota dipasang 10% dari total jalan setiap tahunnya. Hal ini dinilai perlu, karena menurutnya, cukup sulit membuat jalan tidak berlubang. Selain faktor cuaca, beban kendaraan kerap kali membuat kondisi jalan memburuk. 

Sponsored

"Maka dari itu, ada pemeliharaan rutin tadi. Tapi pemeliharaan rutin tidak bisa membuat bertahan terus menerus, sehingga nanti perlu ditambal. Tetapi kan enggak enak kalau ada jalanan banyak tambalan semua, makanya ada pemeliharaan berkala setiap tahunnya itu," ucap Soleh.

Kepala Dinas Bina Marga Hari Nugroho mengatakan, ada tiga program penanganan jalan yang dilakukan. Selain pemeliharaan, Bina Marga juga melakukan peningkatan jalan dan pembangunan jalan. 

Pemeliharaan jalan dilakukan dengan memperbaiki kerusakan jalan yang ringan, seperti berlubang atau bergelombang. Penangannya hanya perlu memperbaiki lapis atas jalan.

"Pemeliharaan ada ringan dan berat. Kalau ringan langsung ditangani oleh tim satuan petugas kami. Sedangkan kalau berat maka dibuat layer bekerja sama dengan vendor," katanya.

Sementara itu, peningkatan jalan dilakukan dengan pengerukan untuk memperbaiki hingga lapis bawah jalan. Hal ini berkaitan dengan umur jalan yang sudah lama, sehingga perlu dikeruk dan diaspal kembali.

Adapun pembangunan berarti pembuatan jalan baru, untuk menyambungkan wilayah satu dengan lainnya.

Pengerukan jalan mulus

Namun Doni mempertanyakan peningkatan jalan yang dilakukan dengan pengerukan dan pengaspalan ulang di Jalan Cikini Raya. Sebab jalan tersebut dinilai masih berada dalam kondisi mulus. Hal yang sama juga terjadi di Jalan Kemanggisan dan Jalan KS Tubun. 

Proyek yang dikerjakan tak ayal menimbulkan kemacetan. Meskipun pengerjaannya dilakukan malam hari, namun penyempitan dan jalan yang menjadi bergelombang, membuat pengendara tak bisa melaju dalam kecepatan normal.

"Masalahnya ini jalanan awalnya sudah sempit, trotoar di lebarin jadi tambah sempit, sekarang jalanan di perbaiki, makin sempit juga. Macet terus pagi, siang, sore," ucap Doni.

Hal yang sama dipertanyakan Tria, seorang karyawan swasta yang pulang-pergi bekerja melalui Jalan Cikini Raya. Dia menilai, jalanan tersebut masih dalam keadaan mulus sehingga pengerukan justru menimbulkan persoalan.

"Kenapa engga jalan lainnya yang benar-benar sudah rusak, ini jalanan masih oke kok dikeruk," ucapnya. 

Menurut Hari, hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan umur jalan. Menurutnya, jalanan Cikini Raya telah bergelombang sehingga perlu perbaikan. 

Selain itu, pengerukan jalan di Cikini Raya juga merupakan imbas dari pelebaran trotoar di sepanjang jalan tersebut. Pengerukan membuat kondisi jalan menjadi baru, sehingga sesuai dengan trotoar yang tengah ditata ulang.

Hari mengatakan, Jalan Cikini Raya akan berada pada ketebalan yang sesuai dengan trotoar setelah pengerukan selesai dilakukan. "Nanti kita lihat dari sisi badan jalan. Jangan sampai nanti di tinggi-tinggiin tapi trotorar pendek. Sesuaikan dengan trotoar maupun tali air, jadi tidak langsung menimpa-menimpa terus tinggi gitu," ujar Hari.

Anggota Ombudsman Alvin Lie tak mempersoalkan dampak kemacetan yang timbul dari penanganan jalan yang dilakukan Bina Marga. Meski mengganggu kenyamanan aktivitas warga, Alvin menyebut proyek tersebut akan berdampak baik setelah pengerjaannya rampung. 

