sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Polri tetapkan 117 tersangka kasus kelangkaan solar

Mereka ditangkap dari 81 kasus kelangkaan BBM bersubsidi. Mereka menyimpangkan distribusi BBM, yakni solar.

Immanuel Christian
Immanuel Christian Kamis, 14 Apr 2022 17:42 WIB
Polri tetapkan 117 tersangka kasus kelangkaan solar

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) telah melakukan penindakan terhadap ratusan pelaku yang diduga mengakibatkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Ratusan pelaku tersebut kini telah ditetapkan menjadi tersangka.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, pengungkapan ratusan tersangka itu berasal dari 81 kasus. Kasus-kasus tersebut kini dalam proses penyidikan oleh kepolisian.

“Kami melaporkan bahwa kita telah melakukan penegakkan hukum terhadap 117 tersangka dan 81 kasus. Saat ini (kasus) sedang berproses,” kata Sigit dalam rapat koordinasi lintas sektoral mudik lebaran 2022, Kamis (14/4).

Sigit mengaku, penindakan hukum ini memberikan kelegaan pada Korps Bhayangkara. Lantaran, menurut Sigit, kini polisi berhasil menjawab persoalan kelangkaan solar yang meresahkan masyarakat. 

“Alhamdulilah bahwa saat ini kita mulai lihat bahwa antrean terkait kelangkaan solar sudah mulai berkurang,” ucap Sigit.

Sigit menyampaikan, pihaknya telah melaksanakan rapat kordinasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rapat itu membuat untuk memastikan polisi dapat mengambil langkah untuk menindak penyimpangan.

Hasil rapat tersebut menunjukkan isu kelangkaan BBM, yakni solar, terjadi karena ada sejumlah pihak yang menciderai masalah distribusi. Kebutuhan BBM dalam bentuk solar untuk masyarakat masih cukup untuk beberapa waktu ke depan.

“Karena memang faktanya antara ketersediaan dengan kebutuhan, di lapangan stoknya lebih besar cadangan maupun ketersediaan, bahkan mencukupi untuk beberapa waktu ke depan,” tutur Sigit.

Sponsored

Polisi kemudian mengambil tindakan untuk melakukan pengawasan sebelum akhirnya melakukan penindakan hukum terhadap penyimpangan distribusi itu. Apalagi, perbedaan harga cukup tinggi mengganggu masyarakat yang memiliki kebutuhan tinggi.

“Sehingga mereka berusaha untuk mengambil kebutuhan minyak dari SPBU,” ujar Sigit.

Berita Lainnya
×
tekid