Strategi transformasi dan pemetaan holistik infrastruktur riset nasional menuju Indonesia Emas 2045
Pembangunan ekosistem riset dan inovasi yang tangguh di Indonesia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Transformasi ini memerlukan reposisi radikal dalam memandang infrastruktur riset, bukan sekadar sebagai aset fisik berupa gedung dan peralatan, melainkan sebagai fondasi pengungkit ekonomi yang terdesentralisasi dan berbasis pada keunggulan komparatif wilayah. Landasan hukum utama yang menaungi visi ini adalah Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, yang menetapkan sains, teknologi, dan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas nasional keempat. Melalui integrasi lembaga riset utama menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berdasarkan Perpres Nomor 78 Tahun 2021, Indonesia telah melakukan penggabungan institusi riset terbesar di dunia, sebuah pencapaian yang menandai berakhirnya era fragmentasi riset yang selama ini menghambat optimalisasi belanja modal negara yang wujudnya infrastruktur riset.
Ketimpangan kontribusi ekonomi antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) yang mencapai 79,1% dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang hanya 20,9% pada tahun 2023 mencerminkan adanya kesenjangan infrastruktur pendukung industri berbasis pengetahuan. Pemetaan kebutuhan infrastruktur riset nasional periode 2025-2029 diarahkan untuk menaikkan kontribusi ekonomi KTI menjadi 22,4% melalui pengembangan koridor kewilayahan yang didukung oleh fasilitas penelitian spesifik. Strategi ini melibatkan pembangunan pusat unggulan atau Center of Excellence (CoE) di setiap provinsi, revitalisasi Techno Park sebagai pusat hilirisasi, dan pemanfaatan Taman Hutan Raya (Tahura) sebagai laboratorium alam untuk riset keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Keberhasilan integrasi institusional ini harus segera diikuti dengan pembenahan infrastruktur fisik di tingkat daerah agar manfaat riset tidak lagi terkonsentrasi di Pulau Jawa, melainkan merata hingga ke pelosok wilayah Nusantara.
Rekonfigurasi struktural dan paradigma mandat melekat
Pembenahan infrastruktur dimulai dengan menyelaraskan fungsi Organisasi Riset (OR) dengan laboratorium fisik sebagai basis operasional utamanya. Riset yang hanya menghasilkan output teoritis tanpa dukungan fasilitas pengujian mumpuni tidak akan mampu menjawab tantangan industri. Oleh karena itu, pemerintah menerapkan sistem "Mandat Melekat", di mana setiap OR di bawah BRIN wajib mengelola minimal satu laboratorium referensi nasional sesuai dengan bidang kepakarannya. Kebijakan ini memastikan bahwa kepakaran peneliti melekat pada fasilitas fisik yang terstandar, sehingga hasil riset memiliki akurasi dan validitas yang diakui secara global.
Aspek krusial lainnya dalam integrasi ini adalah penerapan prinsip Open Access atau Akses Terbuka. Seluruh laboratorium yang dikelola secara keilmuan oleh OR harus dapat diakses oleh universitas, institusi pemerintah daerah, maupun sektor swasta melalui sistem manajemen aset yang transparan. Penggunaan platform E-Layanan Sains (ELSA) memungkinkan peneliti dari luar BRIN untuk melihat ketersediaan alat, mengajukan proposal penggunaan, dan mendapatkan layanan pengujian secara digital. Mekanisme ini mengoptimalkan penggunaan alat-alat laboratorium yang mahal dan meminimalkan duplikasi pengadaan di instansi yang berbeda, sehingga meningkatkan efisiensi Capital Expenditure (CAPEX) nasional. Efisiensi ini juga didukung oleh siklus pemeliharaan yang ketat, di mana anggaran OR mencakup biaya kalibrasi dan pemutakhiran alat secara berkala untuk mencegah depresiasi fungsi instrumen modern.
