Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) melaporkan proses pemulihan pascabencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus menunjukkan perkembangan positif. Jumlah pengungsi tercatat terus menurun, sementara aktivitas ekonomi masyarakat mulai kembali berjalan.
Hingga 3 Februari 2026, fokus penanganan diarahkan pada pengurangan jumlah pengungsi, pemulihan layanan dasar, pengaktifan kembali kegiatan ekonomi, serta pembangunan hunian sementara (Huntara).
Berdasarkan rekapitulasi data Satgas PRR, jumlah pengungsi saat ini tercatat 102.480 jiwa, menurun signifikan dibandingkan kondisi awal pascabencana pada Desember 2025. Penurunan tersebut menunjukkan mayoritas warga terdampak telah kembali ke rumah, menempati Huntara, atau tinggal di lokasi yang dinilai aman dan layak huni.
Pemulihan juga terlihat pada sektor ekonomi kerakyatan. Sebanyak 553 pasar rakyat di tiga provinsi terdampak telah kembali beroperasi, terdiri atas 465 pasar di Aceh, 57 pasar di Sumatera Utara, dan 31 pasar di Sumatera Barat. Beroperasinya kembali pasar rakyat tersebut didukung oleh pemulihan akses jalan serta kelancaran distribusi logistik.
Di sektor perumahan, Satgas PRR mencatat penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH) secara agregat telah mencapai 91,26 persen. Rinciannya, Sumatera Barat mencapai 98,79 persen, Aceh 91,92 persen, dan Sumatera Utara 87,61 persen. Penyaluran langsung ke rekening penerima diharapkan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan secara mandiri sembari menunggu pembangunan hunian tetap.
Pemulihan konektivitas darat juga terus diperkuat melalui sinergi lintas sektor. Satgas PRR memastikan seluruh jalan dan jembatan nasional dalam kondisi fungsional, sehingga mobilitas antarwilayah utama dapat kembali normal. Selain itu, TNI Angkatan Darat melalui Kodam Iskandar Muda dan Kodam I/Bukit Barisan telah menyelesaikan pembangunan serta perbaikan sejumlah jembatan darurat, khususnya di Aceh. Sementara itu, Polri melaporkan perbaikan akses darat di Sumatera Barat telah rampung, dengan progres lanjutan masih berlangsung di Aceh dan Sumatera Utara.
Pada aspek layanan dasar, Satgas PRR memastikan ketersediaan fasilitas sanitasi dan sosial tetap terjaga. Hingga kini, telah dibangun 666 sumur bor dan 254 unit MCK di wilayah terdampak untuk mendukung kebutuhan air bersih dan sanitasi masyarakat.
Juru Bicara Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Amran, menegaskan bahwa upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik.
“Fokus kami bukan sekadar membangun kembali infrastruktur yang rusak, tetapi memastikan masyarakat bisa kembali menjalani kehidupan secara normal. Dengan terus menurunnya jumlah pengungsi dan mulai pulihnya aktivitas ekonomi, proses rehabilitasi dan rekonstruksi kini memasuki fase yang lebih stabil,” ujar Amran di Kompleks Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (4/2).
Satgas PRR mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga fasilitas umum yang telah diperbaiki serta mendukung kelanjutan proses rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk pembangunan hunian tetap yang dilakukan secara bertahap.