sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Vaksinator dan kejar tayang target vaksinasi Covid-19

Vaksinasi Covid-19 terus digencarkan. Menurut Kemenkes, saat ini juga sudah ada 121.000 vaksinator yang direkrut.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Senin, 19 Apr 2021 09:45 WIB
Vaksinator dan kejar tayang target vaksinasi Covid-19

Sudah sebulan Rivani Agusmawati, 23 tahun, bertugas sebagai penyuntik vaksin Covid-19 atau vaksinator Covid-19. Ia ditempatkan di Istora Senayan, Jakarta. Kampusnya merekomendasikan Rivani menjadi vaksinator.

Menurut perempuan yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina ini, sebelum diterjunkan menyuntik penerima vaksin, ia harus menjalani serangkaian pelatihan selama seminggu.

“Pelatihan itu mengenai mekanisme alur vaksin sampai diinjeksikan ke tubuh peserta,” ucap Rivani kepada Alinea.id, Kamis (15/4).

Suka duka vaksinator

Selain itu, mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan profesi keperawatan ini dilatih cara menyimpan vaksin agar tak terkontaminasi, sebelum disuntik ke penerima.

“Kami harus memastikan vaksin disimpan dalam suhu dua sampai delapan derajat Celsius,” ujarnya.

Ia juga mesti memastikan penerima vaksin dalam kondisi sehat, agar tak berisiko mengalami efek samping yang berat usai disuntik. Menurut mahasiswi STIKes Pertamedika, Jakarta itu, batas tensi darah penerima vaksin hanya sampai 180.

“Kalau di atas 180/110 itu tidak boleh divaksin,” katanya.

Sponsored

Selama betugas, ia dibekali dengan alat pelindung diri berupa baju hazmat, masker, pelindung wajah, dan penyanitasi tangan. Di samping itu, ia mendapat insentif berupa uang sebesar Rp200.000 per hari.

“Kalau weekend itu bisa Rp350.000-Rp400.000,” ucapnya.

Ia mengaku, insentif tersebut cukup untuk tambahan bagi dirinya. Sementara gaji pokok yang diterima sebagai perawat sebesar Rp4 juta-Rp5 juta sebulan.

Belakangan, selama bertugas sebagai vaksinator, ia mengaku mulai keteteran melayani penerima vaksin. Makin hari, katanya, penerima vaksin makin meningkat. Ia menyebut, pernah sehari bisa menyuntik lebih dari 100 orang.

Belum lagi keadaan cuaca yang tidak menentu, yang ikut mengganggu proses vaksinasi karena banyak penerima vaksin telat hadir. Padahal, jadwal penyuntikan sudah ditentukan. Akibatnya, proses penyuntikan menjadi molor.

Rivani juga merasa bebannya makin berat, jika ada warga yang meragukan vaksin Covid-19. Ia harus sebisa mungkin meyakinkan vaksin yang akan diberikan itu halal dan aman.

"Masyarakat masih banyak yang takut divaksin. Pertanyaan rata-rata soal kehalalan dan efek samping," kata Rivani.

Untuk meyakinkan warga yang masih ragu, ia membagi pengalamannya sewaktu divaksinasi. Namun, ia agak kewalahan jika harus menjelaskan terlebih dahulu seluk-beluk vaksin Covid-19. Hal itu, menurutnya, membuat manajemen waktu vaksinasi menjadi tak efisien.

 Petugas vaksinator menyuntikan vaksin Covid-19 kepada seorang pengendara sepeda motor secara layanan tanpa turun atau drive thru./Foto Dokumentasi Humas Setkab/Setkab.go.id).

Sama seperti Rivani, Roy Tanda Anugrah Sihotang pun sudah sebulan menjadi vaksinator. Ia bertugas di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Ia ditunjuk Rumah Sakit Amanda Cikarang Selatan—tempatnya bekerja—untuk membantu Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi.

“Karena rumah sakit tempat saya tugas merupakan rujukan Covid-19, kami dianggap sudah sering menangani pasien Covid-19 dan diminta untuk jadi vaksinator,” ujar Roy saat dihubungi, Sabtu (17/4).

Pria yang bertugas sebagai dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Amanda Cikarang Selatan ini dilatih terlebih dahulu selama seminggu di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto, Cianjur, Jawa Barat.