Komponen integrasi struktural infrastruktur riset
|
Komponen integrasi |
Mekanisme implementasi |
Dampak yang diharapkan |
|
Mandat laboratorium |
Pengelolaan lab referensi oleh OR pakar sesuai spesialisasi keilmuan. |
Validitas data riset standar global dan pengakuan hasil uji internasional. |
|
Akses Terbuka (ELSA) |
Pemanfaatan fasilitas lintas instansi melalui platform marketplace layanan sains. |
Optimalisasi penggunaan aset negara dan efisiensi belanja modal (CAPEX). |
|
Siklus pemeliharaan |
Alokasi anggaran kalibrasi rutin dalam biaya operasional tahunan OR. |
Perpanjangan usia pakai alat canggih dan konsistensi presisi data. |
|
Interoperabilitas data |
Digitalisasi hasil uji melalui sistem LIMS yang terintegrasi dengan repositori nasional. |
Terbentuknya Big Data riset nasional untuk kebijakan berbasis bukti. |
Model Hub-and-Spoke: Tata kelola riset terdesentralisasi
Untuk mengintegrasikan infrastruktur riset yang tersebar di 38 provinsi, diperlukan model tata kelola yang tidak sentralistik namun tetap terstandar. Model Hub-and-Spoke menempatkan BRIN di pusat sebagai penetap standar kebijakan, manajemen SDM global, dan akses pendanaan strategis. Sementara itu, CoE di tiap provinsi bertindak sebagai Spoke yang mengelola implementasi teknis dan spesialisasi lokal. Koordinasi operasional dilakukan melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) yang kini telah terbentuk di banyak wilayah untuk mengawal kebijakan berbasis bukti di daerah.
Integrasi ini diperkuat dengan Digital Governance melalui pemanfaatan sistem informasi terpadu. Selain ELSA untuk akses alat, implementasi Laboratory Information Management System (LIMS) di setiap CoE sangat krusial agar alur data sampel dapat dilacak secara digital dan diintegrasikan ke dalam repositori ilmiah nasional. Pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) pada laboratorium juga mulai diterapkan untuk memantau kondisi lingkungan alat sensitif secara real- time, sehingga menjamin stabilitas fungsional infrastruktur riset di seluruh daerah.
Distribusi peran dalam tata kelola riset nasional
|
Aspek tata kelola |
Peran BRIN (Pusat) |
Peran CoE / BRIDA (Daerah) |
|
Standarisasi fasilitas |
Penetapan SOP operasional dan fasilitasi akreditasi internasional ISO/IEC 17025. |
Perawatan harian alat, pengawasan teknis, dan optimalisasi utilitas laboratorium. |
|
Manajemen SDM |
Sertifikasi kompetensi peneliti, teknisi, dan mobilitas pakar global. |
Penyediaan tenaga teknis lokal dan fasilitasi magang riset mahasiswa daerah. |
|
Pengelolaan |
Pengelolaan server pusat, |
Input data primer dari lapangan dan |
|
data |
interoperabilitas data, dan keamanan siber riset. |
manajemen sampel secara digital via LIMS. |
|
Strategi pendanaan |
Manajemen Dana Abadi Riset, SBSN, dan koordinasi hibah internasional. |
Pengalokasian APBD untuk biaya operasional dan pemeliharaan gedung CoE. |
Pemetaan strategis Center of Excellence (CoE) berbasis wilayah
Strategi pembangunan infrastruktur riset di Indonesia diarahkan pada model Center of Excellence (CoE) yang mengonsentrasikan sumber daya pada titik-titik pertumbuhan ekonomi strategis. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lompatan inovasi yang signifikan melalui kolaborasi antara peneliti, anggaran, dan peralatan canggih. Pemetaan CoE dibagi berdasarkan potensi strategis nasional yang diselaraskan dengan koridor kewilayahan.
