sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ini alasan pemerintah patok pertumbuhan ekonomi 5,8% di 2022

Pemerintah selalu mempertimbangkan berbagai faktor secara komprehensif.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Senin, 31 Mei 2021 13:36 WIB
Ini alasan pemerintah patok pertumbuhan ekonomi 5,8% di 2022

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan beberapa alasan pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5%-5,3% di 2021 dan memproyeksikan laju perekonomian 5,2%- 5,8% pada 2022.

Menurutnya, dalam menyusun outlook pertumbuhan ekonomi 2021 dan proyeksi di 2022, pemerintah selalu mempertimbangkan berbagai faktor secara komprehensif, termasuk dinamika aktivitas ekonomi yang terus berkembang baik domestik maupun global. 

"Pemerintah memandang bahwa rentang angka outlook pertumbuhan ekonomi tersebut telah mencerminkan optimisme arah pemulihan ekonomi dan juga potensi akselerasi pertumbuhan ekonomi dari reformasi struktural," katanya dalam Rapat Paripurna DPR, Senin (31/1).

Dia pun mengungkapkan rentang angka proyeksi tersebut, juga secara realistis mencerminkan risiko ketidakpastian yang masih tinggi.

Di lain sisi, optimisme pemerintah didasarkan pada tren pemulihan ekonomi yang semakin kuat. Berbagai leading indicator terus mengalami peningkatan. Indeks keyakinan konsumen sudah pada level optimis (di atas 100). Indeks penjualan ritel terus meningkat. 

Sementara, PMI manufaktur terus mencatat ekspansi dalam enam bulan berturut-turut. Konsumsi listrik industri dan bisnis terus membaik dan telah tumbuh positif. 

Momentum pemulihan ekonomi tersebut diharapkan akan terus berlanjut di 2022. Seiring dengan program vaksinasi massal. Sehingga, diharapkan dapat mengendalikan laju penambahan kasus positif Covid-19 dan mempercepat terwujudnya herd immunity di kuartal I-2022. 

Baginya, reformasi struktural menjadi syarat perlu agar potensi perekonomian nasional dapat dioptimalkan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi pascapandemi. 

Sponsored

Implementasi UU Cipta Kerja beserta aturan turunannya, pembangunan infrastruktur dasar dan digital, peningkatan penguasaan teknologi, peningkatan efisiensi produksi, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja, akan meningkatkan kapasitas produksi dan kinerja perekonomian ke depan.

"Kebijakan reformasi akan meningkatkan investasi, memperbaiki iklim usaha, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas (decent jobs)," ucapnya. 

Adapun, proyeksi pemerintah tentang pertumbuhan ekonomi, cukup sejalan dengan asesmen yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional, seperti Bank Dunia, OECD, ADB, IMF dan Consensus Forecasts. 

Asesmen dari berbagai Lembaga tersebut terhadap perekonomian Indonesia masih bervariasi dalam rentang 4,3%-4,9% untuk outlook pertumbuhan ekonomi 2021 dan 5,0%-5,8% untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi 2022

Berita Lainnya