logo alinea.id logo alinea.id

Investasi: Incar cuan dari saham emiten mini

Hingga 12 Juli 2019, setidaknya 32 perusahaan telah mencatatkan sahamnya di papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Annisa Saumi
Annisa Saumi Sabtu, 13 Jul 2019 02:57 WIB
Investasi: Incar cuan dari saham emiten mini

Hingga 12 Juli 2019, setidaknya 32 perusahaan telah mencatatkan sahamnya di papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) tersebut didominasi oleh perusahaan-perusahaan kecil dan menengah. 

Kepala Riset PT Narada Kapital Kiswoyo Adi Joe memandang tren IPO perusahaan-perusahaan kecil dan menengah tersebut sebagai hal yang baik. Sebab, menurutnya daripada perusahaan mengajukan pinjaman utang bank, lebih baik melakukan IPO untuk menghimpun dana.

"Mereka (perusahaan-perusahaan kecil) yang bisa IPO, manajemennya sudah berubah, pemiliknya mau tak mau harus mengerti pasar modal. Tapi kalau pemiliknya konservatif, mereka tidak akan IPO," ujar Kiswoyo ketika dihubungi, Jumat (12/7).

Kiswoyo mengatakan, jika ingin berinvestasi di perusahaan-perusahaan kecil dan menengah, investor harus mencari perusahaan yang ke depannya bagus dan melihat manajemen perusahaan seperti apa. Kiswoyo tak menampik hal ini memang susah dilakukan, tetapi ia melihat ada beberapa emiten kecil yang menjanjikan.

"Yang baru-baru ini IPO ada PT Envy Technologies Indonesia Tbk. (ENVY). Dua tahun lalu ada PT Kapuas Prima Coal Tbk. (ZINC) dan di 2018 ada PT Dewata Freight International Tbk. (DEAL)," kata Kiswoyo.

Sebagai informasi, ENVY mencatatkan sahamnya pada Senin (8/7). Perusahaan teknologi tersebut membuka penawaran sahamnya pada harga Rp370 per lembar. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/7), saham ENVY ditutup pada level Rp890 per lembar. Artinya, saham ENVY melonjak 140,5% dalam waktu lima hari perdagangan.

Kemudian ZINC yang listing pada 16 Oktober 2017 membuka harga penawaran perdana di level Rp140 per saham. Dikutip dari Bloomberg, saat ini, saham emiten yang bergerak di bidang pertambangan mineral dan perdagangan ini berada pada level Rp462 atau melonjak 230% dari harga pembukaan dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp11,666 triliun.

Sementara, saham DEAL yang melantai di bursa pada 9 September 2018 juga mengalami lonjakan yang cukup tinggi dari harga penawaran Rp150 per saham. Dalam waktu kurang dari setahun setelah IPO, saham emiten yang bergerak di bidang jasa pengurusan transportasi itu melonjak 720%.

Sponsored

Kiswoyo menjelaskan, saham ENVY yang baru saja IPO bisa menarik karena salah satu bisnis mereka unik, yaitu pengembangan toko kelontong. 

"Toko kelontong kan sangat ketinggalan zaman dibanding retail seperti Alfamart dan Indomart. ENVY masuk ke arah toko kelontong ini, dibikin seperti minimarket dari segi IT-nya," ujar Kiswoyo.

Melihat kecenderungan IPO sepanjang tahun yang dilakukan perusahaan kecil dan menengah, Kiswoyo memaklumi perusahaan besar enggan melantai di bursa. 

"Kalau perusahaannya sudah sangat mapan, seperti Teh Botol Sosro, disuruh IPO ya mereka enggak mau. Perusahaan mapan itu kan sudah pasti mereka untung terus, apa gunanya IPO? IPO itu kan berarti saya berbagi keuntungan dengan orang lain, kan begitu," kata Kiswoyo.

Bursa sebelumnya mengabarkan telah menarik minat dari perusahaan besar seperti Sosro dan Kapal Api. Namun, hingga saat ini belum ada kabar kedua perusahaan tersebut akan melakukan IPO.

Selain itu, pada tahun ini, perusahaan media PT Net Visi Media masuk dalam daftar IPO bursa. Namun, dari daftar terbaru BEI pada 8 Juli lalu, nama NET TV keluar dari daftar perusahaan yang akan melakukan IPO.