Ia juga harus membuat simulasi, sebelum terjun menjadi vaksinator untuk memastikan mekanisme alur vaksinasi berjalan cepat dan efektif. Sejauh ini, Roy belum menemui kendala berarti. Ia sudah terbiasa dengan urusan terkait Covid-19, sejak awal pandemi. Selain itu, ia pun ikut meyakinkan penerima perihal keamanan dan kehalalan vaksin.

"Kami terus edukasi mereka, supaya paham dan tidak khawatir. Saya tinggal bilang, ‘saya sudah divaksin dan saya enggak apa-apa. Sama sekali enggak ada efek yang berlebihan’," ucap Roy.

Akan tetapi, Roy mengaku tak bisa memastikan berapa banyak dosis vaksin yang ia suntikan dalam sehari. Hal itu, kata dia, sangat tergantung dari pasokan vaksin yang dimiliki Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi. Keterbatasan pasokan vaksin pun membuat vaksinator di Kabupaten Bekasi tak bisa tancap gas kejar target.

"Semisal untuk lansia 100, ya kami enggak bisa ngasih lebih dari 100. Tapi kami memahami keadaan itu karena vaksin ini kan jadi rebutan seluruh dunia," kata Roy.

Kepala IGD RS Amanda Cikarang Selatan ini melanjutkan, dalam kerja vaksinasi ada empat orang vaksinator dan tiga tenaga pendukung, seperti tenaga rekam medis, pendataan pasien, dan administrasi, yang bertugas.

“Sebab, kami tak hanya nyuntik. Tapi harus report ke dinas kesehatan maupun Kementerian Kesehatan dan membuat administrasi pelaporan pendataan pasien,” ujarnya.

Dalam melakukan proses vaksinasi, menurut Roy, satu peserta minimal jangan memakan waktu lebih dari 45 menit, agar efisien. Pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini mengaku senang terlibat dalam program vaksinasi.

Meski begitu, ia mengatakan, sejauh ini belum mendapatkan insentif khusus selama bertugas sebagai vaksinator. Ia pun masih menunggu informasi dari pemerintah.

Tenaga vaksinator dan kejar target

Juru bicara vaksinasi Covid-19, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menyebut, sejauh ini sudah ada 121.000 vaksinator yang direkrut untuk program vaksinasi Covid-19. Angka tersebut, katanya, bisa bertambah lagi, tergantung kebutuhan masing-masing daerah.

Pelatihan bagi vaksinator, menurut Nadia, juga tak harus dari Kemenkes. Daerah pun bisa melakukannya.

“Jadi, yang merekrut dan melatih itu dinas kesehatan setempat. Pelatihan itu juga dilaksanakan berdasarkan usul dinas kesehatan setempat,” ucap Nadia saat dihubungi, Jumat (16/4).

Nadia menjelaskan, vaksinator pun tak mesti berasal dari unsur pemerintah. Bisa pula dari swasta, asal masih termasuk institusi kesehatan.

“Misalnya dari rumah sakit swasta atau perguruan tinggi. Tapi tetap di bawah koordinasi dinas kesehatan,” ucap Nadia.

Untuk menjadi vaksinator, ia mengatakan, harus punya latar belakang ilmu kesehatan. Hal itu diperlukan karena vaksinator memerlukan kompetensi di bidang kesehatan yang teregistrasi. Unsur TNI atau Polri, sebut Nadia, bisa juga diterjunkan sebagai petugas penyuntik vaksin.

“Tapi, dia harus punya basic medis alias orang kesehatan. Bisa dokter, perawat, atau tenaga medis,” ujar Nadia.

Sebelum terjun ke lapangan, seorang vaksinator harus mengikuti serangkaian pelatihan dari dinas atau institusi kesehatan. Tujuannya, kata Nadia, agar mengenal seluk-beluk vaksinasi dan memahami cara memperlakukan vaksin supaya tak rusak sebelum dipakai.

“Dia wajib mengenal gejala orang yang tidak boleh divaksin, lalu bagaimana cara mengambil vaksin. Kemudian, cara menyuntikan dan mengenali jenis-jenis vaksin,” tutur Nadia.

Ia menuturkan, paling tidak dibutuhkan waktu dua hari untuk melatih seorang vaksinator. Sebab, mereka sudah berstatus sebagai tenaga medis yang siap melakukan penyuntikan.

