sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Rapat kerja, Menag Fachrul ramai-ramai dicecar anggota DPR

Menag Fachrul diminta memperbaiki cara berkomunikasi di depan publik.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Kamis, 07 Nov 2019 15:53 WIB
Rapat kerja, Menag Fachrul ramai-ramai dicecar anggota DPR
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Anggota Komisi VIII DPR Hidayat Nur Wahid mengkritik larangan pemakaian cadar dan celana cingkrang bagi aparatur sipil negara (ASN) yang sempat dilontarkan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi. Menurut Hidayat, pernyataan Fachrul justru menyudutkan warga negara yang sedang menjalankan tradisi keagamaannya. 

"Makanya, Rasulullah (Muhammad SAW) dulu itu ketika berhijrah, ungkapan itu justru menghadirkan ungkapan yang mengayomi. Kalau Pak Menteri dari awal menyampaikan ungkapan mengayomi, pasti semua orang pasti aman," kata Hidayat di sela rapat dengar pendapat antara Kemenag dengan Komisi VIII di Gedung DPR, Kamis (7/11).

Hidayat mengatakan, pernyataan Fachrul bukan solusi yang tepat untuk meminimalisasi radikalisme di Indonesia. Ketimbang mengeluarkan larangan-larangan yang malah menimbulkan polemik, menurut Hidayat, akan lebih tepat jika Menag mengedepankan dialog dengan tokoh-tokoh yang dianggap radikal. 

"Kalau menurut saya, orientasinya tidak melarang. Orientasinya silahturahmi, dialog, undang mereka. (Cari tahu) apa yang menjadi pikiran mereka. Kalau dikomunikasikan, banyak hal yang bisa dikoreksi," ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu. 

Fachrul melontarkan wacana melarang pengguna cadar masuk ke lingkungan instansi pemerintah dalam sebuah lokakarya di salah satu hotel di Jakarta, akhir Oktober lalu. Menurut Fachrul, ASN tak boleh menggunakan cadar atau penutup muka.

Angggota Komisi VIII Ali Taher meminta Fachrul belajar lagi tentang agama. Menurut Ali, Fachrul terlalu gampang mengategorikan berbagai hal sebagai radikalisme. 

"Jangan lagi muncul isu-isu radikalisme. Kalau tidak ada radikalisme, tak pernah ada (Raja) Namrud berjumpa dengan (Nabi) Ibrahim. Jika tidak ada radikalisme, Musa tidak akan bertemu Firaun. Jika tidak ada radikalisme, maka (Nabi) Muhammad tidak akan bertemu dengan Abu Lahab," kata Ali. 

Ali mengatakan, radikalisme tidak selalu bermakna negatif. Dulu, kata Ali, radikalisme muncul sebagai sebuah perspektif mendukung perubahan yang progresif untuk membangun peradaban.

Sponsored

"Kata radikalisme adalah akar dari sebuah persoalan teologis. Yang keliru adalah menggunakan radikalisme pada konteks politik yang menghancurkan agama," kata politikus Partai Amanat Nasional itu. 

Anggota Komisi VIII dari fraksi PDI-Perjuangan Rieke Diah Pitaloka meminta Menag Fachrul lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan di depan publik. "Baru langkah satu sudah bikin gaduh," kata Diah.

Berita Lainnya