logo alinea.id logo alinea.id

TKI asal Banten disiksa majikan di Abu Dhabi

Akibat disiksa majikan, kondisi tubuh Eni amat kurus memprihatinkan, penuh luka lebam diseluruh tubuh, daun kuping mengalami kerusakan.

Khaerul Anwar
Khaerul Anwar Rabu, 06 Feb 2019 21:28 WIB
TKI asal Banten disiksa majikan di Abu Dhabi

Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, Banten, disiksa oleh majikan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Tenaga kerja wanita (TKW) bernama Eni Suci Suharyati (32) itu mengalami luka lebam di bagian wajah dan sekujur tubuh hingga daun telinganya rusak.

Selain disiksa majikan, selama enam bulan bekerja disana, Eni mengaku pernah disekap di dalam kamar mandi rumah selama satu bulan setengah meski sedang dalam keadaan sakit.

Eni mengatakan, perlakuan kasar dari majikan mulai diterimanya sejak bulan pertama bekerja. Pukulan dan jambakan rambut sampai dibenturkan ke tembok merupakan siksaan sehari-hari yang diterima olehnya. 

Eni tidak bisa memberi kabar kondisi dirinya kepada keluarganya karena ponsel miliknya ikut disita majikan.

"Keseringan ditampar, kuping mengelupas, agak terbuka sedikit, saya bilang madam ngebuka (daun kuping) minta dibawa ke rumah sakit, enggak boleh karena takut majikannya kena aib. Sudah nyengkleh saya disiram sama air panas, melepuh jadinya," kata Eni saat berbincang bersama wartawan di kediamannya, Rabu (6/2).

Tak jarang, Eni meminta dipulangkan ke Indonesia. Bukan izin dan tiket pulang ia terima, malah siraman air panas yang ia dapatkan. Akibat disiksa majikan, kondisi tubuh Eni amat memprihatinkan, penuh luka lebam diseluruh tubuh, daun kuping mengalami kerusakan dan tubuh kering kerempeng.

Dalam sehari, ia hanya menerima makanan dua potong roti dan sepotong daging bekas majikan layaknya memberi makan hewan. 

Sponsored

"Dulu pas berangkat 60 kilogram dengan perawakan gemuk, sekarang 30 kilogram tadi kata dokter. Sudah di periksa di rumah sakit umum," tutur Eni sembari menahan rasa sakit.

Setelah enam bulan bekerja dengan penuh siksaan majikan, Eni baru diizinkan untuk pulang ke Indonesia setelah dirinya memohon-mohon kepada majikan. Lebih miris lagi selama enam bulan kerja, ia hanya menerima tiga bulan gaji.

Eni tiba di Indonesia pada Selasa (5/2) pukul 20.00 WIB. Dibantu kepolisian bandara, ia dapat memberi kabar keluarga di rumah untuk menjemput.

"Sama majikan dianter, dikasih uang tiket tapi uang saya dari gaji itu. Datang jam 8 isa. Dikasih uang terakhir 1.000 dirham, buat tiket pun sempat kekurangan," katanya.