sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kemenangan Prancis, kemenangan imigran dan muslim di Piala Dunia

Timnas Prancis ditopang para pemain dengan status minoritas di Piala Dunia 2018.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Senin, 16 Jul 2018 16:36 WIB
Kemenangan Prancis, kemenangan imigran dan muslim di Piala Dunia
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 70736
Dirawat 34668
Meninggal 3417
Sembuh 32651

Timnas Prancis kembali meraih gelar Juara Dunia setelah merengkuh gelar bergengsi ini 20 tahun lalu. Tim berjuluk Les Bleus ini mengubur mimpi Kroasia untuk mengangkat trofi Piala Dunia pertamanya dengan skor 4-2.

Diperkirakan, jutaan warga Prancis tumpah ruah di jalanan mulai dari Paris, Marseille, Lyon, hingga Lille. Orang-orang meniup terompet, membunyikan klakson kendaraan, dan mengibarkan bendera negara.

Suka cita kemenangan itu melupakan sekat-sekat perbedaan di antara mereka. Para warga berkulit berbeda, agama, atau latar belakang keturunan, melebur setelah wasit Nestor Pitana membunyikan pluit panjang tanda akhir pertandingan di Stadion Luzniki di Moskow, Rusia.

Di sisi lain, kemenangan ini menjadi kemenangan para warga migran, terutama keturunan Afrika, dan muslim yang selama ini tersisihkan. Dari 23 nama pemain yang diboyong ke Rusia, sekitar 15 di antaranya memiliki akar Afrika.

Ousman Dembele berdarah Mauritania dan Senegal. N'Golo Kante berasal dari Mali, Blaise Matuidi berdarah Angola dan Kongo, Samuel Umtiti lahir di Kamerun, Presnel Kimpembe dari Kongo, Kylian Mbappe yang menjadi pahlawan anyar di Piala Dunia, adalah pemain keturunan Kamerun dan Aljazair. Daftarnya masih panjang hingga total 15 orang.

Selain itu, ada tujuh pemain muslim dalam skuat tim Ayam Jantan di ajang ini. Ada nama Ousmane Dembele, Djibril Sidibe, Adil Rami, Benjamin Mendy, N'Golo Kante, dan Nabil Fekir. 

Paul Pogba, yang memasukkan satu gol di gawang Kroasia, berada di dua daftar tersebut. Ia punya orang tua yang berasal dari Guinea dan beragama muslim, menjadikannya double inferior di negara yang punya sejarah panjang rasisme ini.

Xenofobia, ketidaksukaan terhadap orang-orang dari negara asing, serta Islamofobia, menjadi isu hangat dalam diskursus global. Di Inggris, keresahan terhadap imigran Eropa memicu munculnya referendum Brexit untuk keluar dari uni Eropa. Kanselir Jerman, Angela Merkel menerima tentangan besar akibat kebijakannya membela imigran. 

Sponsored

Sementara di Amerika, Presiden Donald Trump menutup pintu bagi warga tujuh negara Islam, yakni Iran, Irak, Libia, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman. Trump bahkan melakukan kebijakan kejam dengan memisahkan ibu dan anak dari keluarga imigran yang masuk negaranya.

Rasisme di Prancis, atau negara-negara Barat secara keseluruhan, memang memiliki akar yang sangat dalam. Hingga meski sudah ada banyak kampanye penghapusan rasisme dilakukan, namun perasaan superior itu seolah masih utuh.

Edward Said, pelopor kajian poskolonialisme, dalam buku Orientalism mengatakan bahwa Barat dengan sengaja membentuk konsep superior-inferior untuk menghajar mental orang-orang terjajah, atau warga Orient, negara terjajah. Ini menjadi tujuan utama agar mereka dapat mengatur ulang identitas warga Orient, untuk kemudian mendominasi dan menguasainya. Di sisi lain, orang-orang Barat semakin merasa berada tak bisa disetarakan dengan the others, orang-orang yang berbeda dengan mereka dari warna kulit, agama, keturunan, dan lainnya.

Hal ini agaknya yang melatarbelakangi tindakan rasisme terhadap warga migran dan muslim, terutama dalam sepakbola, di Prancis, tak juga hilang. Padahal apa yang terjadi saat ini, merupakan ulangan kejadian 20 tahun lalu, saat Zainuddin Yazid Zaidan, seorang pemain muslim keturunan Aljazair, dielu-elukan setelah memimpin rekan-rekannya meraih gelar juara dunia perdana bagi Prancis.  

Saat itu, pelatih Aime Jacquet yang membawa 23 pemain, diserang karena 16 anak asuhnya merupakan pemain non kulit putih. Seorang pemimpin partai di Prancis saat itu, Jean-Marie Le Pen, menolak keputusan ini. 

Namun meski gelaran itu membuktikan segala tetek bengek rasisme hanya menjadi omong kosong tak berguna, namun hal itu tak juga menghilangkan praktik kotor tersebut. Buktinya penyerang Real Madrid, Karim Benzema, harus terusir dari skuat timnas pada Euro 2016 lalu. Menurutnya, hal ini disebabkan keputusan rasis pelatih Didier Deschamps yang ditekan politisi lokal.

Kemenangan Prancis di ajang Piala Dunia kali ini, tak cuma mengulang kesuksesan Les Bleus di ajang paling bergengsi kompetisi sepakbola dunia. Kemenangan ini juga mengulang kemenangan warga imigran dan muslim. Jika 20 tahun lalu pahlawannya adalah Zidane, kali ini Mbappe yang menjadi bintang. 

Akankah kemenangan ini menghancurkan sekat-sekat rasial yang selama ini terjadi? Atau hanya membuka sesaat untuk kemudian membatasi lagi perbedaan-perbedaan SARA yang selama ini terjadi?

Berita Lainnya