sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ada buzzer dalam perang opini revisi UU KPK

Buzzer pro-RUU KPK sangat intensif mengunggah konten sepekan menjelang pengesahan RUU tersebut.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Rabu, 18 Sep 2019 17:09 WIB
Ada buzzer dalam perang opini revisi UU KPK

Analis media sosial dan digital dari Universitas Islam Indonesia (UII) Ismail Fahmi mengungkap keberadaan buzzer dalam perang opini terkait revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

"Memang ada gerakan dari buzzer yang memang diarahkan untuk membangun opini publik bahwa KPK dianggapnya berisi orang-orang enggak benar, misalnya seperti adanya (isu) Taliban," kata Fahmi dalam diskusi bertajuk "Membaca Strategi Pelemahan KPK: Siapa Yang Bermain?" di ITS Tower, Jakarta Selatan, Rabu (18/9).

Fahmi memantau pergerakan buzzer di Twitter. Menurut dia, buzzer pro-RUU KPK sangat intensif mengunggah konten sepekan menjelang pengesahan RUU tersebut. Tagar-tagar yang dipopulerkan semisal, #KPKPATUHIATURAN, #KPKKuatKorupsiTurun, dan #SaveKPK.

"Saya memantau tagar-tagar tersebut pada 11 September naik, 12 September naik, sampai 17 September. Ini adalah tagar-tagar yang digunakan untuk mengupayakan ciptaan opini publik," tuturnya. 

Menurut Fahmi, tagar-tagar itu diluncurkan untuk membuat publik ragu terhadap seluruh pekerja di KPK, termasuk para pimpinan. Selain itu, para buzzer menyisipkan pesan agar warganet mendukung RUU KPK dan capim KPK yang terpilih.

"Capim yang baru ini kemudian dinarasikan memang bagus untuk menghabisi yang Taliban itu. Jadi, Taliban enggak ada, dibuat seolah-olah ada. Nah, terus capim ini dihadirkan untuk membenahi itu dan itu akan di-support oleh publik. Kenyataannya memang publik ada yang kemudian terbawa oleh wacana itu," ungkap Fahmi.

Rumor keberadaan pegawai KPK radikal dan simpatisan Taliban memang sempat kencang berembus pekan lalu. Namun, isu itu dibantah Ketua KPK Agus Rahardjo. Agus bahkan menantang penyebar isu untuk riset langsung ke KPK.

Sebelumnya, eks Ketua KPK Busyro Muqoddas juga turut menepis isu Taliban. Ia bahkan menuding isu itu diembuskan dari Istana Negara. 

Sponsored

Lebih jauh, Fahmi mengatakan, pola pembentukan opini oleh para buzzer tersebut sangat terorganisir. Namun demikian, dia mengaku tidak tahu siapa aktor yang menggerakan para buzzer tersebut.

"Tetapi, saya kira ada hubungannya dengan mereka yang punya kepentingan dengan (revisi) Undang-Undang KPK dan KPK sendiri. Siapa mereka? Saya enggak bisa jawab itu," ujar dia.