Klasterisasi wilayah dan hubungan dengan sektor industri
|
Klaster riset |
Lokasi utama |
Fokus infrastruktur |
Relevansi industri |
|
Kesehatan & pangan |
KST Soekarno (Cibinong) |
Bank data genomik, BSL-3, fasilitas radiasi pangan. |
Industri farmasi, vaksin, dan keamanan pangan nasional. |
|
Energi & manufaktur |
KST Habibie (Serpong) |
Reaktor nuklir riset, pengujian material baterai, lab kendaraan listrik. |
Transisi energi hijau dan otomotif listrik. |
|
Maritim & kelautan |
Bali & Lombok |
Infrastruktur eksplorasi laut dalam, budidaya biota laut tropis. |
Ekonomi biru dan perikanan ekspor. |
|
Dirgantara & satelit |
Biak, Garut, Bandung |
Stasiun bumi, integrasi satelit, uji terbang drone (UAV). |
Teknologi pertahanan dan penginderaan jauh. |
|
Bio-Resource & karbon |
Sumatera & Kalimantan |
Lab restorasi gambut, analisis karbon, pemuliaan sawit. |
Perdagangan karbon dan agroteknologi hijau. |
Pemetaan infrastruktur dan kebutuhan laboratorium spesifik di 38 provinsi
Kebutuhan alat laboratorium di setiap provinsi dirancang untuk mendukung keunggulan kompetitif daerah masing-masing. Berikut adalah rincian pemetaan kebutuhan infrastruktur riset berbasis CoE di 38 provinsi di Indonesia:
Wilayah Sumatera: Agroteknologi, restorasi ekosistem, dan logistik maritim
- Aceh: Fokus pada CoE Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Biofuel. Kebutuhan spesifik meliputi Lab Karakterisasi Biomassa dan Unit Pilot Plant Biodiesel dari Kelapa Sawit. Alat utama: Bomb Calorimeter, Gas Chromatography (GC), dan spektroskopi Near-Infrared (NIR) untuk analisis kualitas bahan bakar nabati.
- Sumatera Utara: Fokus pada CoE Hilirisasi Karet dan Kelapa Sawit. Membutuhkan Lab Pengujian Polimer dan Fasilitas Ekstraksi Senyawa Aktif. Alat utama: High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) untuk analisis nutrisi dan kontaminan.
- Sumatera Barat: Fokus pada CoE Mitigasi Bencana Geologi dan Farmasi Alam. Memerlukan Lab Sensor Kegempaan dan Unit Fitofarmaka. Alat utama: Spektrometer massa untuk identifikasi senyawa obat dari tanaman hutan.
- Riau: Fokus pada CoE Restorasi Gambut dan Perdagangan Karbon. Kebutuhan spesifik mencakup stasiun pemantauan fluks gas rumah kaca dan lab analisis tanah gambut. Alat utama: Bor gambut (Edelman/Belgi), Soil Ring Sampler, dan pH meter khusus tanah asam.
- Kepulauan Riau: Fokus pada CoE Logistik Maritim dan Perakitan Elektronik. Membutuhkan Lab Pengujian Kompatibilitas Elektromagnetik (EMC) dan fasilitas pengujian material lambung kapal.
- Jambi: Fokus pada CoE Agroforestri dan Konservasi Karbon. Serupa dengan Riau, membutuhkan peralatan monitoring emisi karbon dan lab pemuliaan tanaman hutan tropis.
- Bengkulu: Fokus pada CoE Biodiversitas Hutan Hujan dan Mitigasi Bencana. Membutuhkan fasilitas penginderaan jauh berbasis satelit untuk pemantauan deforestasi dan risiko longsor.
- Sumatera Selatan: Fokus pada CoE Ketahanan Pangan (Padi/Jagung) dan Pengolahan Batubara. Kebutuhan mencakup Lab Pemuliaan Tanaman dan Lab Gasifikasi Batubara skala pilot.
- Kepulauan Bangka Belitung: Fokus pada CoE Hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ). Membutuhkan Lab Pemisahan Mineral dan Karakterisasi Logam. Alat utama: X-Ray Fluorescence (XRF) dan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS).
- Lampung: Fokus pada CoE Teknologi Pangan Terintegrasi. Membutuhkan Lab Keamanan Pangan dan unit pengolahan limbah pertanian menjadi pakan ternak. Alat utama: Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) untuk deteksi logam berat pada pangan.
Wilayah Jawa dan Banten: Industri strategis, digital, dan kesehatan modern
- DKI Jakarta: Fokus pada CoE Ekonomi Digital, Kebijakan Publik, dan Big Data. Kebutuhan utama adalah High-Performance Computing (HPC) dan pusat data aman untuk riset kebijakan berbasis AI.
- Jawa Barat: Fokus pada CoE Kedirgantaraan, Telekomunikasi, dan Mekatronika. Berlokasi di KST Samaun Samadikun dan KST Habibie. Membutuhkan Clean Room, Anechoic Chamber, dan fasilitas uji terbang UAV. Alat utama: 3D Metal Printer, radar SAR, dan simulasi biomekanika.
