sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

TNI tidak akan lindungi prajurit rasis

Dua prajurit TNI diduga mengeluarkan ucapan-ucapan rasis dalam peristiwa pengepungan asrama Papua di Surabaya.

Christian D Simbolon
Christian D Simbolon Rabu, 28 Agst 2019 14:19 WIB
TNI tidak akan lindungi prajurit rasis

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan pihaknya masih memeriksa dua prajurit yang diduga mengeluarkan ucapan-ucapan rasis dalam peristiwa pengepungan asrama mahasiswa Papua, beberapa waktu lalu. Hadi menegaskan, institusinya tidak akan melindungi prajurit-prajurit yang rasis. 

"Saat ini terus dilakukan pendalaman dengan bukti-bukti yang ada. Saya tegaskan TNI tidak memberikan peluang terhadap pelaku-pelaku rasis dan akan kita tindak tegas," ujar Hadi di Hotel Rimba, Timika, Papua, Rabu (28/8). 

Sejumlah anggota Kodam V/Brawijaya diskors imbas peristiwa pengepungan asrama Papua di Surabaya. Salah satunya ialah Danramil 0831/02 Tambaksari Mayor Infanteri N.H. Irianto. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Irianto terdengar mengucapkan kata-kata rasis saat mendesak mahasiswa Papua keluar dari asrama. 

"Ada dua prajurit TNI yang diperiksa, yaitu Danramil (Irianto) karena dianggap tidak mengindahkan perintah atasan dan ada seorang anggota Babinsa," jelas Hadi. 

Bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Hadi berada di Papua untuk berdialog dengan tokoh-tokoh Papua untuk mengurai api konflik di Bumi Cenderawasih tersebut. Ia mengatakan, TNI dan Polri terbuka terhadap semua saran dan kritik. 

"Kita ingin menyelesaikan masalah Papua secara mendasar sampai ke akarnya dengan sudut pandang Papua sehingga kita bisa memahami apa yang diinginkan untuk menjadikan wilayah Papua sebagai tanah damai," kata dia. 

Pada kesempatan yang sama, Kapolri Tito Karnavian mengapresiasi keterlibatan para tokoh dan pimpinan daerah di Papua dan Papua Barat dalam meredam kemarahan warga Papua atas insiden rasisme yang terjadi di Malang, Surabaya, dan Semarang. 

"Terhadap peristiwa di Surabaya tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini telah menyampaikan permohonan maaf kepada warga Papua. (Mereka mengatakan) ujaran yang disampaikan tersebut tidak mewakili suara masyarakat Jawa Timur," kata Kapolri.

Sponsored

Kapolri menilai peristiwa rasisme di Surabaya itu terjadi secara spontan dan kasuistis. Namun demikian, ia mengakui peristiwa tersebut tidak bisa dipandang remeh. "Jangan dieksploitasi berlebihan, tapi tetap kita tegakkan hukum kepada yang melakukan," kata Tito. 

Kepada mahasiswa Papua, Kapolri berpesan agar mereka beradaptasi dengan kondisi dan adat istiadat di daerah tempat mereka menimba ilmu. Hal serupa juga berlaku bagi warga non-Papua yang tinggal di Papua. 

"Tidak bisa eksklusif. Harus menyesuaikan diri dengan situasi masyarakat setempat sehingga bisa diterima. Sama-sama harus saling menghormati," ujar dia. (Ant)