sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rencana Kasad Dudung Abdurrachman rekrut santri jadi prajurit TNI mendapat dukungan

Santri merupakan potensi besar bagi bangsa dan negara yang perlu dioptimalkan

Marselinus Gual
Marselinus Gual Senin, 06 Des 2021 16:36 WIB
Rencana Kasad Dudung Abdurrachman rekrut santri jadi prajurit TNI mendapat dukungan


Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid mendukung rencana Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurrachman merekrut santri menjadi prajurit TNI. Menurutnya, selain TNI, Polri juga telah melakukan rekrutmen anggota Polri yang bersumber dari pesantren, hafiz Alquran, hingga siswa berprestasi dalam ilmu agama lainnya, sejak 2017 lalu.

Habib Syakur mengatakan, santri merupakan potensi besar bagi bangsa dan negara yang perlu dioptimalkan. Selain itu, rencana ini juga sebagai upaya mengikis fitah-fitnah miring yang ditujukan terhadap pesatren-pesantren.

"Ini juga sekaligus menghilangkan fitnah yang secara berkala, terang-teragangan mengatakan pesantren itu dijadikan sarang radikal. Ini kan fitnah yang keji. Padahal, sangat banyak pesantren-pesantren yang mengajarkan nasionalisme, mengajarkan cinta tanah air dan bangsa," kata Habib Syakur dalam keterangannya, Senin (6/12).

Menurut Habib Syakur, selama ini masyarakat terkesan melupakan fungsi dan peran besar dari pesantren. Sejak zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan, hingga saat ini, fungsi dan peran pesantren sangat besar dalam menjaga keutuhan anak bangsa.

Sponsored

Di sisi lain, Habib Syakur menyarankan semua lulusan satri sangat baik apabila diikutkan dalam pelatihan dan pendidikan oleh TNI-Polri. Karena, bila hanya menjadi personel TNI-Polri saja sangat disayangkan mereka memutuskan keilmuannya.

Jika seluruh tamatan pesantren dididik oleh TNI-Polri, nanti mereka akan dikembalikan ke basisnya, yaitu menjadi pendakwah yang mengayomi dan mampu memecahkan sebuah masalah di tengah masyarakat baik secara sosiologis mapun antropologis.

"Jadi, setelah ikut pendidikan, mereka kembali lagi ke komunitasnya yaitu ke pesantren, ke masjid, sebagai pengayom umat. Saya rasa, kalau ini berjalan secara berkala, otomatis 80 % radikalisme dan intoleran tidak lagi berkembang," pungkasnya.

Berita Lainnya
×
tekid