"Makanya pengerjaannya cepat, dilakukan malam hari, dan bertahap, enggak langsung semua jalan. Intinya meminimalisir gangguan," kata Alvin.

Pengamat transportasi dan tata kota Yayat Supriatna mengatakan, pemeliharan jalan memang sudah seharusnya dilakukan setiap tahun. "Ya itu memang harus, jadi ketika jalan itu kalau mau umurnya panjang kan perlu perawatan," ucapnya.

Namun, setelah melakukan perbaikan jalan, Pemprov DKI harus mengevaluasi proyek tersebut. Pemprov harus membuat kebijakan agar para pedagang maupun pengendara tidak melintasi trotoar, atau jalan untuk pejalan kaki.

Selain itu, pemprov harus tegas memberlakukan batas angkut maksimum kendaraan. Hal itu bertujuan untuk memperpanjang umur jalan.

Pemborosan anggaran

Mengutip apbd.jakarta.go.id, pada 2019 Dinas Bina Marga mendapat alokasi anggaran senilai Rp2,5 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Bina Marga mendapat Rp250 miliar untuk pembangunan/peningkatan jalan-jalan strategis di Ibu Kota. Adapun perencanannya dipatok di angka Rp986,4 juta.

"Untuk penanganan jalan sekitar Rp300 miliar per tahun, tapi ditambah dengan pemeliharan kurang lebih Rp600 miliar," kata Hari.

Pemeliharaan sebuah jalan dilakukan berdasarkan panjang jalan, tingkat kerusakan, dan juga jenis bahan pembuatan jalan tersebut. "Paling sekitar Rp10 miliar hingga Rp15 miliar," kata dia.

Ia menegaskan penanganan jalan yang dilakukan tidak menghambur-hamburkan anggaran. Sebab, perbaikan tersebut bertujuan untuk kenyamanan sesama.

Namun Sekjen Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Misbah Hasan memiliki pendapat berbeda. Ia mempertanyakan alokasi dana Rp10 miliar hingga Rp15 miliar yang dianggarkan Bina Marga untuk pemeliharaan sebuah jalan.

"Menurut saya itu terlalu besar, biaya yang dikeluarkan," ucapnya kepada reporter Alinea.id, Rabu (21/8).

Menurutnya, berkaca pada anggaran pemeliharaan jalan di Jakarta Pusat, ada 190 titik jalan yang direhab dengan anggaran Rp46 milyar. Artinya, penanganan setiap ruas jalan hanya membutuhkan rata-rata Rp242 juta.

Selain itu, pengerukan jalan yang dilakukan Dinas Bina Marga memunculkan pertanyaan ihwal kualitas jalan yang dibangun. Menurut pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, umur pakai ideal sebuah jalan berada di angka 5-10 tahun.

"Semakin bagus kualitas konstruksi jalannya, tentu semakin sedikit perawatannya. Sebaliknya, jika kualitasnya rendah, bisa dipastikan setiap tahun ada perbaikan jalan," kata saat dihubungi reporter Alinea.id, Selasa (20/8).

Menurutnya, perlu perencanaan matang dalam pembangunan awal sebuah jalan. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan saluran air yang berada di dekatnya. Hal ini dinilai penting agar jalan tidak cepat rusak lantaran tergenang air. 

Jika perencanaan awal dilakukan secara serius, Nirwono menilai perawatan yang dilakukan hanya perlu dilakukan dalam skala ringan. Seperti perawatan saluran air, agar tidak menggenangi jalan saat hujan turun, atau tambal sulam jalan berlubang agar tak membahayakan pengendara. 

Nirwono mengatakan, pemeliharaan rutin atau ringan baiknya dilakukan dengan cara menghemat biaya. Dengan demikian, Bina Marga dapat memiliki anggaran cukup untuk membangun jalan lain.

"Kalau bolak-balik diperbaiki jalannya, dikhawatirkan nanti jadi proyek jalan abadi. Kalau pengerukan dan pengaspalan di jalan yang dalam kondisi bagus, sebenarnya tidak diperlukan. Lebih baik memperbaiki jalan yang sudah rusak parah," ucap dia.

Berita Lainnya