sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dampak Covid-19 jauh lebih mengerikan dari krisis 2008

Covid-19 pukul industri penebangan di seluruh dunia

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Rabu, 29 Apr 2020 07:28 WIB
Dampak Covid-19 jauh lebih mengerikan dari krisis 2008
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Anggota Komisi VI DPR, Deddy Yevri Sitorus memprediksi dampak krisis Covid-19 yang dirasakan industri penerbangan bakal sangat dahsyat. Pasalnya, hingga sekarang belum ada yang bisa menjamin kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

Menurut Deddy, krisis yang akan dirasakan industri ini, bahkan jauh lebih buruk dibandingkan krisis global 2008.

“Bagi airlines, impact corona virus ini jauh lebih dahsyat dibanding kejadian 9/11 dan krisis global 2008 jika digabungkan, praktis tidak ada airlines yang beroperasi saat ini di dunia,” kata Deddy lewat keterangan tertulisnya, Selasa (28/4).

Berdasarkan data yang diperoleh politikus PDIP ini, dampak Covid-19 terhadap maskapai penerbangan berupa hilangnya pendapatan sebesar 252 miliar dolar AS hingga menjelang pertengahan 2020. Terlebih, seluruh maskapai di dunia telah melakukan program restrukturisasi yang melibatkan pemerintah maupun tidak.

Deddy lantas membeberkan sejumlah bantuan kepada perusahaan penerbangan. Misalnya Singapore Airlines yang beberapa minggu lalu mendapat dana segar 19 miliar dolar Singapura dan 5,3 miliar dolar Singapura penerbitan saham baru, ditambah 9,7 miliar dolar Singapura, dan pinjaman dari DBS sebesar 4 miliar dolar Singapura. Bantuan serupa juga diterima Qantas yang mendapat 1,1 miliar dolar Australia dari pemerintah negeri kanguru tersebut.

“Bagaimana dengan Garuda Indonesia? Apakah Garuda Airlines bisa survive dalam krisis ini? Garuda Airlines ini ibarat orang yang jatuh tertimpa tangga, ketiban cat, dan tertimbun tembok,” terang dia.

Dikatakan Deddy, hingga saat ini belum terdengar program penyelamatan Garuda Indonesia dari krisis Covid-19 dan pemulihan saat pandemi ini berlalu.

Padahal Garuda menghentikan operasinya karena penerapan PSBB dan Garuda harus membayar utang jatuh tempo Juni 2020.

Sponsored

Oleh karena itu, kata dia, penting rasanya bagi pemerintah memperhatikan hal ini. Menurut Deddy, penyelamatan Garuda Indonesia bukan hanya dengan menunda kewajiban membayar utang yang jatuh tempo pada 2020, di antaranya adalah SUKUK sebesar 500 juta dolar AS yang jatuh tempo pada Juni 2020.

Penyelamatan Garuda Indonesia, lanjut Deddy, juga harus melalui restrukturisasi menyeluruh dan mendalam. Restrukturisasi itu meliputi restrukturisasi operasi, restrukturisasi aspek kecukupan modal, restrukturisasi model bisnis, dan pengaturan arus kas perusahaan.

“Garuda juga harus menyiapkan recovery program pasca Covid-19, mulai dari skenario recovery demand, skenario market structure, sampai saatnya kondisi normal. Karena impact dari krisis corona ini bisa 3-5 tahun, Garuda dan pemerintah harus bahu membahu menyelamatkan industri penerbangan nasional,” tandas Deddy.

Bukan hanya Garuda saja, Deddy juga menambahkan, perhatian juga mesti dilakukan terhadap industri penerbangan secara menyeluruh.

Deddy menegaskan, banyak pekerja di industri penerbangan yang harus diselamatkan, mulai dari ground handling, jasa pengiriman, bandar udara dan lainnya.

Berita Lainnya