- Banten: Fokus pada CoE Petrokimia dan Metalurgi. Memerlukan Lab Karakterisasi Polimer dan fasilitas pengujian korosi material industri berat.
- Jawa Tengah: Fokus pada CoE Bioteknologi Pertanian dan Inovasi Tekstil. Membutuhkan Lab Genomik Tanaman dan fasilitas pengujian nanoteknologi untuk tekstil fungsional.
- D.I. Yogyakarta: Fokus pada CoE Teknologi Pendidikan dan Arkeometri. Memerlukan Lab Pelestarian Cagar Budaya dan pusat pengembangan media pembelajaran berbasis VR/AR.
- Jawa Timur: Fokus pada CoE Industri Pertahanan Kedirgantgaraan (Drone) dan Bioteknologi Kelautan. Kebutuhan mencakup Lab Pengujian Material Balistik dan fasilitas BSL-3 untuk riset kesehatan. Alat utama: SEM-EDX dan XRD untuk analisis struktur kristal material maju.
Wilayah Bali dan Nusa Tenggara: Pariwisata Berkelanjutan dan Energi Bersih
- Bali: Fokus pada CoE Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Sirkular. Membutuhkan Lab Pengolahan Limbah Pariwisata dan riset bioplastik dari rumput laut.
- Nusa Tenggara Barat (NTB): Fokus pada CoE Sport Tourism dan Teknologi Panel Surya. Memerlukan Lab Sport Science dan fasilitas pengujian efisiensi sel surya di kondisi panas ekstrem.
- Nusa Tenggara Timur (NTT): Fokus pada CoE Peternakan Lahan Kering dan Konservasi Biodiversitas Laut. Kebutuhan mencakup Lab Genetika Ternak dan stasiun riset kelautan terintegrasi.
Wilayah Kalimantan: IKN, energi terbarukan, dan restorasi lahan
- Kalimantan Barat: Fokus pada CoE Mineral Strategis (Bauksit) dan Energi Hidro. Membutuhkan Lab Pemurnian Alumina dan fasilitas pemodelan hidrologi untuk PLTA skala besar.
- Kalimantan Tengah: Fokus pada CoE Restorasi Gambut dan Rehabilitasi Hutan tropis. Peralatan mencakup stasiun observasi meteorologi dan lab mikrobiologi tanah gambut.
- Kalimantan Selatan: Fokus pada CoE Teknologi Pertambangan Ramah Lingkungan dan Lahan Basah. Memerlukan fasilitas pengolahan tailing dan riset pemanfaatan limbah tambang.
- Kalimantan Timur: Fokus pada CoE Smart City (IKN) dan Tata Kota Berkelanjutan. Kebutuhan utama mencakup Lab Monitoring Lingkungan berbasis IoT, sensor kualitas udara real-time, dan sistem manajemen energi pintar. Alat utama: LabWatch IoT dan sensor MQ2.
- Kalimantan Utara: Fokus pada CoE Energi Baru Terbarukan dan Ekonomi Hijau perbatasan. Membutuhkan lab pengujian efisiensi energi dan stasiun pemantauan ekosistem lintas batas.
Wilayah Sulawesi dan Gorontalo: Pusat hilirisasi nikel dan logistik nasional
- Sulawesi Utara: Fokus pada CoE Kelautan Pasifik dan Pariwisata Bahari. Memerlukan Lab Oseanografi Fisika dan Kimia serta fasilitas eksplorasi laut dalam.
- Sulawesi Tengah: Fokus pada CoE Hilirisasi Nikel dan Material Baterai (Morowali). Membutuhkan Lab Karakterisasi Material dan Unit Pilot Plant HPAL. Alat utama: XRD, SEM, dan Battery Cycler.
- Sulawesi Selatan: Fokus pada CoE Logistik Maritim dan Distribusi Nasional. Membutuhkan pusat simulasi rantai pasok dan lab pengujian kelayakan peti kemas.
- Sulawesi Tenggara: Fokus pada CoE Teknologi Pengolahan Mineral dan Baterai (Konawe/Kolaka). Serupa dengan Sulteng, memerlukan fasilitas uji kualitas prekursor katoda dan analisis logam tanah jarang.
