sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Puja-puji koalisi ke Jokowi, anggota DPD RI singgung kejatuhan Soeharto

Ketika pujian elite parpol terjadi dalam sebuah pertemuan di Istana, maka tafsirannya berbeda.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Kamis, 02 Sep 2021 20:00 WIB
Puja-puji koalisi ke Jokowi, anggota DPD RI singgung kejatuhan Soeharto

Anggota Komite I DPD RI, Abdul Rachman Thaha menyoroti pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan tujuh pimpinan partai politik yang tergabung dalam koalisi pemerintah di Istana Negara, beberapa waktu lalu. Menurutnya, pertemuan yang diwarnai pujian kepada Jokowi terkait penanganan pandemi Covid-19 itu seolah menguatkan simpulan banyak pihak bahwa oligarki politik semakin menjadi-jadi di negeri ini.

"Saya memandang pertemuan dan pesta puja-puji di Istana itu sebagai wujud tidak proporsionalnya para elite koalisi dalam memosisikan diri. Mereka abai terhadap siapa diri mereka dan peran apa yang seharusnya mereka mainkan di kantor tempat kepala negara sekaligus kepala pemerintahan bekerja," kata Abdul kepada Alinea.id, Kamis (2/9).

Abdul mengatakan, sah-sah saja para elite partai koalisi ini menilai Jokowi berhasil dalam penanganan situasi pandemi. Namun, ketika puja-puji itu dilakukan dalam sebuah pertemuan di Istana, maka tafsirannya akan berbeda.

"Di Istana, Jokowi adalah Presiden. Presiden bagi semua pihak dan semua parpol. Termasuk kalangan dan parpol yang mengambil sikap oposisi terhadap pemerintah. Dengan statusnya sebagai presiden bagi semua tersebut, maka seharusnya bukan hanya parpol pendukung saja yang semestinya diundang ke Istana. Parpol oposisi pun seharusnya diundang," ujar dia.

Menurut Abdul, sebagai presiden, Jokowi sepantasnya tidak hanya menyediakan waktu secara khusus bagi puja-puji. Waktu khusus bagi kritik oposisi pun sewajarnya diadakan pula di Istana. Dan Jokowi selaku presiden juga bagi kalangan oposisi pun harus mau menyimaknya.

"Lain hal sekiranya pertemuan perayaan itu diselenggarakan di kedai kopi, di penginapan, atau di lapangan terbuka. Bolehlah yang diundang hanya parpol pendukung saja," tegas Abdul.

Lebih lanjut Abdul mengatakan, tidak elok juga Jokowi dan elite parpol koalisi memperlihatkan kesolidan di Istana. Mengingat hanya ada dua parpol yang berseberangan dengan penguasa, yakni Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Ataukah pertemuan penuh puja-puji di Istana merupakan tanggapan balik atas kian maraknya mural di ruang publik? Atau jangan-jangan itu cara mengompensasikan peran buzzer yang sudah terbaca permainannya dan tak lagi efektif mempengaruhi masyarakat?," ungkap Abdul.

Sponsored

Abdul mengatakan, pertemuan Jokowi dengan elite parpol koalisi mengingatkan ia pada masa menjelang tumbangnya Orde Baru. Sekian kelompok menemui Presiden Soeharto dan mengklaim membawa pesan rakyat bahwa rakyat menginginkan Soeharto menjabat sebagai presiden lagi.

Menurutnya, pesan itu seperti angin sejuk bagi Soeharto. "Status quo berkelanjutan, seiring dilantiknya Pak Harto sebagai Presiden untuk periode berikutnya. Tapi angin langsung berbalik arah. Ombak tsunami menggulung, kapal penguasa pun binasa," katanya.

Hemat Abdul melanjutkan, mereka yang ingin memanjang-memanjangkan masa kekuasaan, termasuk lewat pengunduran jadwal pemilu dan perpanjangan periode jabatan presiden, pada akhirnya akan ditaklukkan oleh mereka yang ingin Indonesia dipimpin oleh sosok yang lebih kompeten dan berwatak negarawan.

"Parpol oposisi tinggal dua. Tapi jangan sepelekan apalagi lupakan Fraksi DPD di MPR RI. Fraksi DPD berada pada posisi progresif dengan fatsoen politik yang berporos pada etos kenegaraan-kebangsaan, bukan kekuasaan. Saya mengamini perkataan bijak. Bahwa, sebaik-baiknya teman adalah dia yang membawakan cermin bagimu, dan seindah-indahnya bingkisan adalah kritik yang dibingkiskan untukmu," pungkasnya.

Berita Lainnya