sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pemerintah sebut publik abai protokol kesehatan akibat percaya hoaks

Perlu kolaborasi seluruh elemen dalam menghadapi pandemi. Apalagi, publik menjadi garda terdepan.

Firda Junita
Firda Junita Rabu, 25 Nov 2020 15:56 WIB
Pemerintah sebut publik abai protokol kesehatan akibat percaya hoaks
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Masyarakat diharapkan optimis, berpikir positif, disiplin menjalankan protokol kesehatan, dan saling membantu dalam menghadapi pandemi Covid-19. Pangkalnya, pagebluk dianggap mengejutkan lantaran respons publik beragam.

"Keempat hal itulah yang kemudian menjadi senjata kita untuk melalui berbagai rintangan dalam mengatasi pandemi ini," ujar Dirjen Informasi Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Widodo Muktiyo, dalam webinar, Rabu (25/11).

Dia melanjutkan, tim komunikasi publik pemerintah berupaya menyosialisasikan dan mengedukasi publik tentang pandemi serta cara menghadapinya. Langkah itu diklaim berhasil lantaran banyak masyarakat yang telah mengerti.

"Tetapi nyatanya," sambungnya, "perilaku masyarakat belum sebanding dengan pengetahuannya. Misalnya saat libur Idulfitri, Mei 2020, (di mana) masyarakat sudah mengerti Covid-19, tetapi perilakunya kurang disiplin dalam menerapkan kebiasaan baru."

Menurutnya, hal ini disebabkan masih banyaknya masyarakat yang memercayai hoax tentang Covid-19. Karenanya, tim komunikasi publik berusaha semaksimal mungkin menyebarkan informasi yang benar dan tidak menyesatkan.

Widodo berpendapat, masyarakat membutuhkan implementasi penjelasan komunikasi yang mudah dicerna hingga mau berpartisipasi untuk disiplin melakukan kebiasaan baru.

Pada kesempatan sama, Ketua Bidang Komunikasi Publik Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Hery Trianto, menyebutkan, jumlah penularan Covid-19 di Indonesia masih relatif tinggi, lebih dari 4.000 kasus baru per harinya.

Baginya, pemerintah dan masyarakat sudah melihat pandemi sebagai bencana nonalam yang harus diatasi bersama-sama. Kolaborasi disebutnya penting untuk menanggulangi Covid-19 dengan baik.

Sponsored

“Selama ini, kita menyadari cara mengatasi Covid-19 yang paling efektif adalah mencegahnya. Cara mencegahnya dengan mengubah perilaku kita sesuai dengan protokol kesehatan, yaitu dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan air mengalir,” tuturnya.

“Ini bukan hanya tugas pemerintah saja, tetapi juga tugas seluruh rakyat Indonesia. Kita harus mengubah seluruh perilaku kita dengan beradaptasi dengan kebiasaan baru,” imbuhnya.

Sebenarnya, kata Hery, penanganan kesehatan merupakan benteng terakhir. Sebagus apa pun sistem kesehatan takkan mengatasi pandemi jika penambahan kasus tetap tinggi.

Tim Pakar Kesehatan Masyarakat Satgas Covid-19, Ede Surya Darmawan, pun mendorong masyarakat terus disiplin mematuhi 3M karena memiliki andil besar dalam mencegah penularan. Apalagi, publik menjadi garda terdepan dalam penanganan pandemi.

"Seharusnya fokus kita memang mengubah perilaku masyarakat dan membiasakan kebiasaan baru," jelasnya.

Sementara itu, Komite Pengendalian Covid-19 UNICEF Indonesia, Arie Rukmantara, mengungkapkan, anak-anak menjadi pihak yang paling dirugikan dalam krisis kesehatan. Alasannya, tidak memiliki sumber daya yang mumpuni untuk memutuskan bagaimana caranya keluar dari masalah.

“Kalau penerapan 3M itu benar-benar dijalankan, ada kemungkinan kita terlindungi sama sekali dari Covid-19. Kita bisa tetap produktif dan aman dalam beraktifitas,” tandasnya.

Berita Lainnya