- Gorontalo: Fokus pada CoE Pertanian Lahan Kering (Jagung) dan Geotermal. Memerlukan Lab Pemuliaan Benih dan fasilitas karakterisasi fluida panas bumi.
- Sulawesi Barat: Fokus pada CoE Perkebunan Kakao dan Sawit Terintegrasi. Membutuhkan Lab Pengolahan Pascapanen dan fasilitas uji mutu ekspor produk turunan kakao.
Wilayah Maluku dan Papua: Benteng biodiversitas, etnobotani, dan ekonomi biru
- Maluku: Fokus pada CoE Riset Perikanan Pelagis dan Kelautan Dalam. Membutuhkan stasiun lapangan oseanografi dan fasilitas riset pemuliaan biota laut.
- Maluku Utara: Fokus pada CoE Rempah Global dan Hilirisasi Nikel (Pulau Obi). Memerlukan Lab Ekstraksi Senyawa Aktif Rempah dan fasilitas uji kualitas feronikel.
- Papua: Fokus pada CoE Etnobotani dan Farmasi Hutan Tropis. Membutuhkan Lab Fitokimia dan fasilitas pemetaan genetik spesies endemik. Alat utama: DNA Sequencer dan Freeze Dryer.
- Papua Barat: Fokus pada CoE Konservasi Terumbu Karang Dunia (Raja Ampat). Memerlukan Lab Monitoring Kesehatan Karang dan fasilitas riset gas alam.
- Papua Selatan: Fokus pada CoE Integrasi Pangan Skala Besar (Sagu). Memerlukan fasilitas pengolahan sagu modern dan lab pengujian nutrisi pangan alternatif.
- Papua Tengah: Fokus pada CoE Hilirisasi Logam Berharga dan Tambang. Membutuhkan Lab Karakterisasi Mineral Logam dan fasilitas pengolahan tembaga.
- Papua Pegunungan: Fokus pada CoE Ekosistem Pegunungan Tinggi dan Tanaman Obat. Memerlukan stasiun riset dataran tinggi dan fasilitas penyimpanan plasma nutfah lokal.
- Papua Barat Daya: Fokus pada CoE Logistik Maritim Timur dan Industri Minyak Bumi. Memerlukan pusat riset teknologi pengeboran ramah lingkungan dan manajemen pelabuhan pintar.
Spesifikasi teknis dan fungsi peralatan laboratorium berbasis klaster
Pemetaan alat laboratorium didasarkan pada kompleksitas analisis yang dibutuhkan untuk mencapai kemandirian teknologi di setiap klaster. Penempatan alat mahal mengikuti prinsip efisiensi agar tingkat utilitas (penggunaan) tetap tinggi.
Alat analisis material dan mineral (klaster Sulawesi, Maluku Utara, Banten)
- ICP-MS (Mass Spectrometry): Digunakan untuk mendeteksi elemen logam berat dan tanah jarang hingga tingkat bagian per triliun (ppt). Sangat krusial untuk memastikan kemurnian nikel sulfat kelas baterai.
- XRF (X-Ray Fluorescence): Alat non-destruktif untuk analisis komposisi kimia material padat, cair, dan bubuk secara cepat. Penting untuk kontrol kualitas di lokasi tambang dan pabrik.
- XRD (X-Ray Diffraction): Menentukan struktur kristal dan identifikasi fase mineral. Dalam riset baterai, XRD digunakan untuk memantau perubahan struktur katoda selama siklus pengisian.
- SEM-EDX (Scanning Electron Microscope): Memberikan citra morfologi permukaan pada skala nano dan analisis komposisi elemen pada titik spesifik. Digunakan untuk riset kegagalan material dan pengembangan nanoteknologi.
- Battery Cycler & Tester: Perangkat otomatis untuk menguji performa sel baterai (kapasitas, tegangan, resistansi internal) melalui ribuan siklus pengisian-pengosongan.
Alat bioteknologi, karbon, dan lingkungan (klaster Sumatera, Kalimantan, Papua)
- HPLC (High-Performance Liquid Chromatography): Memisahkan, mengidentifikasi, dan mengukur komponen dalam campuran kimia. Digunakan dalam ekstraksi obat dari tanaman hutan atau analisis vitamin pada pangan.
- GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry): Standar emas untuk identifikasi senyawa volatil, residu pestisida, dan profil asam lemak pada minyak sawit atau kelapa.
- DNA Sequencer (Next-Gen Sequencing): Memungkinkan pembacaan seluruh kode genetik spesies secara cepat. Digunakan dalam konservasi biodiversitas dan pemuliaan tanaman unggul.
- Bor Gambut (Peat Sampler): Alat khusus untuk mengambil sampel tanah pada kedalaman tertentu tanpa merusak struktur stratigrafi, penting untuk estimasi stok karbon bawah tanah.
- Bomb Calorimeter: Mengukur energi panas yang dilepaskan saat pembakaran sampel. Penting untuk riset bioenergi dan penentuan nilai kalori bahan pangan.
Alat Teknologi Digital, Kedirgantaraan, dan Smart City (Klaster Jawa Barat, IKN)
- High-Performance Computing (HPC): Superkomputer untuk pemrosesan data masif, seperti simulasi aerodinamika pesawat, pemodelan iklim nasional, dan pengembangan AI.
- 3D Metal Printer: Teknologi manufaktur aditif yang mencetak suku cadang dari bubuk logam. Digunakan untuk prototipe komponen satelit atau mesin dengan desain kompleks.
- Synthetic Aperture Radar (SAR): Sensor satelit/drone yang mampu menembus awan dan kegelapan untuk memantau perubahan permukaan bumi, deformasi tanah, dan fase pertumbuhan padi.
- IoT Smart Sensing Network: Rangkaian sensor MQ2 (gas), suhu, kelembaban, dan polutan (PM2.5) yang terhubung ke cloud untuk monitoring real-time ekosistem kota pintar.
Mekanisme operasional: Dari laboratorium menuju hilirisasi industri
Infrastruktur riset fisik tidak akan memberikan dampak ekonomi langsung tanpa adanya jembatan menuju pasar. Peran CoE dilengkapi dengan dua elemen pendukung utama: Techno Park dan revitalisasi Tahura.
Revitalisasi Taman Hutan Raya (Tahura) sebagai Living Lab
Tahura di setiap provinsi direvitalisasi tidak hanya sebagai kawasan konservasi, tetapi sebagai laboratorium alam (in-situ lab) untuk riset biodiversitas dan perubahan iklim. Pengelolaan Tahura dilakukan melalui skema Co-Management antara Dinas Lingkungan Hidup Provinsi dengan Organisasi Riset Hayati BRIN dan OR Tata Kelola Pemerintahan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat. Hal ini memungkinkan riset bioprospeksi (pencarian potensi obat baru) dilakukan secara langsung di habitat aslinya tanpa mengganggu kelestarian hutan. Implementasi Nilai Ekonomi Karbon di kawasan Tahura juga dapat menjadi sumber pendanaan mandiri bagi riset lingkungan di daerah berbasis ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Peran Techno Park dalam komersialisasi hasil riset
Techno Park berfungsi sebagai pusat inovasi yang mempertemukan peneliti dengan pelaku startup dan investor. Fasilitas utama di Techno Park meliputi:
- Pilot plant: Fasilitas produksi skala kecil yang memungkinkan peneliti melakukan uji coba proses industri sebelum masuk ke manufaktur massal.
- Inkubator bisnis: Pendampingan bagi perusahaan rintisan berbasis teknologi untuk menyusun rencana bisnis dan akses pasar.
- Laboratorium pengujian standar: Memberikan sertifikasi produk (seperti SNI) agar hasil riset dapat diterima oleh pasar domestik maupun internasional.
Strategi pembiayaan infrastruktur riset yang kreatif dan inovatif
Membangun infrastruktur riset di 38 provinsi membutuhkan biaya investasi yang sangat besar. Pemerintah mengadopsi skema pembiayaan campuran (blended finance) untuk mengatasi keterbatasan APBN.
