sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Impor migas masih jadi biang kerok defisit neraca dagang

Pada November 2019 impor migas meningkat drastis 21,60% menjadi US$ 2,134 juta dibandingkan Oktober

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Senin, 16 Des 2019 14:31 WIB
Impor migas masih jadi biang kerok defisit neraca dagang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 22750
Dirawat 15717
Meninggal 1391
Sembuh 5642

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan impor minyak dan gas (migas) masih menjadi penyumbang impor terbesar Indonesia pada November 2019. BPS mencatat pada November 2019 impor migas meningkat drastis 21,60% menjadi US$ 2,134 juta dibandingkan Oktober 2019 sebesar US$1,755 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kenaikan impor migas dipicu oleh naiknya seluruh komponen migas.

"Penyebab utama defisit neraca perdagangan masih terjadi karena impor migas, meskipun secara tahunan impor migas menurun dan impor non migas masih mengalami surplus," katanya di Kantor BPS, Jakarta, Senin (16/12).


Adapun komponen yang naik yakni impor minyak mentah sebesar 84,15%, menjadi US$661,3 juta dibandingkan Oktober 2019 yang hanya US$359,1 juta.

Kemudian, hasil minyak yang meningkat sebesar 5,82% menjadi US$1,250 juta di November 2019, dibandingkan Oktober 2019 yang hanya sebesar US$1,181 juta. Lalu, gas sebesar 3,81% menjadi US$223 juta dibandingkan bulan lalu yang hanya US$215 juta.

Sementara, dari sektor nonmigas, impor pada November 2019 mencapai US$13,21 miliar, atau naik 1,55% dibanding Oktober 2019 yang hanya US$13,003 miliar namun jika dibandingkan November 2018 turun 5,91%.

Berdasarkan data BPS, impor nonmigas terbesar November 2019 terjadi pada golongan mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 8,13% menjadi US$1,951 juta dibandingkan Oktober yang hanya US$ 1,804 juta.

Lalu, untuk golongan mesin dan peralatan mekanis sebesar 2,26% menjadi US$2,303 juta dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya US$ 2,252 juta.

Sponsored

Kemudian, golongan kendaraan dan bagiannya 8,03% menjadi US$ 692,7 juta, meningkat dibandingkan Oktober yang hanya sebesar US$641,2 juta.

Sedangkan, penurunan terbesar terjadi untuk golongan serealia sebesar 22,83% menjadi US$ 235,9 juta dibandingkan bulan Oktober yang mencapai US$ 305,7 juta.

Sementara, negara pengimpor terbesar selama Januari hingga November 2019 adalah Tiongkok dengan nilai US$40,51 miliar atau 29,68%, Jepang US$14,50 miliar atau 10,63%,  dan Thailand US$8,68 miliar 6,36%.

Secara kumulatif, nilai impor Indonesia pada November 2019 mencapai US$15,34 miliar atau naik 3,94% dibanding Oktober 2019 yang hanya tumbuh US$14,76 miliar. Akan tetapi jika dibandingkan November 2018 turun 9,24%.

Berita Lainnya