sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jelang kesepakatan dagang AS-China, IHSG ditutup menguat

Amerika Serikat (AS) dan China akan meneken kesepakatan dagang fase I pada pekan ini.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 14 Jan 2020 16:47 WIB
Jelang kesepakatan dagang AS-China, IHSG ditutup menguat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 29521
Dirawat 18308
Meninggal 1770
Sembuh 9443

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,46% ke level 6.325 pada penutupan perdagangan hari ini (14/1). Tercatat sektor aneka industri dan keuangan menjadi pendorong penguatan IHSG dengan penguatan masing-masing sebesar 2,66% dan 1,13%.

IHSG tercatat melanjutkan tren penguatannya hari ini setelah ditutup menghijau pada perdagangan Senin (13/1) di level 6.296. Head of Research Infovesta Wawan Hendrayana mengatakan penguatan IHSG selama dua hari ini datang dari sentimen penandatanganan perjanjian perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang akan dilakukan dalam pekan ini.

"Penandatanganan fase I, itu sudah ekspektasi beberapa hari ini, makanya IHSG cukup menguat. Tapi kalau berkaca pada sebelum-sebelumnya, kita enggak bisa terlalu berharap pada Trump yang suka berubah-ubah (pendirian)," ujar Wawan ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (14/1).

Wawan menuturkan investor harus bersiap apabila penandatanganan perjanjian fase I ini ditunda, IHSG akan terkoreksi kembali ke level 6.200. Hal tersebut menurut Wawan sangat mungkin terjadi.

Apabila penandatanganan fase I lancar, kata Wawan, IHSG bisa terkoreksi juga akibat aksi profit taking oleh investor.

"Karena investor melihat perjanjian ini masih tahap I saja, masih banyak yang lain, apalagi setelahnya masih ada Pilpres AS. Saya yakin akan ada lagi yang akan dibuat Presiden Trump," tutur Wawan.

Selain sentimen dari luar, Wawan juga melihat adanya January effect yang memengaruhi pergerakan IHSG. January effect yang dimaksudkan Wawan adalah ketika investor mulai melihat-lihat dan membuat analisa bagaimana kinerja emiten-emiten sepanjang tahun 2019.

Dengan January effect tersebut, Wawan mengatakan, saham dengan kinerja fundamental yang baik akan diburu oleh investor.

Sponsored

Wawan pun merekomendasikan saham-saham yang berada di sektor keuangan seperti saham BBCA dan BBRI, serta saham-saham di sektor telekomunikasi seperti TLKM, EXCL, dan ISAT.

"Indosat dan XL sangat baik dan diuntungkan dengan penguatan rupiah. Sebab utang dalam mata uang dolar AS mereka terhitung besar," kata Wawan.

Tercatat, pada 14 Januari ini, seperti dikutip dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), mata uang rupiah makin perkasa dan berada di level 13.654 per dolar AS. Dengan demikian, lanjut Wawan, keuntungan kurs yang akan didapatkan oleh Indosat maupun XL akan besar saat ini.

Berita Lainnya