"Jadi, kami hanya lebih banyak memberi pengenalan vaksin. Kemudian efek samping vaksin," ucap Nadia.

Menurut dia, Kemenkes tidak memasang target harian bagi vaksinator. Hal itu, tergantung dari kecepatan masing-masing tim melakukan penyuntikan. Namun, Kemenkes tetap memberikan patokan jam kerja, yakni delapan jam per hari bagi semua tenaga vaksinator.

“Kalau alurnya cepat, satu tim itu bisa 100 atau 200 orang (disuntik), ada pula yang 50 (orang) dan 60 (orang),” ujarnya.

"Jadi enggak ada maksimum dan sangat tergantung dari kecepatan tiap tim.”

 Seorang lansia menerima vaksin Covid-19 dalam layanan tanpa turun atau drive thru./Foto Humas Kemensetneg/Kiky/Setkab.go.id).

Sementara itu, epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Windhu Purnomo menilai, sebenarnya pemerintah memiliki sumber daya tenaga kesehatan yang memadai untuk dikerahkan menjadi vaksinator. Bahkan, katanya, saat ini pemerintah punya sekitar 25.000 vaksinator yang terlatih.

“Tinggal menambah sisanya, plus cadangan. Boleh saja diambil dari TNI, Polri, atau lainnya, asal tetap berkualifikasi sebagai tenaga kesehatan,” ucap Windhu saat dihubungi, Kamis (15/4).

Menurutnya, idealnya setiap vaksinator menyuntik 50 orang per hari dalam waktu enam jam kerja. “Setiap 7,5 menit harus menyuntik satu orang,” kata Windhu.

Selanjutnya, Windhu mengatakan, setidaknya dibutuhkan 41.600 vaksinator jika ingin mengejar target vaksinasi Covid-19 selesai dalam waktu setahun. Berdasarkan perhitungan Windhu, diperlukan sekitar 378 juta dosis vaksin untuk menciptakan kekebalan komunitas 70% dari total 270 juta penduduk Indonesia.

“Tapi karena tidak mungkin seorang vaksinator bekerja setiap hari terus menerus, maka diperlukan dua kali lipat, yaitu minimum 20.800 dikali dua, sama dengan 41.600 orang vaksinator,” kata Windhu.

Seperti diketahui, pemerintah memasang target vaksinasi Covid-19 kepada 181,5 juta penduduk hingga akhir 2021. Dalam Rapat Koordinasi Kepala Daerah Tahun 2021 yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretarian Presiden pada Rabu (14/4), Presiden Joko Widodo pun sangat optimis kalau pemerintah dapat menginjeksi vaksin Covid-19 kepada 70 juta penduduk hingga Juli 2021.

Namun, Windhu memandang, vaksinasi yang dilakukan pemerintah cenderung lamban dan mustahil bisa selesai dalam waktu setahun. Jika melihat tingkat vaksinasi (vaccination rate) yang dilakukan, kata Windhu, masih jauh dari target tahunan dan tidak padu dengan populasi.

Menurut perhitungannya, hingga Kamis (15/4) jumlah dosis vaksin yang disuntik baru 16.316.282. Padahal, menurutnya, kalau dianggap program vaksinasi dimulai pada 1 Februari 2021, maka sudah 74 hari hingga Kamis (15/4).

“Jadi, vaccination rate sampai hari ini 221.000 per hari. Anggap dibulatkan 300.000 per hari, maka target 378 juta dosis baru bisa diselesaikan dalam waktu 3,5 tahun,” kata Windhu.

Mau tak mau, ujar Windhu, agar vaksinasi rampung dalam waktu setahun, seharusnya dibutuhkan upaya penyuntikan satu juta dosis per hari. Akan tetapi, problemnya saat ini, Indonesia masih terkendala ketersediaan vaksin. Imbasnya, pasokan vaksin masih sulit mengejar target kekebalan dalam setahun.

"Masalahnya ada pada pasokan vaksin yang tergantung dari produsen dan negara lain karena kita belum punya vaksin Merah Putih,” katanya.

“Akhirnya supply vaksin sangat kecil di tengah-tengah demand vaksin yang luar biasa besar di dunia, apalagi kalau ada embargo seperti saat ini.”

Berita Lainnya