sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

IMF setujui keringanan utang untuk 25 negara terimbas Covid-19

Negara-negara yang akan menerima keringanan utang di antaranya Afghanistan, Benin, Burkina Faso, Republik Afrika Tengah.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Selasa, 14 Apr 2020 12:20 WIB
IMF setujui keringanan utang untuk 25 negara terimbas Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Dewan eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) telah menyetujui keringanan utang segera untuk 25 negara anggota sebagai bagian dari tanggapannya untuk membantu mengatasi dampak pandemi Covid-19.

Direktur  Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan ini merupakan hibah kepada anggota IMF yang paling miskin dan paling rentan. Pada fase awal, IMF akan membebaskan pembayaran utang selama enam bulan.

“Selain itu IMF juga akan meminta lembaga keuangan membantu menyalurkan lebih banyak sumber daya keuangan dan bantuan lainnya ke daerah darurat medis,” kata Georgieva dalam sebuah pernyataan, Senin (13/4).

Georgieva menyebutkan negara-negara yang akan menerima keringanan utang di antaranya Afghanistan, Benin, Burkina Faso, Republik Afrika Tengah, dan lainnya.

Lebih lanjut, Georgieva menuturkan, IMF akan mengubah Containment Containment and Relief Trust (CCRT) yang memungkinkan lembaga keuangan itu memberikan hibah keringanan utang yang menguntungkan negara-negara berpenghasilan rendah. 

Ini untuk memenuhi syarat setelah bencana alam besar serta keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menyebar luas dan cepat.

CCRT saat ini dapat menyediakan sekitar US$500 juta dalam bantuan keringanan utang berbasis hibah.

"Saya mendesak donor lain untuk membantu kami mengisi kembali sumber daya Trust dan meningkatkan kemampuan kami untuk memberikan keringanan utang tambahan selama dua tahun penuh ke negara-negara anggota termiskin kami," katanya.

Sponsored

Dalam pidato yang disampaikan minggu lalu, ketua IMF mengatakan sudah jelas bahwa pertumbuhan global akan berubah sangat negatif pada 2020. 

"Faktanya, kami mengantisipasi kejatuhan ekonomi terburuk sejak depresi hebat," katanya.

Georgieva mengatakan, hanya tiga bulan lalu, IMF memperkirakan pendapatan per kapita di lebih dari 160 negara anggotanya akan tumbuh positif pada 2020. Namun, sekarang IMF memproyeksikan bahwa lebih dari 170 negara akan mengalami pertumbuhan pendapatan per kapita negatif tahun ini.

Selain itu, krisis diperkirakan akan menghantam negara-negara yang rentan paling keras.

"Prospek suram berlaku untuk ekonomi maju dan berkembang. Krisis ini tidak mengenal batas. Semua orang sakit," katanya. (Ant)

Berita Lainnya