sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pemerintah investigasi 3 kasus hepatitis akut pada anak

Hasil investigasi sementara ketiga anak itu datang ke fasilitas kesehatan pada kondisi stadium lanjut.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Kamis, 05 Mei 2022 15:28 WIB
Pemerintah investigasi 3 kasus hepatitis akut pada anak

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta melakukan investigasi kontak untuk mengetahui faktor risiko terhadap tiga kasus hepatitis akut pada Anak. Tiga anak yang diduga mengidap penyakit yang belum diketahui sebabnya itu telah meninggal.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizim mengungkapkan, hasil investigasi sementara ketiga anak itu datang ke fasilitas kesehatan pada kondisi stadium lanjut. "Sehingga hanya memberikan sedikit waktu bagi tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan pertolongan,” kata Nadia pada keterangan pers di Jakarta, Kamis (5/5).

Pada ketiga kasus itu usia anak bervarias. Satu anak berusia 2 tahun dan belum mendapatkan vaksinasi hepatitis. Lalu usia 8 tahun baru mendapatkan vaksinasi satu kali, dan usia 11 tahun sudah mendapatkan vaksinasi. Ketiganya negatif Covid-19. Berdasarkan hasil investigasi juga didapati bahwa satu kasus memiliki penyakit penyerta.

"Sampai saat ini ketiga kasus ini belum bisa kita golongkan sebagai penyakit hepatitis akut dengan gejala berat tadi, tetapi masuk pada kriteria pending klasifikasi karena masih ada pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan, terutama pemeriksaan adenovirus dan pemeriksaan Hepatitis E yang membutuhkan waktu antara 10 sampai 14 hari,” kata dia.

Selain itu, tambah Nadia, tidak ditemukan riwayat hepatitis dari anggota keluarga lain dari ketiga anak. Juga tidak ditemukan anggota keluarga lain yang memiliki gejala sama. Keluhan utama yang disampaikan dari saluran cerna, mengalami keluhan mual, muntah, dan diare hebat.

Menebar teror

Kasus dugaan hepatitis misterius terus menebar teror. Selain mematikan, perkembangannya cukup pesat. Tercatat ada 228 kasus dugaan hepatitis misterius pada anak dari 20 negara. Dengan 50 kasus tambahan sedang diselidiki.

Perkembangan itu disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban. Lewat akun twitternya, @ProfesorZubairi, ia menjelaskan tersangka utama sementara ini diduga Adenovirus 41 (CDC).

Sponsored

Apa itu Adenovirus?

"Virus umum yang sebabkan berbagai penyakit: pilek, demam, sakit tenggorokan, bronkitis, pneumonia, dan diare. Adenovirus 41 belum pernah terkait dengan hepatitis. Patogen umum ini biasanya bisa sembuh sendiri," terang Zubairi.

Ia juga memastikan, penyebabnya bukan virus hepatitis A, B, C, D, dan E yang dikenal. Adenovirus 41 tak pernah merusak liver, kecuali imunitas buruk. Yang jelas, ini menyerang anak-anak yang imunitasnya bagus.

Ia tidak menampik bahwa hepatitis misterius ini amat serius. Karena beberapa anak meninggal. Di Inggris, bahkan 10 dari 145 pasien dengan hepatitis akut ini memerlukan transplantasi atau cangkok hati.

Sejauh ini, kata dia, hasil positif didapat dengan tes darah keseluruhan. Bukan hanya dengan plasma.

Menurut WHO, kata Zubairi, rentang usia pasien yang diidentifikasi sejauh ini antara bayi berusia satu bulan hingga remaja usia 16 tahun.

Sebagian besar anak-anak ini mengalami masalah gastrointestinal terlebih dahulu, diikuti penyakit kuning. Tes laboratoriumnya juga menunjukkan tanda-tanda peradangan hati parah. Sebagian besar anak tidak mengalami demam.

Ia memastikan kasus ini tidak terkait vaksin Covid-19. "Hipotesis (mengaitkan hepatitis ini dengan Covid-19) ini tidak didukung data, karena sebagian besar anak-anak yang terkena hepatitis misterius ini justru belum menerima vaksinasi Covid-19," jelas dia.

Berita Lainnya