Skema pembiayaan utama infrastruktur riset
|
Skema pembiayaan |
Objek pembiayaan |
Mekanisme dan keunggulan |
|
SBSN (Sukuk Negara) |
Gedung CoE dan fasilitas riset utama. |
Pembiayaan jangka panjang yang akuntabel dan berbasis aset fisik nyata. |
|
DAK fisik riset |
Pengadaan alat lab standar di Provinsi. |
Mempercepat pemerataan sarana riset dasar di seluruh daerah Indonesia. |
|
KPBU (public private partnership) |
Operasional Techno Park dan fasilitas industri. |
Pembagian risiko investasi dengan sektor swasta dan efisiensi manajerial. |
|
Dana Abadi Riset & Danantara |
Proyek strategis multi- tahun dan mobilitas peneliti. |
Menjamin keberlanjutan riset tanpa tergantung pada siklus anggaran tahunan. |
Pemanfaatan skema SBSN telah terbukti sukses mendanai proyek besar seperti Gedung BASIC (Basic Science Center) dan fasilitas riset nuklir, yang mendapatkan penghargaan atas akuntabilitas pengelolaannya. Untuk pembangunan infrastruktur di IKN dan kawasan industri strategis, skema KPBU menjadi solusi untuk menarik investasi swasta dalam penyediaan fasilitas canggih seperti laboratorium energi terbarukan dan sistem transportasi pintar.
Roadmap implementasi infrastruktur riset nasional 2026–2030
Peta jalan pembangunan infrastruktur riset disusun secara bertahap untuk memastikan transisi yang mulus menuju ekonomi berbasis pengetahuan pada tahun 2030.
Tahapan pembangunan tahunan
- Tahun 2026 (audit & konsolidasi): Melakukan audit menyeluruh terhadap alat laboratorium yang ada di universitas dan instansi daerah untuk memetakan embrio CoE. Percepatan pembentukan BRIDA di seluruh provinsi sebagai wadah kelembagaan riset daerah.
- Tahun 2027 (integrasi & pilot project): Penempatan peneliti senior di laboratorium daerah terpilih. Digitalisasi seluruh layanan alat riset CoE melalui platform ELSA sehingga industri lokal dapat mulai mengakses fasilitas riset nasional.
- Tahun 2028 (ekspansi & standardisasi): Pembangunan fisik laboratorium standar ISO/IEC 17025 secara masif di provinsi-provinsi prioritas. Revitalisasi Tahura dimulai di 10 provinsi sebagai model living lab.
- Tahun 2029 (hilirisasi & kemandirian): CoE dan Techno Park diarahkan bertransformasi menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Pendapatan dari jasa pengujian dan royalti teknologi digunakan untuk biaya operasional mandiri.
- Tahun 2030 (skalabilitas global): Seluruh CoE di 38 provinsi telah terakreditasi internasional. Indonesia diharapkan menjadi pusat riset tropis dunia dengan ekosistem yang tidak lagi terfragmentasi.
Analisis strategis dan rekomendasi masa sepan
Transformasi infrastruktur riset di Indonesia menunjukkan integrasi antara fasilitas fisik, tata kelola terdesentralisasi, dan pengembangan SDM adalah kunci keberhasilan inovasi nasional. Riset tidak boleh lagi dipandang sebagai pengeluaran negara, melainkan sebagai investasi strategis yang menghasilkan daya ungkit ekonomi wilayah.
Beberapa rekomendasi strategis utama mencakup:
- Penguatan peran BRIDA: Sebagai simpul koordinasi riset di daerah, BRIDA harus didorong untuk menyusun Rencana Induk Riset Daerah (RIRDA) yang selaras dengan CoE provinsi.
- Sertifikasi kompetensi SDM: Investasi pada alat mahal harus dibarengi dengan pelatihan teknisi laboratorium bersertifikat BNSP untuk menjamin keberlanjutan alat dan akurasi data.
- Optimalisasi open access: Platform ELSA perlu terus dikembangkan dengan fitur IoT untuk pemantauan ketersediaan alat secara real-time, memudahkan kolaborasi lintas institusi.
- Skema pendanaan kreatif: Mendorong partisipasi swasta melalui insentif pajak super tax deduction bagi perusahaan yang membangun laboratorium riset di kawasan CoE atau Techno Park.
Melalui sistematika yang holistik ini, infrastruktur riset nasional akan mampu mendukung visi Indonesia Emas 2045 dengan menciptakan ekonomi berbasis pengetahuan yang berkeadilan, inklusif, dan berdaya saing global. Keberadaan CoE, Techno Park, dan Tahura di setiap provinsi akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hilirisasi sumber daya alam yang berkelanjutan dan berbasis sains.


