sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kegigihan 120 menit terhapus oleh salah semenit

Ikhtisar ini bukan mengomentari banyaknya peluang yang terbuang dari jala gawang Kawin Thamsatchanan.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Jumat, 20 Mei 2022 13:42 WIB
Kegigihan 120 menit terhapus oleh salah semenit

Tim U-23 di semifinal SEA Games XXXI Vietnam 2021 bertarung gagah perkasa. Hasilnya, hanya kalah tipis 0-1 dari Thailand di Stadion Thien Truong, Nam Dinh, Kamis (19/5).

Ikhtisar ini bukan mengomentari banyaknya peluang yang terbuang dari jala gawang Kawin Thamsatchanan. Bukan juga mau nyinyir atas tindakan tidak sportif Gajah Perang yang menyulut emosi awak Garuda Muda di penghujung laga.

Sejak menit ke-50 hingga ke-65, sebenarnya Fachruddin Aryanto dkk mengalami stagnasi. Gol lawan tinggal menunggu waktu. Walaupun ternyata Weerathep Pomphan harus menunggu sampai menit ke-93 untuk memperjelas keadaan yang terjadi selama 15 menit babak kedua tersebut.  

Selama itu pula pemain belakang Merah-Putih kelelahan. Bola-bola melulu mereka arahkan sebagai umpan panjang dari belakang langsung jauh ke depan. Itu bisa terjadi dalam tanpa sadar: para bek merasa hanya jajaran lini pertahanan yang bekerja keras sepanjang pertandingan. Mereka pikir, di ujung depan sana tak ada yang mampu menyelesaikan setiap kesempatan.

Egoisme ala Tarkam

Ciri menonjol dari dua kejuaraan gagal prestasi Shin Tae-yong ialah dia memilih striker yang tidak mau mencetak skor. Kushedya Hadi Yudho dan Dedik Setiawan menjadi kesalahan besar di Piala AFF 2021 lalu. Di SEA Games ini, kekeliruannya dilanjutkan Irfan Jauhari dan Muhammad Ridwan. Lain cerita seandainya pelatih kelas Piala Dunia itu memanggil Ezra Walian atau Ilija Spasojevic untuk mengasup umpan-umpan bergizi Marc Klok.
 
Analis taktikal Joao Ruivo mengatakan salah satu perubahan besar yang terjadi dalam sepakbola adalah pentingnya kecerdasan dalam bermain. Pemain menghadapi tantangan besar karena harus terus-menerus membuat keputusan dalam hitungan detik, karena ketika mereka menguasai bola, hanya masalah waktu sampai lawan mendekati mereka.

Bagaimana Syahrian Abimanyu bisa membuat keputusan yang lebih baik dalam waktu yang begitu singkat?

Babak pertama perpanjangan waktu, tepatnya di menit ke-93, Klok mendapat tendangan bebas. Syahrian mengajaknya diskusi sejenak, rupanya minta bola diumpankan kepadanya. Klok, yang tentu saja segan sebagai pemain baru di tim nasional, tak menolak permintaan itu.

Sponsored

Trik murahan versi sepak bola tarkam pun dipertontonkan. Syahrian pura-pura mengeksekusi bola, tapi terus berlari nyelonong ke depan. Klok mengumpannya, pemain Thailand sudah mengantisipasi. Justru Syahrian yang kemudian malah melakukan pelanggaran di kotak penalti lawan.

Giliran tendangan bebas untuk Thailand. Setelah itu, Klok kembali menerima bola di dekat garis tengah. Ia mengumpan lagi, namun terpental tersapu gelandang musuh. Bola sapuan tersebut jatuh ke kaki Syahrian. Di detik itulah dia membuat kesalahan fatal.

Syahrian dan Klok di posisi berdiri berdekatan di tengah lapangan, di antara mereka ada seorang pemain lawan. Bukannya mengumpan bagus, tapi Syahrian seperti memberi bola ke pemain Thailand dengan cara tidak langsung, yakni memantulkannya dulu ke kaki Klok. Umpannya sangat keras, padahal rekan setimnya itu tidak begitu jauh. Bola keras itu jelas tak bisa dikontrol Klok.

Umpan Syahrian berubah jadi bola liar, segera diambil Patrick Gustaffson. Striker pengganti cerdik itu menggiringnya sampai masuk ke kotak penalti. Dia berhasil menarik penjagaan dua bek dibantu Klok yang lekas bertanggung jawab ikut menutup pergerakan Gustaffson. Syahrian sendiri sudah hilang dari alur permainan.

Rekan tak Terpercaya

Bagaimana Alfeandra Dewangga menemukan cara tidak hanya untuk membuat keputusan yang lebih baik, tetapi juga keputusan yang mempraktikkan taktik atau strategi tim?

Saat Gustaffson membagi bola di kakinya ke Benjamin Davies, situasi sudah agak kacau. Dewa akhirnya muncul bagai monster menciptakan horor, salah memindai lapangan, lantas keliru potong bola. Sayap lawan di balik punggungnya seharusnya jadi sentral perhatiannya. Ketika semua pemain bertahan sudah terseret jauh ke belakang garis pertahanan, umpan bergulir dari Benjamin mutlak "jatah" gelandang.

Guliran umpan itu menyusur rumput, sedikit di luar kotak penalti. Di alur permainan seperti itu Syahrian sendiri sudah menghilang, jelas karena staminanya melorot. Tapi, masih ada Ronaldo Kwateh yang siap membantu. Apakah Dewa percaya bahwa rekannya yang termuda akan mampu menghadang? Sialnya ternyata dia tidak percaya. Dewa memaksakan diri memotong bola, tapi memang pasti tidak kena.

Belum satu menit, empat kesalahan beruntun. Sejak momen tendangan bebas Klok yang terpaksa mengumpan ke Syahrian, pelanggaran Syahrian di kotak penalti lawan, umpan Syahrian menyiksa Klok, dan upaya paksa Dewa rebut bola di jantung pertahanan sendiri yang gagal. Syahrian dan Dewa butuh banyak belajar bahwa kesebelasan berarti 11 pemain bukan cuma berdua.

Sisa rangkaian kejadian menyedihkan tak perlu dibahas lagi. Semua itu adegan untuk 0-1 Thailand.

Skuad PSSI U-23 kini compang-camping akibat tiga kartu merah semifinal. Agak berat buat dikalungi medali perunggu. Laga selanjutnya perlu dihadapi dengan sikap yang lebih tahu diri. Malaysia pasti diliputi tekad membara, hendak balas dendam dari kepahitan Piala AFF tahun lalu. Di final kecil SEA Games ini, kita masih dalam proses, lupa prestasi. Bukankah segenap fans Garuda sudah cukup lama mengenal apa arti bela sungkawa?

Berita Lainnya
×
tekid