sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tipe Covid-19 di Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat dan China

Negara yang berada di Eropa, Amerika dan Asia susunan gen virusnya bertipe A atau C.

Adi Suprayitno
Adi Suprayitno Rabu, 13 Mei 2020 08:13 WIB
Tipe Covid-19 di Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat dan China
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 25773
Dirawat 17185
Meninggal 1573
Sembuh 7015

Tim Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur menyebutkan, tipe Covid-19 di Indonesia, khususnya Jatim berbeda dengan negara yang berada di China, Eropa, dan Amerika Serikat.

Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur Joni Wahyuhadi, mengatakan, susunan gen dari tipe virus di Jatim berbeda dengan yang muncul di Wuhan China, Eropa, dan Amerika Serikat.

"Susunan gen dari tipe virus corona jenis baru, tidak sama antara di Asia Tenggara dengan yang di Eropa, Amerika, dan Wuhan," kata Joni, di Grahadi, Selasa (12/5). 

Negara yang berada di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia susunan gen virusnya bertipe A atau C. Sementara di Asia Tenggara khususnya di Indonesia virusnya bertipe B.

“Yang saya baca di buku, di Asia Tenggara susunan gen (virus SARS CoV-2) tipenya B. Kalau di negara lain A sama C,” tuturnya. 

Meski begitu, Joni mengaku belum ada keterangan resmi dari lembaga penelitian yang menjelaskan adanya perbedaan tipe virus tersebut. Hanya saja informasi yang didapat oleh Joni, tipe virus corona di Amerika memiliki virulensinya lebih berbahaya, jika dibandingkan di Asia Tenggara. 

Perbedaan tipe virus ini terlihat gejala pasien positif terjangkit virus SARS CoV-2. Di mana di Indonesia mayoritas gejala batuk yang mencapai 52,1%. Sementara gejala sesak nafas hanya 24,7%. Gejala pilek presentasenya 35,1% dan demam 26,7%. 

Gejala klinis virus corona di Wuhan juga berbeda dengan di Jatim. Di mana di China mayoritas pasien yang terinfeksi Covid-19, mengalami gejala sesak nafas dan pneunomia. 

Sponsored

"Di Jatim pasien terjangkit memiliki gejala klinis batuk dan pilek. Kalau di Wuhan itu (mayoritas) demam bukan batuk. Tetapi di Jatim demam nomor tiga,” ungkap pria yang juga Dirut RSU dr Soetomo ini.

Di tempat yang sama, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, meminta agar masyarakat lebih waspada terhadap gejala klinis yang terjadi di Jawa Timur. Di mana kasus positif yang disurvei, tercatat hanya 50% yang menyatakan mengalami gejala batuk. 

"Jadi banyak yang dites positif tetapi merasa dirinya baik-baik saja, inilah makanya kita harus melakukan kewaspadaan setinggi mungkin," kata Emil.

Ia berharap masyarakat mengetahui semua gejala klinis Covid-19 untuk memudahkan pelacakan. Mengingat di Jatim tidak hanya sesak nafas, tetapi paling banyak di Jatim batuk dan pilek.

Cara berjuang masyarakat adat melawan Covid-19

Cara berjuang masyarakat adat melawan Covid-19

Jumat, 29 Mei 2020 16:49 WIB
Pandemi dan paras otoriter rezim Jokowi 

Pandemi dan paras otoriter rezim Jokowi 

Kamis, 28 Mei 2020 17:45 WIB
Berita Lainnya